Repotnya Ditinggal Gus Dur [1] 2
Minggu, 10 Jan '10 03:11
Bagaimana masa depan multikulturalisme dan pluralitas di Indonesia yang multi etnik dan agama? Akankah toleransi, kebersamaan, gerakan kebudayaan keagamaan dan kemanusiaan kian meredup? Di tengah zaman yang tidakpastian nilai akibat gempuran pragmatisme, radikalisme agama pun neoliberalisme, dan dominasi kekuasaan kepentingan yang mengikis martabat manusia yang beradab.
Satu ikhtiar menjawab problem kontemporer pasca wafatnya Gus Dur kemarin sore [08/01]. Diiringi kehikmatan hujan perbincangan mengalir, berirama serius filsafat, sesekali berderai gelak tawa di sela-sela diskursus 'tak bertuhan' ini.
Setelah Tak Ada Lagi Gus Dur
"Gus Dur muncul dari titik nol [zero] dan berakhir kembali pada zero," kata M. Imam Aziz, aktivis NU kultural yang mengikuti perjalanan Gus Dur.
Gus Dur pertama kali muncul di publik pada Muktamar NU tahun 1979 di Semarang. Lalu, pada tahun 1982-1983 terjadi perdebatan soal pancasila yang dijadikan asas tunggal oleh orde baru. Dalam perdebatan itu Gus Dur menolaknya. Tidak sepakat dengan pemerintah.
Namun dalam Munas NU di Situbondo tahun 1984 Gus Dur menerimanya. Menurut Imam, ini hanya aksi Gus Dur yang wajar. Gus Dur bukannya tidak konsisten namun pandangan yang menerima pancasila hanya nilai-nilainya semata, bukan pada aspek ideologinya.
Dari sini Gus Dur lantang bersuara. Ada dua alasan yang mendasarinya, pertama, sebagai orang pesantren, ia bersuara dengan dasar penafsiran agama. Penafsiran ini mengacu pada lima qowaid; 1] menjaga agama, 2] menjaga akal sehat, 3] menjaga harta, 4] menjaga martabat, dan 5] menjaga keturunan. Maka salah satunya menelorkan pemikiran tentang pribumisasi Islam.
Pribumisasi Islam ini menurut Bayu Wayono adalah embrio pluralitas, sesuai dengan basic pemikiran Gus Dur itu, maka dikembangkan dalam bidang politik. Dengan ini Gus Dur mencoba menyelesaikan pertentangan relasi agama dan Negara, pada tataran konsepsi politik kenegaraan yang integralistik.
Kemudian, kedua, berangkat dari penafsiran agama yang terimplementasi pada praksis, terutama pada aksi-aksi politis. 'Lelaku' politik Gus Dur ini bermula dengan mengadakan forum dalam bentuk istighosah-istighosah akbar di daerah-daerah. Ini menurut Imam, untuk menciptakan efek atau kesan besar dan banyaknya massa Gus Dur.
Menariknya, Gus Dur tidak pernah menjadikan NU vis a vis dengan Negara. Jadi bukan NU tapi dirinya. Selain itu, aksi ini didukung dengan tulisan-tulisannya di berbagai media massa. Sehingga cara Gus Dur ini berhasil, pertama untuk menjalin empati di berbagai daerah. Artinya Gus Dur menjadi garasi. Dan sikap Gus Dur pun mampu membangkitkan semangat perlawanan terhadap otoritarianisme militer-negara.
Pendeknya, menurut Imam, Gus Dur muncul karena ada pertentangan maka ia melawan otoritarianisme orde baru. Gus Dur mampu menggerakkan kesadaran kolektif masyarakat. Intinya, dalam melakukan aksinya itu, Gus Dur memperkuat basic pewacanaan dan pemikiran. Kedua, mematangkan agenda aksi. Dan ketiga, didorong oleh kepribadian bersih dan kedirian yang kuat. Maka itulah jadinya Gus Dur.
"Tak banyak yang tahu, sampai pada 1997 Gus Dur masih tinggal ngontrak," kata Imam yang dulu pernah menjadi aktifis pers mahasiswa 1980-an. Baru setelah 1998 ia ngurusi masjid yang disampingnya ada rumah di daerah Ciganjur. Di situ ia tinggal.
Hari ini, Imam mengingatkan perlunya reaktualisasi gerakan sosial di tubuh PBNU. Menurutnya, secara tidak langsung oknum PBNU mengiyakan neoliberalisme. Pada saat Gus Dur meninggal NU terpuruk. "Dan itu sangat menyedihkan," sesalnya. Kembali pada kondisi zero.
Hal ini karena Gus Dur memang tidak melakukan regenerasi atau menjaganya. Selama bersama Gus Dur, Imam pernah dua kali tidak sependapat dengannya. Pertama, ketika ia diajak untuk mendirikan partai [PKB] di NU. Kedua, ajakan mendirikan NU tandingan. Kedua ajakan itu ditolaknya.
Bagaimanapun ini tak lepas dari pandangan mikro tentang Gus Dur. Bahwa Gus Dur menurut, Sosiolog Bayu Wahyono, juga manusia yang dalam perjalanannya mengalami rise and fall. Dan masa fall itu terjadi pada pasca dekrit presiden, jelang ia dilengserkan dari kursi presiden.
Setelah itu Gus Dur seperti tenggelam dan kehilangan dirinya sebagai agent [aktivis]. Menurutnya, ia hanya sibuk dengan kekuasaan meski ia tetap bergaya lateral dan merakyat. Peritiwa itu seperti tragedi seorang agent. "Akhirnya, Gus Dur tergelincir juga," tutur Bayu.
Kini, menurut seorang yang mengaku ditakdirkan sebagai abangan ini, masa depan multikulturalisme pasca tiadanya agent yang melawan struktur yang mapan ini belum ada penggantinya.
"Sebagai orang yang pesimis belum ada tokoh yang pemikirannya layak untuk didiskusikan bersama," ujar sosiolog ini. Ya... butuh waktu untuk melahirkan tokoh sekomplit Gus Dur, timpalnya
Peluang kepemimpinan dan ketokohan kharismatik ke depan cukup sulit mengingat berkembangnya pragmatisme belakangan ini. Bahkan menurutnya, di tubuh NU sendiri mengarah pada kepemimpinan ekonomi. Ini implikasi logis karena struktur kolektif [ideologi] menjadi tidak penting di era ini.
Bagaimana kalau kepemimpinan ulul albab, ditakdirkan nggak pak?
Tag: gus dur, refleksi, multikulturalisme
Terkait:
-
Repotnya Ditinggal Gus Dur [3]
Minggu, 10 Jan '10 03:41 -
Repotnya Ditinggal Gus Dur [2]
Minggu, 10 Jan '10 03:37 -
Gus Dur in Memorabilia: Oalah Gus-gus…
Kamis, 7 Jan '10 03:21
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat