Harapan, Kejujuran, dan Nasib Rakyat 0
Senin, 11 Jan '10 05:25
"Tak pernah kumengerti arti kedamaian yang pernah kau janjian
Menanti kejujuran harapkan kepastian
Semoga damai jadi kenyataan
Bila janji-janji yang pernah kau beri
Akan kunikmati
Dalam hidup ini 3 X"
[Gong 2000]
Kedamaian, kejujuran dan kepastian itulah yang ingin disampaikan oleh Achmad Albar dalam lagu "Menanti Kejujuran." Dengan kepastian janji yang direalisasikan bersama kejujuran harapan aku-lirik dapat menikmati kedamaian. Setidaknya itu mewakili bahasa public pada tahun 2010 ini. Suksesi nasional atau Pemilu lalu menjadi tumpuan harapan bagi kehidupan yang lebih baik.
Belum genap 100 hari pemerintah berikrar yang berarti menerima tanggungjawab atas nasib seluruh rakyat dan seisi tanah air ini. Belum genap 100 hari pemerintah berikrar sudah mengalami berbagai gejolak internal di tubuh pemerintah. Kasus Cicak Buaya, legitimasi hukum, korupsi, dan belakangan kasus Century mencuat setelah baunya menyengat dan tercium publik. Ada yang memandang ini preseden buruk bagi nasib bangsa dan rakyat ke depan, namun pihak lain mengatakan: Ah, itu biasa saja terjadi diawal-awal periode.
Bagi media massa, ini menjadi jamuan besar yang mengundang hasrat untuk dinikmati. Benar, media menikmatinya dengan lahap dan bernafsu. Meski ini dipandang sebagai bagian dari proses pendewasaan public dalam menerima informasi atau suguhan media.
Belakangan masyarakat diklaim sudah pintar dengan standar tertentu menyikapi kondisi ini. Padahal masyarakat tidak semuanya mengamati dan mengkaji hal itu. Cukup pintar, karena punya TV, mendengar radio, membacara Koran, atau jenis lainnya atau cukup tahu dari media. Memang masyarakat tidak pernah mengkaji atau sampai terbawa dalam mimpi. Tapi, rasa memang tidak pernah bohong, kata iklan Mie Sedap. Merasa jika ada yang tidak beres. Meski itu tidak rasional dan belum mempunyai bukti yang lengkap.
Sedikit berbeda, rasa, dalam bahasa Jawa, juga dapat bermaksud rumongso, ngrumangsani. Seandainya setiap manusia punya itu. Zawawi Imron dalam pengajian malam mingguan kemarin [09/01] menyampaikan pentingnya ngrumangsani. Anak ngrumangsani dirinya sebagai anak, suami atau istri ngrumangsani. Pemimpin kita ngrumangsani akan tanggungjawabnya, "Ngurmangsani apa yang telah dilakukannya?" ujarnya. Jika demikian maka kasus century akan cepat selesai.
Penyair plus kyai asal Madura ini berharap saling ngrumangsani atas diri yang berarti kejujuran dan keterbukaan, dan kepada orang lain sehingga menciptakan kerukunan dan kedamaian. Ngurmangsani dalam menghadapi kehidupan ini. "karena hidup cuma sekali," tuturnya.
Hidup itu untuk mencapai harapan-harapan. Di awal tahun 2010 ini masyarakat banyak berharap akan kehidupannya lebih baik. Melihat dari hasil survei tingkat harapan publik tahun 2010 yang dilakukan Kompas akhir tahun kemarin [31/12], harapan terbanyak adalah perekonomian membaik dengan prosentase 34,9 %. Kemudian disusul dengan kondisi damai dan aman [27,8 %] dan 12,0 % kesejahteraan masyarakat bertambah. Selanjutnya pemberantasan korupsi dan penegakan hukum lebih baik [11,0 %], pemerintahan lebih baik [6,7 %], tidak tahu/tidak menjawab [0,5 %] dan lainnya [7,0 %].
Jajak pendapat yang sampelnya 747 dengan sampling error sekitar 4% ini sayangnya hanya dilakukan di 10 kota besar di Indonesia. Mungkin akan berbeda jika itu dilakukan di daerah-daerah pinggiran atau pedesaan.
Melihat kondisi hari ini, terutama yang disajikan media massa, harapan masyarakat itu menjadi sebuah ketidakpastian. Seperti kata Achmad Albar di atas "Menanti kejujuran, harapkan kepastian." Kepastian hukum dan transparansi public menjadi indikasi "semoga damai jadi kenyataan."
Saat ini memang 'berharap'tidak dilarang, tapi kenapa menulis buku masih dilarang? Bukannya buku juga salah satu harapan penulis. Seperti pemerintah berharap nasib rakyat benar-benar ditangannya.
Seperti halnya pada tahun 1997, tidak mungkin meminta Soeharto bertanggungjawab ketika waktu itu Soeharto masih single power alias mutlak berkuasa. Logikanya, jelas tidak mungkin itu dilakukan ketika kekuasaan penuh di tangan pemerintah. Seperti kata Lukas Luwarso dalam majalah Pers Mahasiswa Edukasi IAIN Wali Songo [edisi 14/ september 1997], bahwa Orba masih merupakan sesuatu yang amat menjanjikan waktu itu. Sehingga tidak muncul cendikiawan dan intelektual mempersoalkannya. Benarkah orde baru menjanjikan masa itu?
Ketika tahun 1993, terang Lukas, sudah banyak kalangan yang menghendaki kemunduran Soeharto. Tapi dia nekat. Bahkan di kalangan militer sendiri sudah banyak yang tidak setuju kalau Soeharto maju lagi.
"Nah sekarang ini sudah menunjukkan adanya indikasi kekalahan. Kita tinggal menunggu waktu, dia [pemerintah] sudah mulai "aneh-aneh" itu pertanda kemunduran yang jelas," tambah wartawan majalah Forum waktu itu.
Jika sudah banyak yang tidak menaruh harapan dan sudah tidak menjanjikan lagi, kita tinggal menunggu waktu. Sekarang pilih mana kepastian nasib rakyat atau nasib pemerintah?
Tag: janji, harapan publik, nasib rakyat
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Rizki: Penting
-
Como Bacomboy: Bagus
-
Oo Zaki: Penting
-
kailila: Responsif
-
Fandy Lasinrang: Perlu
-
FF Haq: Responsif
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat