Lagi, Bicara tentang Persma 2
Jumat, 15 Jan '10 04:17
Seolah tidak ada habisnya berbincang soal pers mahasiswa [persma]. Seabrek PR dan beban historis melingkupi eksistensi persma hari ini. Tidak ada yang salah memang. Karena perubahan dan arus zaman memaksa persma untuk tetap terjaga. Jangan sampai terlelap dalam mimpi-mimpi kebebasan dan euforia kemenangan meski pada dasarnya hanya symbol keruntuhan suatu orde. Cukup terlihat jelas warisan orde itu justru hari ini yang menang. Merayakan kekalahan. Hal ini karena kita kehilangan landasan ideologis. Artinya mana yang mestinya diperjuangkan dan mana yang dilawan. Dalam tataran praktis, mungkin kita menangkap objek yang perlu dibela, namun terkadang belum ada kejelian melihat objek itu. Sehingga kita mudah tertipu dan terjebak dalam tiruan kebenaran [simulacra kebenaran] belaka. Inilah zaman simulasi dengan derasnya semangat postmodernisme. Tidak ada kejelasan orientasi dan tujuan. Justru yang tidak jelas itu kini menjadi kejelasan. Terserah anda bersikap apa?
Identitas Kritis dan Orientasi Praktis
Jika dikatakan orientasi yang tak jelas, mungkin bagi yang bersangkutan akan menolaknya. Itu wajar sebagai sikap dasar manusia dengan keberadaannya. Namun tidak ada salahnya mempertanyakan apa yang selama ini kita lakukan? Hidup yang tidak dikaji tak layak disebut kehidupan, demikian kiranya kata filosuf. Ya, hitung-hitung menuju sebuah kelayakan itu. Jadi tak ada perjuangan yang sia-sia. Kecuali jika mudah puas dengan apa yang telah dilakukan, jika demikian pastinya tak ada peradaban manusia sampai hari ini. Oleh karena itu, kita patut berterimakasih kepada madzhab Frankfrut yang menelorkan paradigma [teori] kritis. Meski banyak yang skeptic dengan teori ini. Penulis tidak ingin terjebak dalam polemic itu. Kejanggalan yang terkuak, salah satunya adalah seagaimana kecurigaan Foucault yakni, adanya politik atau kekuasaan dalam dimensi apapun, termasuk dalam pengetahuan dan diskursus. Nah, persma posisi yang tepat soal ini, dimana kedudukan yang strategis dan dinamis dalam ranah akademis dan komunikasi. Persma beruntung hidup dalam dunia intelektual, namun bertanggung jawab lebih berat dari pada pers umum. Tak hanya tanggungjawab sosial [public] tapi juga tanggungjawab moral dan intelektual.
Terlalu berlebihan mungkin, bak ngobrol di warung kopi, apa adanya, spontan, dan sedikit emosional. Begitulah komentar mengalir tanpa hulu-hilir, tanpa muara dan tepian. Begitu pula membincang persma tak ada pangkal dan ujungnya. Secara historis mungkin cukup jelas dalam peran dan orientasinya. Sekali lagi itu dulu. Hari ini tetaplah hari ini. Secara otomatis nilai historis telah sampai pada internalisasi hari ini. Karena hari ini pun akan menjadi sejarah jika dipandang esok hari.
Soal orientasi LPM yang belum terkonsep secara jelas, maka perlu kajian dalam wilayah epistemologis. Salah satu dampaknya adalah terjadinya [ikut] arus wacana fragmented yang terbelah-belah dalam partikel-pertikel kecil yang tidak saling peduli. Egoisme atau atomisasi formasi dalam cara memandang identitas dirinya sendiri maupun LPM yang lain. Gejala ini tampak jelas ketika, LPM memandang LPM lain begitu berjarak dan anti-sosial; contoh lain fenomena mutlak back to campus. Terkikisnya kesadaran solidaritas dan toleransi dalam praktik hubungan satu dengan yang lain ini menjadi gejala nyata yang harus dihadapi oleh antar-LPM. Gejala lain yang muncul pasca reformasi, polarisasi abis yang menguburkan semangat kekuatan besar dari relasi persma. Maksudnya, terlalu berharap jika semua persma sama, namun tak muluk-muluk jika prinsip ideology sebagai pers mahasiswa diterapkan, sebagai spirit perjuangan dan gerakan media.
