Dimana Sumpah‘Sang’ Intelektual 1
Jumat, 15 Jan '10 10:28
Ketika kita mendengar dan merenungi kembali kata-kata yang tertuang dalam sumpah tersebut lalu bertanya pada diri kita sendiri sebagai seorang Mahasiswa benarkah sumpah itu yang tepat kita gema kan di depan ribuan masyarakat pada saat turun ke jalan untuk mengkritsi setiap kbijakan, atau mungkin itu hanya sebuah simbolik Mahasiswa sebagai sang intelektual atau kah hanya sebuah visi dan misi yang hampir sama dengan para pemimpin yang mengkampanyekan diri mereka yang nantinya akan membakar semangat masyarakat agar berpihak pada mereka dan setelah menduduki tampuk jabatan tertinggi seakan-akan kata-kata itu hilang. Realitas yang terjadi sekarang pada mahasiswa di negeri tercinta ini sumpah itu hanyalah sebuah latunan kata-kata yang mengalir dalam sebuah lirik lagu dalam sebuah acara seremonial belaka dan setelah itu hilang dari benak. Apa yng terjadi dengan mahasiswa saat ini dimana Identitas Mahasiswa sebagai social control,agen of change dan man of critis.
Ketika kita melirik kembali dari historis perjalanan pergerakan Mahasiswa1908-1988 yang pada akhirnya mahasiswa dijuluki sebagai bintang Lapangan . Banyak sekali bentuk-bentulk Impelementasi dari makna sebenarnya dari Identitas Mahasiswa yang pastinya juga menjadi salah satu konsekuensi . Mulai dari zaman budi oetomo hingga zaman shoe-Gie, Organisasi boedi otomo (1908)-yang dalam sejarah resmi dianggap sebagai organisasi modern yang pertama yang juga didirikan oleh mahasisa-masiswa Stovia(sekolah kedokteran pada masa Belanda)-dipelopori oleh Soetomo,sukarno dan mahasiswa lain yang memliki rasa nasonalisme yang tinggi terhadap Negara ini yang akhirnya berhasil mengusir para monster Penjajah dari bumi pertiwi Indonesia. Di era orde lama mahasiswa kemabali bergerak lewat bidang politik meskipun sempat ada perbedaan-perbedaan antara golongan namun mereka berhasil menggulingkan Sokarno yang dianggap tak mampu lagi memimpin negeri ini. Orde baru(Orba) sekelompok mahasiswa kembali mengkritisi kebijakan-kebijakan Birokrasi Pemerintah yang tak lagi berpihak pada rakyat seperti dalam kasus pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tahun 1973. Pembangunan ini menurut kelompok Arief Budiman tidak sesuai dengan situasi Indonesia. Bagi mereka ini hanya merupakan proyek ambisius belaka. Akibat "pembangkangan" ini, Arief Budiman dijebloskan ke dalam bui oleh rejim Orba. Kemudian, pada bulan Oktober 1973 para mahasiswa mengadakan aksi ke gedung DPR/MPR menyampaikan "Petisi 24 Oktober" . Isi petisi ini mengkritisi kebijaksanaan pembangunan yang dianggap tidak populis, kebijaksaan pembangunan yang dijalankan pemerintah hanya menguntungkan yang kaya. Walaupun Setelah itu pemerintah sempat mengeluarkan kebijakan yang sangat tidak
berpihak lagi kepada para Aktifis pergerakan yang masih sadar akan fungsi mereka sebagai social control tapi itu bukan menjadikan mahaiswa untuk tidak melnjutkan pergerakan meraka hingga di garis finis,dan akhirnya menggulingkan Soeharto dari tampuk jabatan tertingginya yang di dudukinya selam 32tahun.
Dinamika-dinamika seperti itu lah yang di rindukan oleh masyarakat yang sampai saat ini masih terus berteriak di tindas dan menantikan pembebasan dan Negara yang terus mencoba eksperiment kolonialisme. Bukanya ketika para pemegang kekuasaan birokrasi menyusun kebijakan baru, yang nantinya menyengsarakan rakyat kita terlalu disibukan dengan dinamika pembodohan yang di hiasi dengan komoditi sesaat. Dan ketika di perhadapkan dengan aturan baru yang tak jelas arahnya kita malah santai duduk di salah satu tempat sambil menikmati secangkir kopi semabari di isi celoteh-celoteh yang berputar-putar. Dan berteriak penolakan yang nantinya merugikan masyrakat juga dan dengan ending yang radikal dan anarkis.
Mahasiswa yang nota benenya adalah pencari ilmu,juga mendapatkan berbagai gelar yang menggelegar: agent of change,director of change,creative minority,calon pemimpin bangsa dan sebagainya . Berbagai perubahan besar dalam persimpangan sejarah negri ini, senantiasa menempatkan mahasiswa sebagai dalam posisi terhormat. Di tengah euphoria identitas tersebut, tiba-tiba muncul seberkas kesadaran. Ada peran -peran yang harus dilakukan sebagai konsekuensi logis dan konsekuensi otomotis dari identitas mahasiswa
Konsekuensi pertama adalah aspek akademis. Dalam aspek ini tuntutan peran kita sebagai mahasiswa adlah hanya satu yaitu belajar dan pulang kerumah dengan hasil IPK yang memuaskan kepada orang tua kita.ini sebenarnya merupakan tugas inti mahasiswa karena konsekuensi identitas mahasiswa dalam aspek yang lain, merupakan derivate dari civitas academica harus menjadi insan yang memiliki keunggulan intelektual, karena itu merupakan modal dasar kredibilitas intelektual.
Kedua, aspek organisasional. Tidak semua hal bisa dipelajari didalam kelas dan laboratorium , masih banyak yang bisa kita pelajari diluar kelas , terutama yang hanya bisa dipelajari didalam organisasi. Organisasi kemahasiswaan menyedikan kesempatan untuk pengembangan diri luar biasa dalam berbagai aspek.Misalnya,aspek kepemimpinan, manajemen keorganisasian, human relation, team building dan sebagainya. Organisasi juga sekaligus menjadi laboratorium gratis ajang aplikasi ilmu yang didapat di ruang kuliah
Ketiga, aspek social politik. Mahasiswa merupakan bagian dari rakyat, bahkan ia merupakan rakyat itu sendiri. Mahasiswa jangan sampai menjadi entitas terasing di tengah masyarakatnya sendiri. Kita dituntut untuk melihat,mengetahui, menyadari,dan merasakan kondisi riil masyarakatnya yang hari ini sedang dirudung krisis multi dimensi
Harus kah kita sebagai seorang mahasiswa akan terus berjalan seperti ini
hanya bisa melihat, mendengar. Ataukah setiap langkah dan tindakan yang kita ambil di awali dengan peroses berfikir sehingga melahirkan bentuk Implementasi yang mampu merubah di kita,keluarga masyrakat dan Negara ini kea rah yang lebih baik S.
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Bagus
-
Como Bacomboy: Bagus
-
Ahsan Yunus: Penting
-
Rizki: Bagus
-
FF Haq: Bagus

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat