256MB DDR PC2700 CL2.5 3
Minggu, 31 Jan '10 23:23
Saya rasa Anda sudah puas dengan drama politik ‘ala Indonesia: adegan cicak-buaya dalam kisruh KPK, pemalakan dana penyelematan Bank Century yang melibatkan tokoh semut-gajah, pisah ranjangnya ‘rumah tangga’ hukum: Kepolisian-Kejaksaan-KPK, hantaman partai satu ke partai lain yang sempat membintangi headline berita harian dan mingguan; skandal yang layak jual—lokon-lakon Wiro Sableng 212 kian marak saja akhir-akhir ini.
Tentu Anda jenuh, atau terkadang ketagihan informasi praktek kadalisasi politisi negeri yang laris diobrolkan di warung kopi. Bisa jadi Anda juga merasa ngeri dan miris yang dipoles aroma ‘tak mau tahu’. Tinta hitam-putih dunia Indonesia sudah seburam timbunan kertas puluhan tahun. Layak diliyanglahatkan.
Saya sendiri juga terkadang kelupaan kapan BHP disahkan, yang padahal menjadi isu utama dalam aktifitas kita di pers mahasiswa. Terkadang saya juga ingat, kalau Anda sendiri juga lupa soal pendidikan, yang saat ini sedang membentuk Anda. Sekarang saya teringat, kemarin, sewaktu saya ngopi sendirian, dua mahasiswa sedang ngobrol tentang pendidikan. Mereka mencoba meraba, meramu, dan menjamah teori-fakta seperti memilah dan memilih gundukan batu bata yang tak tertata rapi: mencari solusi, emas batangan di tengah merah bata.
Suara mereka sesekali melengking, sesampainya saya tak memperhatikan mereka. Agak jenuh pastinya menerawang solusi yang lahir dari masalah: ‘anak haram’ yang berusaha dibersihkan dengan alternatif, dan selanjutnya akan menjadi masalah-masalah; rangkaian siklus genetik yang tak pernah terpecahkan. Bukan mencari kebenaran dari sebuah fakta yang timpang, seperti kita di pers mahasiswa yang merasa benar mengudar jalinan misteri embrio masalah. Namun, warna kaca mata kita perlu diganti—ini juga bermasalah—yang tidak sekedar mengurai untuk sampai di hilir solusi, tapi menjajaki dan akhirnya menuai kontruksi-kontruksi. Bukan memahaminya dalam ruang terpisah dari rantai konflik, tapi hubungan kesebangunan yang utuh.
Tentu Anda tidak asing dengan ilustrasi di atas. Yang pasti, butuh ribuan menit meggeser cara berpikir kita beberapa inch dari sekarang yang masih mengendap dan akut. Ini penyakit kronis ke-kita-an. Kemungkinan besar gara-gara mengidap fashion of thought beberapa tahun yang lalu. Salah kaprahnya, ‘buka-tutup’ katup kepala ini digunakan menela’ah pendidikan, yang bisa-bisa membuat kita kesasar kesana-kemari.
Pengembaraan yang menegangkan; sebuah gebrakan variasi pemikiran yang ‘berbunga-bunga’—seuntai kaidah berpikir untuk membedah kontruksi kesebangunan. Salah satunya kita mengenalnya dengan sebutan kekerasan simbolis: gambaran ragam kriminalisasi yang ‘gaib’. Di pendidikan, kekerasan seperti itu dapat kita temukan di banyak sisi. Ujian Nasional, misalnya, kini marak dibicarakan Mahkamah Agung (MA) dan Menteri Pendidikan M. Nuh atas kekerasan pemerintah yang bahkan dirasakan para guru. Biaya pendidikan semakin mahal dengan hadirnya warna-warni sekolah yang berbuntut pada pemahaman teknis. Ketakperpihakan Mahkamah Konstitusi (MK) kepada korban pendidikan juga ikut menyumbang ironi ini.
Ya, sesekali kaca mata itu perlu kita lepas dulu. Kita jeda dulu untuk menengok kanan-kiri. Coba lihat, tepat di kaki kita, di sekitar kita, ketimpangan-ketimpangan dalam pendidikan sudah teramat subur...
Tag: Pendidikan, BHP, Pers, hukum, sosial, media, BLU, pemikiran
Terkait:
-
Keluarkan Jurus Sebelas Jarimu! (03-habis)
Jumat, 16 Okt '09 21:36 -
Nikmatnya Jika Sedang Ereksi
Kamis, 8 Jul '10 04:17 -
DEMOKRATISASI PENDIDIKAN GUNA MEMBANGUN PENGETAHUAN
Selasa, 20 Okt '09 21:49
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Bagus
-
Fandy Lasinrang: Perlu
-
FF Haq: Bagus
-
riwut purdianto: Bagus
-
Como Bacomboy: Bagus
-
Rizki: Bagus
-
Wahyu Eko P: Responsif
Komentar:
Kemaren ade ku tuh dah seneng bgt waktu tak kabarin ngak ada Ujian Nasional....
Sekarang apa yang harus aku lakukan....
*Ancen asem tenan kae wong duwuran.......
Asah terus ujung tombak kita biar tidak gagap disaat yang tepat (untuk menusuk)..
Silahkan login untuk memberikan pendapat