Tanpa meninggalkan sistem identifikasi diri persma hendaknya mampu membangkitkan gairah solidaritas dan menguatkan identitasnya sebagai pers mahasiswa, yakni kritis dan evaluatif terhadap kondisi sosial dan sekitarnya. Pers mahasiswa yang terjebak dalam wilayah akademis justru meneguhkan dirinya sebagai menara gading kedua setelah perguruan tinggi ketika lupa tri dharmanya. Tidak salah jika melulu pada orientasi kampus, yang pada dasarnya, sama dengan kontrol sosial [sivitas akademikanya]. Kemudian muncul orientasi pers komunitas yang melayani komunitasnya sendiri. Yang selayaknya pers mahasiswa, melayani komunitas mahasiswa. Mahasiswa di sini berarti identitas ideologis bukan orientasi pasar. Mahasiswa, sekedar menambah, menjadi pemegang tanggungjawab intelektual akademik. Jadi kampus hendaknya berterimakasih pada mahasiswa yang menjalankan fungsi tri dharma perguruan tinggi. Bukan justru mengebirinya, itu saya katakan sepihak, adalah warisan orde baru yang sampai hari ini dipertahankan oleh birokrat kampus untuk menjaga kekuasaannya. Tak heran jika banyak intelektual yang melacurkan keahliannya, menjadi makelar kepentingan, oportunis menghadapi kekuasaan, onani intelektual, atau bahkan menjadi kaum elit atau priyayi cendikiawan. Mirip hasrat kekuasaannya Lacan yang dielaborasi dengan Faucoult. Keinginan berkuasa lebih lama dan tanpa gangguan adalah mimpi manusia tanpa nilai yang punya hasrat menjadi "tuhan" dalam kampus. Menguasai 'yang lain' bahkan meniadakan yang tidak sepaham dengan dirinya. Di sinilah konsep fragmented yang bebas dan liar, mengikuti hasrat manusia tanpa nilai dan moralitas.
Kembali pada persma yang, katanya, mulai kehilangan arah perjuangannya akibat beragam sebab. Soal wacana kritis persma, dan saya kira teman-teman persma menguasai itu. Namun lagi-lagi terjebak pada diskursus yang absurd, tanpa penyelesaian yang tegas. Hendaknya, persma mulai bersikap tegas dalam menghadapi perubahan ini. Tak dapat dipungkiri universalitas dan polaritas membaur tanpa bentuk pada hari ini. Bias. Sehingga orientasi praktis pun menempati posisi utama dalam arah gerak persma. Mirip apa yang dikatakan Gie, "Betapa berat dan sukarnya perjuangan menuju kebenaran. Betapa gigihnya dekaden-dekaden ilmiah bertahan. Dan betapa kita harus memeranginya. Kita dalam bertindak dengan benar memakai segi rasio dan intuisi sedang mereka hanya membakar perasaan lalu pergi begitu saja." Mengkaji persma dan gerakan perubahan lainnya sebagai gerakan intelektual-epistemik.
Gagasan neo-gerakan dan sebagainya yang menggeser peran mahasiswa sebagai determinan penting dalam sebuah perubahan sosial, perlu dikaji lebih dalam. Jangan-jangan ini dampak dari bayang-bayang postmo yang menggejala dewasa ini. Postmo membonceng ketiadaan nilai dalam sebuah cita-cita besar (metanarasi) keadilan, kesejahteraan, kebaikan, dan kebenaran. Semua itu diyakini kematiannya. Arus mainstream yang luar biasa ini menjadi tantangan yang cukup kuat dalam wacana ideologis gerakan mahasiswa. Dan hendaknya, persma tidak ikut arus ini, serta berusaha meng-counter aliran mainstream itu dengan nalar kritis dan analisisnya. Memang cukup sulit, di kala tak ada ruang dan waktu lagi untuk berpikir tentang nilai, tapi yakinlah dengan nalar intuitif dan semangat etis akan menemukan sebuah lubang putih, sebagai oposisi istilah lubah hitam dalam sudut diri manusia [kehidupan], maka dalam kasus ini yakni ranah gerakan dan pemikiran atau lebih dari sekedar jurnalisme kritis.
