PEMBLOKIRAN JALAN WARNAI AKSI MASSA 4
Jumat, 29 Jan '10 06:44
Bertepatan dengan genapnya program 100 hari pemerintahan SBY-Boediono, sejumlah elemen masyarakat, termasuk LSM, dan organisasi mahasiswa menggelar aksi damai di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta (28/1). Mereka menggabungkan diri dalam AMUK YOGYAKARTA (Aliansi Masyarakat Untuk Keadilan Yogyakarta). Sebelumnya aksi massa melakukan longmarch dari Taman Parkir Abubakar Ali Yogyakarta melintasi Jalan Malioboro dan Ahmad Yani menuju perempatan Kantor Pos Besar atau yang lebih dikenal dengan kawasan Nol Kilometer. Massa aksi mulai berkumpul sejak pukul 9.00. Selain di lokasi tersebut, sejumlah massa aksi juga malakukan orasi di depan pintu gerbang Istana Presiden Yogyakarta atau Gedung Agung di Jalan Ahmad Yani.
Dalam Orasinya, Edi Susilo, Koordinator Umum AMUK YOGYAKARTA menyatakan, "Pemerintah hari ini adalah kelanjutan pemerintah sebelumnya, baik secara ideologi atau pun secara de jure". Adapun tuntutan dalam aksi damai tersebut, turunkan SBY-BUDIONO, restorasi ekologi di Indonesia, realisasi anggaran 20% untuk pendidikan, penuhi jamkesmas/ jamkesos untuk rakyat miskin, nasionalisasi aset asing, pertambangan asing, dan tolak hutang luar negeri, tegakkan hukum dan HAM; bongkar skandal Bank Centur
y, Markus, dan Lapindo, tegakkan reforma agraria sejati dan segera laksanakan program pembaruan agraria sesuai UUPA, cabut paket undang-undang neoliberalisme (UUBHP, UU migas, UU PMA, UU SDA, Dll.)
Serta menolak pemberangusan serikat buruh, outsourcing dan sistem kontrak,
kriminalisasi petani, nelayan, dan ak
tifis, tambang pasir besi Kulon progo yang merampas hak-hak petani, serta mobil mewah para pejabat.
Lebih lanjut Edi berpendapat, ditilik dari kebijakan-kebijakannya, pemerintahan sekarang adalah pemerintahan yang secara mendalam patuh dengan model pembangunan yang bertumpu pada resep-resep kapitalisme atau neoliberalisme. Kaitannya dengan kasus Bank Century, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Yogyakarta dalam rilis persnya menyatakan, tidak segera ditemuinya titik terang, merupakan bukti ketidakseriusan pmerintahan SBY-Boediono dalam memperbaiki kondisi bangsa yang su
dah mulai tercerabut dari akar kemanusiaannya.
Aksi damai ini juga sempat melakukan pemblokiran sementara dan membakar spanduk di tengah jalan. Kejadian ini hampir memicu bentrok antara massa aksi dengan polisi karena terhambatnya arus lalu lintas. Tidak berselang lama dari itu pada pukul 13.00 massa aksi membubarkan diri dengan tertib.
(H Tamrin/ PENDAPA/ PPMI DK JOGJA)
Tag: aksi, blokir, 100 hr sby
Terkait:
-
Meski Dihadang Polisi, Aksi Tolak Semen Tetap Berjalan
Selasa, 27 Sep '11 09:02 -
aksi AMPK (Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus)
Minggu, 31 Okt '10 16:43 -
PRESS RELEASE AKSI KELUARGA BESAR MAHASISWA UAD DI POLRES BANTUL
Rabu, 1 Sep '10 09:44
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Como Bacomboy: Responsif
-
Rizki: Responsif
-
Oo Zaki: Penting
-
kailila: Bagus
-
FF Haq: Penting
-
Fandy Lasinrang: Perlu
Komentar:
mungkin bukan butuh telinga lebih, tapi harusnya mereka pergi ke THT and minta alat bantu pendengaran karena berapa-pun telinga yang mereka miliki tetep wae kopoen....
Mesti diresii nganggo fakumkliner kuwi....
30 kota, SBY masih belum menganggap itu sebagai suara tuhan? Keterlaluan!
Silahkan login untuk memberikan pendapat