Bukan Sekedar Obrolan ternyata 7

Kamis, 14 Jan '10 22:31

Perbincangan Hangat ditemani kopi dan Hujan

mereka, sepasang suami istri Wartawan senior
Nama..? tidak usah'lAh..
latar belakang mereka cukup berbeda,

si Suami : besar dan kecil di desa kecil di Flores.
katanya begini; jika pernah menonton Laskar Pelangii, ataupun Denias dmna saat ank2 itu bertelanjang kaki saat sekolah, mnyebrangi sungai2 besar ataupun jalan berpuluh2 kiLo untuk belajar,, itulah sya.
sangat mirip katanya, jd sering ter-ingat msa itu
mnurut cerita, dlu Ia bersekolah tdak prnah beres dari SD nya hingga kuLiah bahkan.
Pria ini, bahkan pernah melempari gedung sekolahnya sendiri dengan batu, gara-gara diskors .
Dasar memang jiwa perantau nya kuat ,sampailah dia di Surabaya.
mengambiL salah satu jurusan di STIKOSA , tapi tidak lulus dengan benar juga.
kemudian dengan bekal "mesin tik" yg jmn skrg sudah tergantikan dengan komputer, Ia mengadu nasib dengan melamar sbg wrtwan koran "SUARA INDONESIA" jadi wartawan bidang olah raga, yah dsitu prjlanan hdup sbg jurnalisnya berawal.

sang Istri : masa kecil dan remajanya, bsa dbilang tipikal gadis desa sejati. Besar di suatu daerah bernama Komplek Wartawan di Banjarmasin, entah knpa dinamai komplek wrtwan kbetulan saya lupa menanyakannya, daerah yang kental suasana kampungnya. seperti gadis desa biasanya , Ia mmpnyai bnyk adik ,ada 5. Di saat ibunya prgi mncari nafkah bertani, dialah yg mngurusi adik2nya. Terkadang kesal jga, krna tdk mmpnyai bnyk wktu untuk diri sndiri, bermain dengan teman sebaya,. pernah suatu hari,, Ia nekat meninggalkan adik2nya dirumah lalu Ia prgi bermain. Alhasil, saat ibundanya pulang, berantakan, adik2nya ter-kocar kacir dilantai. sudah bsa ditebak apa yg terjadi saat si calon wartwati ini pulang kerumah.
Bisa dibilang pendidikannya saat masih SD-KuLiah sngat baik,, smw dilalui dg lncar.
merantaulah Ia ke SUrabAya,, mnempuh pndidikan Diploma di STIKOSA ( dahulu namnya AWS). Lalu untuk pertama kali menjadi seorang wartawati di Surat Kabar Lokal Banjarmasin yaitu, “DINAMIKA BERITA”

Cukup untuk perkenalan tentang dua narasumber saya ini

Saya melihat kesamaan tentang tujuan hidup mereka.Salah satunya adalah dari awal mereka sdah sepakat ingin bergelut di dunia jurnalis. Disini saya belajar arti kata "AMBISI" .kemudian saya terdiam sejenak mengingat perkatan s'org tman ketika saya bertanya:

aq : "oi rek, kon mari kuLiah ngene,, kate dadi opo? gawe opo?"
tmenku : "mboh, sis.. blum kpikiran, liat ae ntar..??!!"
mngkin mulai dr sekaRang saya bisa sedikit mengerti si AMBISI. Kata ini punya esensi kuat, pada kehidupan seseorang seperti dua orang jurnalis yang saya ceritakan, tetapi bisa juga menjdi kata yang seperti angin lalu bagi anak-anak jaman sekarang.

Sang suami kemudian menceritakan kepada saya saat masa-masa sulit datang. Contohnya saja saat mereka berdua kebetulan disodorkan dua pilihan tempat untuk dipindah tugas menjadi kontributor daerah. Dua tempat itu adalah Bali dan Lombok. Dua-duanya sangat asing bgi mereka, tetapi keputusannya adalah Bali. Lalu merantau lagilah mereka.

Begini dia bercerita ;
“ dulu , saya kalau mencari berita tidak kenal siapa-siapa nduk,, pernah saya jalan kira-kira 10 kilo jauhnya untuk sampai ke lokasi berita. Subuh saya sudah jalan kaki dari rumah acara jam 8 pagi, jadi tidak telat saya. Saat itu dia ( istrinya ) sedang hamil muda.

