Aksi massa di Surabaya 100 hari SBY-Boediono 3
Jumat, 29 Jan '10 21:49
Tanggal 28 januari 2010, pada pukul 09.00 WIB, tepatnya di Monumen kapal Selam Surabaya menjadi titik awal massa bergerak dalam 100 hari SBY-Boediono menuju titik utama. Terjadi aksi yang dilakukan oleh massa dari berbagai lembaga masyarakat dan mahasiswa. Terdapat dua tempat utama yang menjadi sasaran massa, DPRD Surabaya dan Gedung Negara Grahadi Surabaya di jalan Gubernur Suryo. Ada juga dari golongan mahasiswa yang lebih memilih untuk aksi sendiri-sendiri seperti GMNI, AMS (Aliansi mahasiswa Surabaya) seperti JMS, KPTS, dan FMN Surabaya, serta beberapa organisasi mahasiswa lainnya.
Massa yang bergerak ke DPRD Surabaya adalah dari BKLDK (Badan Kordinasi Lembaga Dakwah Kampus) yakni dari UNAIR, ITS, IAIN dan UNMUH Surabaya dan beberapa Organisasi masyarakat lainnya yang diperkirakan mencapai lima ratus massa dengan berbagai ornament spanduk dan banner.
Selain itu, ada juga dari kumpulan Badan Ekslusif Mahasiswa yang terdiri atas BEM UNIAR, BEM UNESA, dan BEM UNMUH yang bergerak kearah bambu Runcing. Salah satu penanggung jawab aksi dari pihak ITS (Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya) yang bernama Ersyad menyatakan adanya aksi ini adalah pernyataan sikap dari identitas bangsa atas gagalnya 100 hari kinerja SBY-Boediono. Ersyad juga menambahkan “15 program kepemerintahan yang gagal, terutama dari aspek pendidikan dan hukum, tidak ada upaya pemberantasan mafia hukum dan peradilan, tersendat-sendatnya kasus Century, padahal SBY memiliki kewenangan yang sah untuk turun tangan dalam pernyelesaian masalah tersebut”. Mereka menuntut agar Boediono dan Sri Mulyani diturunkan sebab mereka lah yang menjadi biang masalah sampai saat ini, serta kepada Menteri Pendidikan Mohammad Nuh, pendidikan harus diratakan baik dari system, kualitas pengajar serta fasilitas.
Sedangkan massa yang menuju Gedung Grahadi Surabaya terdiri dari BRM (Barisan rakyat Melawan) seperti SMI, SKMR, SETAMAN, SEGAMAN, dan SEBUMI. Dari organisasi lain seperti PRD (Partai Rakyat Demokratik). Salah satu aktifis dari Barisan Rakyat Melawan yang bernama Doni mengatakan aksi yang dilakukan adalah wujud dari tuntutan rakyat atas pemerintahan SBY-Boediono yang gagal dalam memimpin negeri. Doni mengatakan “kegagalan rezim SBY-Boediono ini, dibuktikan dengan adanya agenda neolib, pengesahan National Summit, dan lain-lain. Seperti terwujudnya ASEAN-China Free Trade Agreement, dimana adanya perdagangan bebas oleh Cina dengan Indonesia, memiliki dampak yang buruk bagi Rakyat Indonesia khususnya bagi rakyat buruh, yang ujungnya akan ada pemecatan masal dan penutupan pabrik sebab rakyat Indonesia masih kalah kuantitas dan kualitas dari produk Cina. Mereka menuntut adanya reformasi sosialis.
Massa yang menuju Gedung Negara Grahadi berhasil menutup penuh jalan raya Gubernur Suryo yang mengakibatkan kemacetan panjang. Suasana yang panas di Gedung Negara Graahadi Surabaya tak dapat memukul mundur massa yang sedang berorasi. Polisi pun berdatangan untuk siaga mengamankan massa yang ingin berulah, tetapi ternyata massa tidak membuat kericuhan. Saat kedatangan Gubernur Sukarwo didepan massa yang sedang berorasi, seketika semua massa menyayikan lagu dangdut dan menungingkan pantat mereka kearah Gubernur Sukarwo. Ada umpatan dari beberapa massa yang akhirnya memukul mundur Gubernur Sukarwo “Pakde karwo Telek…Pakde Karwo Taek”. Merasa tidak dihiraukan, kemudian Gubernur Sukarwo meninggalkan tempat. Setelah orasi mereka (massa) selesai sekitar setengah tiga sore, massa dapat ditertibkan oleh polisi dengan mobil pickup.
diposting pada 29 januari 2010, pukul 21.30 WIB (Elly)
Tag: Aksi Massa
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Rizki: Responsif
-
Oo Zaki: Penting
-
Adie: Penting
-
FF Haq: Penting
-
Fandy Lasinrang: Perlu
-
Die Key belajar nulis: Penting

Komentar:
salam bimbingannya yuh..
Silahkan login untuk memberikan pendapat