Seribu Teriakan untuk Seratus Hari Pemerintahan SBY-Budiono Jilid II 4
Jumat, 29 Jan '10 13:57
Jember, tanggal 28 januari 2010 bertepatan dengan seratus hari kinerja pemerintahan SBY-Budiono jilid II diperingati dengan teriakan tuntutan dan kecaman dari berbagai macam kalangan mahasiswa. Sekitar pukul 09.00 WIB beberapa orang yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Peduli Bangsa yang terdiri dari tiga organ ekstra yaitu IMM, GMNI, dan PMKRI mendatangi gedung DPRD Kota Jember. Dengan berbagai macam atribut yang didominasi oleh gabungan warna merah dan hitam para demonstran terus berorasi. Muncul berbagai macam tuntutan dan kecaman terhadap kinerja pemerintahan sekarang. Para demonstran menganggap perintahan SBY-Budiono jilid II sangat mengecewakan. Terbukti dengan berbagai macam kasus yang masih mengambang tanta penyelesaian. Pemerintah juga dianggap "banci" dan kurang tegas dalam proses penyelesaian kasus besar Negara. Aliansi Mahasiswa Peduli Bangsa yang hanya berjumlah puluhan orang sempat memaksa masuk gedung DPRD Kota Jember yang sudah penuh dengan aparat keamanan yang berjejer rapi di depan pintu masuk gedung. Aksi dorong antara demonstran dan aparat keamanan hanya berlangsung beberapa saat karena aparat keamanan jumlahnya lebih banyak dari pada demonstran. Kondisi mulai mereda setelah ada beberapa perwakilan dari Aliansi Mahasiswa Peduli Bangsa yang diijinkan masuk dan bertemu anggota dewan untuk menyerahkan surat tuntutan mereka.
Tuntutan itu berisi enam poin penting yaitu:
1. Usut tuntas kasus-kasus korupsi di Indonesia
2. Penegakan supremasi hukum
3. Berantas mafia-mafia hokum di Indonesia
4. Lindungi industry kecil dan menengah dari perdagangan bebas
5. Reformasi sistem hokum Indonesia
6. Copot antek-antek Neolib Sri Mulyani dan Budiono
Beberapa perwakilan terus mengawal tuntutan tersebut sampai tuntutan itu masuk ke DPR pusat melalui fax. Setelah memperoleh kepastian, sekitar pukul 10.30 WIB Aliansi Mahasiswa Peduli Bangsa membubarkan diri dengan menyisakan abu kertas poster yang mereka bakar sebelumnya tepat didepan pintu masuk gedung DPRD Kota Jember.
Di luar pagar gedung DPRD, tepatnya di sekitar bundaran DPRD puluhan orang juga berorasi menuntut agar SBY segera mundur. Itu berlangsung tepat pada saat Aliansi Mahasiswa Peduli Bangsa masih menunggu kepastian tuntutan mereka sampai ke DPR Pusat. Puluhan demonstran ini tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Jember. Aksi yang dilakukan sangat unik karena puluhan demonstran berjalan mundur menyusuri Jl. Jawa sampai gedung DPRD kota Jember. Menurut Iwan, salah satu demonstran yang sempat saya temui setelah aksi mengatan bahwa aksi jalan mundur yang mereka lakukan merupakan simbol kemunduran kinerja pemerintahan SBY-Budiono jilid II. Terbukti dengan munculnya permasalahan baru diatas permasalahan lama yang belum selesai. Pemerintah juga dinilai lamban dan tidak ada kebijakan yang istimewa sampai hari ini. Dari sumber yang sama juga diperoleh garis besar tuntutan yang rencananya akan disampaikan kepada DPR Pusat melalui persetujuan DPRD Kota Jember. Tuntutan itu berisi permintaan agar SBY segera mengundurkan diri sebagai Presiden RI karena sudah gagal memimpin bangsa ini. Tuntutan itu menuai banyak penolakan dari berbagai macam fraksi di DPRD kota Jember. Fraksi PDIP dan fraksi partai Demokrat bahkan secara terus terang menolak tuntutan tersebut. Dan pada akhirnya tuntutan tersebut benar-benar gagal memperoleh persetujuan dari DPRD Kota Jember. Sekitar pukul 11.45 WIB, dengan besar hati para demonstran meningglakan gedung DPRD Kota Jember membawa kesimpulan pahit bahwa DPRD Kota Jember sampai saat ini masih belum berpihak kepada rakyat.
Saat berita ini ditulis, gedung DPRD Kota Jember kembali kedatangan puluhan orang yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Ditengan kobaran semangat para aktifis mahasiswa yang masih setia dijalur pergerakan terdapat secuil rasa pilu, prihatin serta cemas dengan kondisi mahasiswa hari ini, khususnya di Kota Jember. Dorongan semangat untuk membongkar barisan petugas bersergam hanya dibalas dengan senyum sinis dari petugas keamanan. Ini mengindikasikan bahwa mahasiswa hari ini masih terlelap dalam ketidakperdulian. Jumlah yang tidak sepadan menjadi kendala utama. Hal itu pasti sudah dipahami jauh-jauh hari sebelum aksi, namun kesadaran untuk menyambung tangan dengan puluhan orang yang berbeda warna mungkin masih tersimpan rapat dalam keangkuhan masa lalu. Puluhan bisa jadi ratusan. Ratusan pun berharap jadi ribuan. Begitu seterusnya.
Rindu akan keselarasan berbagai macam warna yang berjejer rapi layaknya pelangi.
Tulisan ini dibuat tanggal 28 januari 2010, pukul 14.00 WIB
Tag: Seratus hari, pemerintahan SBY
Komentar:
Asli ngeri..
Kamukan.........
Silahkan login untuk memberikan pendapat