Kembali saya teringat dengan perkataan sendiri saat saya dan teman akn menjalankan tugas kejurnalisan. “ayo,, jalan ini berita bagus!” lalu saya menjawab “aduh, panas , malas gak da yang ngantar ,jalan kan panas. Lain kali saja lah”. DAYA JUANG, oke, saya tidak mempunyainya. Sepertinya saya harus belajar banyak. Mereka pun bercerita lagi tentang pekerjaan mereka, banyak, tapi beberapa saya lupa. Ada satu , si suami suatu kali pernah menulis tentang investasi usaha anak soeharto di Bali ,waktu jaman-jamanya presiden ini bertahata. Tidak usah saya jelaskan tentang tulisannya, yang jelas bikin permasalahan itu. Jadi begini, Ia dipanggil oleh segerombolan orang berbadan besar, kemudian mereka bertanya kenapa menulis seperti ini lalu dengan sedikit mengancamjuga. Kemudian Wartawan ini menjawab dengan gentar :

“ jika anda terjadi dengan saya malam ini juga diluar sudah ada teman-teman saya menunggu. Saya sudah bilang pada mereka, jika saya tidak keluar dalam kurun waktu satu jam mereka sudah siap.” Lalu gerombolan tersebut mengurungkan niatnya, kemudian berlalu begitu saja.

Agak merinding juga mendengarnya, mucul lgi dalam benakku ketika teman-teman Persma mengalami hal yang mirip sepeti ini, tapi lawannya birokrat kampus pastinya. Pada akhirnya juga kita tunduk, memang masih susah untuk kita. Mungkin kata ini “KEBERANIAN” yang mesti saya dan teman-teman tanamkan dalam menunaikan tugas jurnalis selanjutnya.

Mereka juga membicarakan tentang organisasi-organisasi wartawan. Dan mereka bergabung disalah satunya. Saya ingat sang istri pernah bilang : “ah,, yang katanya independent-independen itu gk sepenuhnya independent juga kok,, banyak dari mereka masih menerima “cendera-mata” sehabis meliput.” Oh, begitu ya. Saat ini mungkin saya belum mengerti, nanti sajalah ketika semua indera yang ada ditubuh mengetahuinya. Bergabung dalam persatuan seperti itu juga penting, jadi kita seperti ada wadah ataupun perlindungan sekiranya terjadi apa-apa. “Wartawan jaman sekarang kebanyakan sudah malas-malas, nduk. Kebanyakan hanya mengndalkan press release hanya yang bededikasi kepada kejurnalisannya sajalah yang dapat menghasilkan tulisan yang kuat dan berjiwa” tambahnya. Jadi begitu, ternyata DEDIKASI sangat penting.

Dari perbincangan yang melarutkan saya hampir 2 jam lamanya itu, mengajarkan AMBISI, DAYA JUANG, KEBERANIAN, dan DEDIKASI menurut pandangan dua orang wartawan senior yang namanya tidak dikenal orang ini. Segala Seminar, diskusi, pelatihan, dengan teori-teorinya terasa bukan apa-apa ketika saya memperhatikan mereka bertutur kata. Banyak pesan atupun bisa dibilang petuah dari mereka yang akan saya bawa pada teman-teman saya, mungkin sedikit berguna atu tidak? Atau saya simpan sendiri? Hahaha.

“nduk.. ( saya dipanggil sperti itu sama mereka) coba saja kamu jika punya satpam kampus, sering-sering saja disapa. Sekedar Tanya apa kabar , lalu kamu coba Tanya-tanya tentang kehidupannya. Siapa tau dia punya sesuatu yang dapat kau jadikan tulisan. Semua dapat dijadikan tulisan, tinggal pintar-pintarnya si penulis saja menangkap atau peka terhadap “faktor-X” maksudnya ada sesuatu di balik sesuatu. Tidak usah berawal dari isu-isu berat. Orang sudah bosan membaca tentang politik. Malahan berita menarik bisa kamu dapat waktu kamu nongkrong-nongkrong ,atau bersenda gurau dengan bapak-bapak jual gorengan yang sering kamu beli itu. Untuk membuat sesuatu yang besar kita harus memulai dari yang paling kecil dulu. sering-seringlah membaca. bergaulah dengan banyak orang,
apalagi dengan orang-orang "kecil" karna mereka sering manjadi victimnya victim."

begitulah
yang bisa sya tuliskan dari percakapanku dengan orang-orang yang berdedikasi tetapi luput dari penglihatan kita.
saya beruntung...


Tag: cerita

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Oo Zaki 0 0
Wah, layak dipantau nih.. : ) : )
Kemuning 0 0
kamu memang beruntung sisca civitas..
Oo Zaki itu yang gak pernah beruntung,
haha. X D
Kemuning 0 0
sisca civitas: saya rating perlu karena memang cerita2 seperti ini kita perlukan. bahkan sangat kita perlukan. ; ))
sisca civitas 0 0
iya..
smoga berguna'LAh...
Rizki 0 0
Oo Zaki: ada udang di balik batu : ))
sisi yang selalu ditinggalkan dan dilupakan, menarik....
bung hakim 0 0
saya rating responsif karena softnews seperti ini harus kita beri ruang lebih. kadang di kalangan kampus lebih merespon softnews daripada hardnews nya.
siiiip,

;p
Fandy Lasinrang 0 0
iya...saya setuju! semua harus diberikan ruang. semua potensi bisa dihimpun disini....

Silahkan login untuk memberikan pendapat