Repotnya Ditinggal Gus Dur [2] 2
Minggu, 10 Jan '10 03:37
Gus Dur adalah orang besar dengan pemikiran besar. Pengalaman pendidikan Gus Dur yang panjang sejak di pesantren sampai di Mesir dan Irak merupakan perjalanan yang menarik. Hasil pemikirannya tidak mempertentangkan antara agama dan kondisi multikultur di Indonesia.
Pandangan Gus Dur tentang multikulturalisme ini, menurut Musa Asy'ari, menarik jika diterapkan dalam sistem pendidikan. Tradisi pendidikan pesantren yang seringkali memandang pemikiran keagamaan secara hitam-putih mampu didekonstruksi oleh Gus Dur. Karena Gus Dur telah melampaui formalisme agama, dengan penguasaannya yang kuat dalam ilmu matiq/logika [yang rasional dan filsafati] dan ushul fiqh.
Inilah mengapa, lanjut Musa, dalam sistem pendidikan pesantren yang kurang mengembangkan filsafat memandang hal itu menjadi aneh dan nyeleneh. Bahkan filsafat sering dicurigai sebagai biang kesesatan.
"Berfilsafat itu agar tidak mudah terdistorsi dengan ideologi-ideologi," jelas Guru Besar filsafat UIN Sunan Kalijaga ini.
Ke-nyeneh-an atau ketidakbiasaan [khoriqul 'adah] itu dianggap sebagai benih-benih kesesatan, terutama oleh kelomopok-kelompok radikalisme dan fanatisme sempit Islam.
Menurut Musa, ini lah yang membuat kelompok-kelompok ini menuduh Gus Dur tersesat. Sebenarnya keanehan berpikir Gus Dur ini menjadi biasa ketika mempelajari filsafat dan tidak hanya memutlakkan pendekatan formalisme semata, namun juga lebih mementingkan hal yang substansial, seperti dalam Islam, Gus Dur telah menguasai ushul fiqh dan syariah, maka berarti fauqo [melampaui] fiqih dan syariah. Maka kadang Gus Dur mudah salah dipahami oleh orang awam kebanyakan.
Meluruskan maksud 'tidak bertuhan', menurutnya itu hanya sebagai konsep. Jika demikian tidak mungkin karena konsep adalah definisi-definisi. Dan Tuhan tidak dapat didefinisikan. "Yang ditolak itu konsepnya, bukan Tuhan [yang sebenarnya]," menjawab banyak orang yang beranggapan tentang konsepsi tidak bertuhan.
Tuhan jangan ditaruh di dalam lemari es, akan membeku. Biarlah cair. Berpikir filsafat itu akan memperkuat iman. Karena melawan tuhan itu jelas tidak mungkin. Ia mencontohkan keraguan Nabi Musa tentang wujud Tuhan. "Apa itu salah?" justru setelah dari bukit Tursina ia melawan Fir'aun.
Itu bukti revolusioner; sebuah tindakan melakukan perubahan. Jika hanya dalam pemikiran tidak mendapatkan sanksi moral. Akan terkena sanksi moral itu kalau sudah berbuat. "Mana ada orang berpikir dan merenung menjadi berdosa atau dipenjara?" Meskipun ia merenung membunuh orang, kecuali ia sudah bertindak bergerak melakukan pembunuhan itu. Apakah berdosa menganggap [berpikir konsep tentang] tuhan itu tidak ada? Sebelum ia bertindak, seseorang tidak akan berdosa.
"Menjaga ruang berpikir [kritis] itu berbeda dengan berbuat," pesan Guru besar filsafat yang kini mendirikan Padepokan Musa Asy'ari [PADMA] ini.
Soal nyeleneh dan berpikir fauqo syariah, Munir Mulkhan, mendudukkan Gus Dur dengan Siti Jenar. Nyeleneh-nya Gus Dur itu melawan formalisme agama. Sama dengan Siti Jenar melawan formalisme Walisongo. Gus Dur sekarang melawan formalisme [kekakuan] dari radikalisme dan fanatisme sempit.
Menurut Munir, radikalisme agama ini membahayakan kemanusiaan. "Bahkan rukun Islam itu perlu ditambah satu, yaitu kemanusiaan," kata tokoh Muhammadiyah yang menulis buku Siti Jenar ini.
Soal formalisme, bagi Munir, Islam itu gampang tak perlu konsep-konsep, jika itu hanya akan membatasi keberagamaan Islam sendiri. Beragama Islam jaman Nabi Muhammad itu mudah, kenapa dibikin repot?
"Adanya syariah, fiqih, apalagi tajwid itu kan pasca Nabi wafat?" tanya tokoh Muhammadiyah yang dianggap nyeleneh ini.
Lantas, bagaimana soal sinkretisasi dan kultural dalam Islam terkait dengan pemikiran Gus Dur? Sinkretisme, itu tidak penting. Sesajian, ritual, ajimat, dan sebagainya itu jangan hanya diartikan pada lelaku itu. Jangan hanya berhenti berpikir sampai di situ. "Itu yang jadi masalah, karena berhenti [berpikir]," tandasnya.
Munir justru bertanya, "Dalam agama yang tidak budaya yang mana? Dalam Al-Qur'an yang tidak budaya yang mana?" lebih lanjut ia menjelaskan, tulisan arab itu siapa yang menulis? Kertas siapa membuat? Semua itu buatan manusia. Maka itu berarti produk budaya. Al-Qur'an [yang dilihat] itu buatan manusia. Namun nilai-nilai dan hakekatnya tidak begitu.
Ini adalah gaya pemikiran budaya kritis Gus Dur yang berlandaskan pada penafsiran agama tadi [lima maqosid dalam Islam, fauqo syari'at, dan ilmu mantiq menurut Imam].
"Jarang orang Islam menjadi Islam karena mencari," kata tokoh yang mengaku menjadi Muhammadiyah karena takdir sosial ini.
"Berpikir tentang tuhan tidak akan menjadikan kita menjadi tuhan," kata sang moderator.
Tag: Filsafat, gus dur, musa asy\'ari
Terkait:
-
Repotnya Ditinggal Gus Dur [3]
Minggu, 10 Jan '10 03:41 -
Repotnya Ditinggal Gus Dur [1]
Minggu, 10 Jan '10 03:11 -
Gus Dur in Memorabilia: Oalah Gus-gus…
Kamis, 7 Jan '10 03:21
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Bagus
-
Rizki: Bagus
-
Kemuning: Bagus
-
FF Haq: Bagus
-
Wahyu Eko P: Bagus
Komentar:
- Logika awamnya, berpikir tentang kebaikan itu berpahala satu, akan bertambah dua jika dilakukan perbuatan baik itu. Lalu, jika tidak dilaksanakan sudah mendapat satu pahala. Pun sebaliknya, berpikir kejahatan itu tidak akan diganjar dosa sampai itu dilakukan.
Silahkan login untuk memberikan pendapat