Refleksi Bulan Safar 0
Minggu, 17 Jan '10 21:20
Bulan Safar merupakan bulan di mana Allah menurunkan Kemarahan dan Hukuman ke atas dunia. Banyak kaum yang terdahulu yang tidak percaya kepada Allah dan Rasul telah lenyap pada bulan ini. Sejak zaman dahulu bencana senantiasa diturunkan di bulan Safar. Allah telah menghukum kaum yang tidak beriman seperti kaum ‘Aad dan Tsamud pada bulan ini. Bagi orang Banjar, bulan Safar dianggap sebagai “bulan sial, bulan panas, bulan diturunkannya bala, dan bulan yang harus diwaspadai keberadaannya”. Karena pada bulan ini, segala penyakit, racun, dan hal-hal yang berbau magis memiliki kekuatan yang lebih dibanding pada bulan lainnya. Dalam kalangan masyarakat Banjar kepercayaan atau keyakinan tersebut dipandang memiliki benang merah dengan kearifan lokal (local wisdom). Larangan untuk melakukan aktivitas hajatan di bulan Safar memang tepat, karena di bulan ini kondisi cuaca seringkali tidak bersahabat. Larangan ini juga bisa diposisikan sebagai penumbuh kesadaran tentang keseimbangan hidup. Masyarakat diajarkan ada waktunya untuk bersuka cita, bergembira dan berpesta, serta adakalanya pula harus beristirahat dan bersiap-siap mengahadapi cobaan, derita dan duka cita. Dengan begitu akan tumbuh kesadaran hidup yang lebih hakiki. Barangkali, karena memang banyak kasus atau kejadian yang menimpa orang Banjar dan kebetulan pas di bulan Safar. Sehingga karena seringnya terjadi apa yang ditakuti oleh orang Banjar di atas pada bulan Safar, lalu mereka menjustifikasi bulan Safar sebagai bulan penuh kesialan, marabahaya, dan seterusnya. Akibatnya, dalam perspektif orang Banjar, bulan Safar adalah bulan yang harus diwaspadai dan ditakuti. Pantang bagi mereka untuk melakukan kegiatan-kegiatan penting di bulan Safar, misalnya perkawinan, membangun batajak (rumah), menurunkan kapal, bepergian jauh (madam), memulai usaha (dagang, bercocok tanam), mendulang emas atau intan, dan sebagainya. Sebab, ujung dari semua kegiatan tersebut dalam pemahaman mereka adalah kegagalan dan kesusahan, dan khusus bagi mereka yang mendulang sangat rentan terkena racun atau wisa. Masih teringat oleh kita ketika Negara industri dan Negara berkembang berdebat tajam tentang perubahan iklim di kopenhagen, Denmark pada desember lalu, di kalimantan, Indonesia praktik penebangan hutan, pengerukan batubara dan tambang terus berlangsung. Padahal kerusakan lingkungan adalah penyumbang potensial terhadap terjadinya perubahan iklim, disamping sektor industri yang menghasilkan gas buangan yang merusak lapisan ozon. Pemanasan global asal muasalnya adalah kerusakan lapisan ozon yang dalam bahasa Indonesia sering disebut efek rumah kaca, yaitu suatu lapisan diatas atmosfir. Atmosfir mengandung lapisan ozon yang terbentuk akibat pengaruh sinar ultraviolet matahari terhadap molekul oksigen. Ozon adalah gas beracun yang membahayakan kehidupan, tapi melindungi radiasi dari sinar ultraviolet. Dibanding lima sampai sepuluh tahun yang lalu kita bisa merasakan suhu alam sudah makin panas, daerah pegunungan tidak lagi dingin. Alat penyejuk ruangan (AC) dirumah atau dimobil tak pernah berhenti bekerja, padahal AC seperti juga lemari es, menghasilkan gas buangan yang bisa merusak lapisan ozon. Berapa AC, lemari es di seluruh Indonesia dan berapa pula di seluruh dunia. Belum lagi gas buangan industri, perubahan iklim benar-benar terasa. Sayangnya Negara maju tak mau mengurangi gas buangnya secara signifikan, karena risikonya akan mengurangi aktivitas industri yang ujungnya mengurangi keuntungan. Sementara itu Negara berkembang membiarkan alamnya dikuras untuk dibawa dan diolah di Negara maju. Teriakan seperti apapun kalau sikap Negara berkembang tidak berubah, suhu dunia tidak akan semakin dingin, sementara gunung-gunung es di kutub utara terus mencair. Di papua pun salju abadi di pegunungan cartenz sudah mulai hilang. Permukaan laut terus meninggi dan suhu bumi terasa makin panas. Iklim di dunia berubah, Jeddah, arab Saudi kebanjiran dan arafah pun hujan deras. Negara industri juga punya andil terhadap situasi ini. Kita berteriak agar Negara maju mengurangi gas buangannya, tetapi kita sendiri terus mengekspor kayu kesana. Negara maju berteriak agar Negara berkembang mengurangi penebangan hutan demi mengurangi pemanasan global, tapi mereka menerima kayu bahkan kayu gelap sekalipun dari Negara berkembang. Begitu juga batubara, bijih besi, emas dan bahan tambang lainnya yang juga banyak menyumbangkan kerusakan lingkungan. Pertanyaanya kemudian, berapa keuntungan yang akan didapat dibanding kerugian jangka panjang yang akan dirasakan anak cucu kita?
Terkait:
-
Menilik Peran Pemuda/Mahasiswa Harapan Banua Banjar?
Senin, 22 Feb '10 16:38 -
Transisi Demokrasi dan Pilkada Kalsel 2010.
Sabtu, 20 Feb '10 21:38 -
Renungan Pilkada Kalimantan Selatan
Sabtu, 30 Jan '10 12:24
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Perlu
-
Como Bacomboy: Bagus
-
yusro juga: Penting
-
Rizki: Bagus
-
FF Haq: Bagus
-
Fandy Lasinrang: Perlu

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat