Ibu, manusia agung sepanjang masa. Ataukah? 8

Sabtu, 30 Jan '10 22:56

Senja tadi yang tertutup kepulan asap langit, menggubah posisi malam yang penuh bintang menjadi kemerah-merahan. Penuh dengan polusi. Menambah suasana sunyi dan sedikit rasa penat. Malam minggu yang kelabu bagi ku. Di sebelah ku ada perempuan manis yang terlihat lesu dengan segala beban yang ia tanggung saat ini. Mungkin, ada beberapa orang yang tak perduli dengan apa yang orang lain rasakan atau alami. Tapi tidak bagi ku. Beban yang ia rasakan tertaman tajam di pikiranku.

Namanya Nad, seorang perempuan seperjuangan yang masih kuliah di UNAIR Surabaya, sebaya dengan usiaku 20 tahun. Nad, paras yang biasa-biasa saja bagi ku. Tapi dia cerminan remaja yang aktif dengan segala rentetan organisasi yang ia ikuti. Malam minggu yang kelabu ini, sudah terpampang kusutan kening yang membalut kesedihannya. Perasaan yang sulit diungkapkan dan berkecamuk seakan-akan bisa meledak kapanpun juga. Apa yang ia pikirkan adalah tentang kerinduannya terhadap seorang ibu. Ibunya yang memberikan kehangatan di masa kecil, namun  sekarang, tinggal kekhwatiran dan ketakutan  yang Nad rasakan. Mungkin orang lain akan menilai Nad adalah anak yang durhaka karena tidak tau terima kasih atas segala kebaikan yang ibunya berikan kepadanya. Tapi ini beda, masalah yang kompleks, atau mungkin ada sebagian orang yang pernah juga mengalaminya.

Perbincangan yang sulit bagiku, dia berkata padaku “ aku malas pulang, aku tidak mau bertemu dia, ibuku yang aku rindukan”. Kulihat mata Nad sedikit berkaca-kaca. “Kenapa Nad?” tanyaku. “aku bosan harus bertengkar dengan dia, aku ingin pulang. Aku ingin bersandar dan tidur dipangkuannya. Walau hanya sekali. Tapi itu tidak mungkin. Ibuku berbeda. Sangat pemarah.” Tuturnya. “itu biasa, wajar kalau ibu kamu seperti itu. ibu ku juga begitu, sering memarahi aku”. “aku takut pulang, aku tidak tau lagi harus berbuat apa, ibuku menyuruhku pulang. Apa kamu tau sebabnya? Bukan karena aku. Tapi uang yang harus aku kirim kepadanya. Ibuku sudah berubah. Selalu memarahi aku tanpa sebab. Bahkan ketika marah dengan bapakku, aku juga yang selalu dia marahi. Setiap detik, setiap menit, setiap hari. Aku tidak menginginkan situasi seperti ini. Apa yang bisa aku lakukan? Aku ingin seperti anak biasanya, ketika pulang kerumah mendapat kasih sayang dan manjaan. Aku yang menjadi tumpuan saat dia sedih, saat dia kecewa dengan bapakku yang tidak jelas di negeri  jiran itu. aku mengerti keadaanya. Tapi aku merasa tertekan setiap kali dia marah kepadaku. Aku ingin berlari dari kehidupannya. Aku sudah tidak tahan.” Air matanya kini berhasil menetes. “sudahlah, Nad, kamu mungkin berlebihan memikirkan ibu kamu. Jalani saja, mungkin suatu saat, ibu kamu bisa berubah, mengurangi kemarahannya.” Tuturku “apa yang harus aku lakukan? Kamu tau, sudah delapan tahun lamanya aku tidak mendapat kebahagiaan seutuhnya dari yang namanya keluarga. Buat apa menjalin hubungan kalau hanya menyakiti banyak  pihak. Apalagi seorang anak seperti aku, yang tidak bersalah atas keresahan dan pertengkaran mereka. Mereka yang menanamkan tekanan batin yang aku rasakan. Kenapa orang tua yang aku sayang malah menam kebencian terhadapku.” Tangisnya. “aku juga tidak tau Nad, mungkin mereka merasa tidak perlu peduli dengan perasaan kita. Meskipun sebenarnya kita juga berhak dan layak mendapat perhatian.” Tuturku lagi.

Malam yang semakin larus, kebencian yang kulihat dimata Nad terhadap orang tuanya, serta kerinduan Nad terhadap keharmonisan keluarga yang ia harapkan. Tarikan nafas panjangku yang sedikit sesak memikirkan teman seperjuanganku itu. Tertekan dengan pikirannya sendiri. Aku tidak mampu memberikan argumentasi yang menenangkannya. Seabrek masalah yang sering kali tidak mendapat perhatian dari kita kawan. (atau kalian punya pemikiran yang beda?)

 

Diposting 30 January 2010 pada pukul 22.50 (Elly)

 


Tag: Curhat

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

FF Haq 0 0
Waduh jadi inget sama bunda kalau lagi marahin aku kalau gak Sholat nih....
: (
Tapi tetep aja menggemaskan kalau mengingat bagaimana jika ia berbuat kesalahan dan mencoba menghindar dari ejekan ku...

Oh bunda kau memang cukup hanya 1
: D
Oo Zaki 0 0
Masakan ibu saya yang paling hebat, sumpah. : ) : ) Meski masak sambil marah2 dikit..
ALAS INDONESIA 0 0
Alloh sangat sibuk dengan pekerjaan-Nya, tidak sempat menjaga kita. Maka Alloh menciptakan seseorang yg menggantikan-Nya untuk menjaga dan mencintai kita, dia lah seorang ibu
FF Haq 0 0
Wah kalian ternyata romantis juga ya.....
*walaupun gak patut
: D
Elly LPM Situs 0 0
Hufth....
Adie 0 0
Ibu..?
Great women either in her kind or her angry (advise)
Como Bacomboy 0 0
Ibu..??
: (: (
FF Haq 0 0
Knp mar eleng dikon ndang rampung po?????

Silahkan login untuk memberikan pendapat