Dengan kata lain, untuk menemukan lubang itu, perlu adanya rel-rel jelas menuju kejelasan identitas. Bukan berarti persma keluar dari jalur atau melampaui semangat gerakan, namun menghindar dari realitas yang dihadapinya hari ini. Jangan sampai persma tergantung pada lingkungan akademisnya, dimana ia berada, atau tergantung kemajuan rutinitas semata. Jika sudah demikian, maka tak ubahnya tradisi konsumsi yang akhirnya menuju-apa yang disebut Yasraf sebagai-masyarakat fatalistik yang telah kehilangan arah tujuan, dan semata menggantungkan serta menghanyutkan diri di dalam irama produksi dan konsumsi, gaya hidup, dan simulakra tanda.
Maka tidak heran ketika prinsip ideal mahasiswa yang selalu kritis terhadap semua bentuk ketidakadilan, diskriminasi, baik yang dilakukan oleh rezim atau siapapun. Ada nilai-nilai perjuangan yang jelas itu, seperti perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan. Ini jelas dan tidak dapat ditawar-tawar lagi oleh mereka yang mengatakan dirinya sebagai aktivis mahasiswa. Namun realitas berkata lain, zaman transisi dan perubahan, merubah nilai ideal itu. Bahkan tak jarang prinsip itu menjadi bahan ejekan dan tak laku lagi bagi mahasiswa. Padahal prinsip itu dulu sangat sakral dan diyakini kesuciannya. Hari ini prinsip itu menjadi konsumsi murahan, lantas apa yang dibela: kesenangan dan kenikmatan semu yang sifat artificial-praktis. Ya, tak ubahnya budaya pacaran yang dulunya menjadi sangat haram, bahkan mendekat pun dilarang. Hati ini menjadi dilulu dan wajar-wajar saja, bahkan jika tak pacaran dianggap tak gaul atau ketinggalan zaman. Ini kan salah kaprah. Mengapa hal ini terjadi? Jelas dan tak perlu lagi dijelaskan, tinggal bagaimana bersikap. Kuatkan diri internal persma dalam bergerak, tak ada kata berhenti dalam berbenah. Prinsip kritis-evaluatif diterap di berbagai dimensi. Evaluasi sampai mati dan berhenti berarti bunuh diri.
Indikasi yang nampak belakangan, selain fragmentasi dan polarisasi gerakan, juga menimbulkan elitisme gerakan. Gerakan yang mestinya melawan kebangsawanan atau borjuisme subjek ini. Diskriminasi dan dikotomi ini menyebabkan hingga saat ini gerakan mahasiswa terasa sangat utopia dan mimpi belaka. Menjadi elitis atau sok elit justru tidak menjunjung nilai-nilai demokrasi. Merasa bahwa gerakannya sudah besar, persma sudah paling mapan dengan alumni yang kuat, merasa produktif dan aktif berperan dalam banyak hal sehingga memandang remeh dan sepele yang lain.. Huf...
Terkait:
-
“(When we are) in The Circle of Media Effect”
Rabu, 17 Mar '10 00:13 -
“(When we are) in The Circle of Media Effect”
Rabu, 17 Mar '10 00:10 -
Cerita Saya di Hari Pers Nasional…
Jumat, 17 Feb '12 22:15
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
bung hakim: Bagus
-
Oo Zaki: Penting
-
si berang-berang: Perlu
-
Rizki: Penting
-
Fandy Lasinrang: Responsif
-
ikhwan: Penting
-
FF Haq: Penting
Komentar:
Sekarang sudah terbalik, para wartawan tinggal nunggu berita di kantor polisi, trus setor berita ke redaksi. khan memprihatinkan kita semua.
Mudah-mudahan kedepan bisa kita benahi bersama-sama.
viva persma....
logika postmod juga menyoal hal itu bukan? identitas selalu "ada", "hadir", dan lain sebagainya. dan selalu menegasikan "ketiadaan", "absen", dll.
ini yang perlu disoal.
persma, dalam tataran tertentu, menurut pribadi, tidak perlulah menyebut dirinya "persma", karena akan berbahaya (seperti tulisan fath), menegasikan kebenaran lainnya.
walaupun di tataran tertentu pula, persma wajib ada, meski tanpa nama.
kenyataan atau kebenaran-dalam-perspektif tidak melulu melihat identitas sebagai biangnya, dan identitas tidak selalu memunculkan kenyataan.
toh, manusia yang mempetak-petak dirinya sendiri.
persma sebagai perangkat-transformasi-ideologis-pada-masyarak at q kira yang perlu.
tentu penguatannya terserah kita bersama.
Silahkan login untuk memberikan pendapat