Menuju Negeri Impian yang Transparan 5
Sabtu, 9 Jan '10 03:27
"Surga adalah bagunan megah yang tersusun dari kamar-kamar transparan yang dipenuhi oleh sorot cahaya cemerlang dengan taman indah yang membentang tanpa batas", ujar seorang kawan dengan lantang saat menjawab pertanyan yang saya lontarkan tentang deskripsi surga. Saya terdiam sejenak dan membayangkan bentuk surga sesuai dengan deskripsi yang baru saja saya dengar. Secara spontan, saya menjulurkan tangan saya ke dahi kawan tadi layaknya seorang ibu yang menyangsikan jikalau anaknya demam. Saya khawatir ada yang bermasalah dengan dirinya. Ternyata dia baik-baik saja.
Semua orang bebas mendefinisikan istilah dengan bahasanya sendiri. Semua orang juga bebas berpendapat tentang setiap permasalahan yang menghampiri. Kebebasan itu layaknya mimpi yang liar menentukan tema disetiap malamnya. Kesepakatan yang dijalin sebagai simpul-simpul keeratan hubungan dalam tali kehidupan menjadi sangat longgar ketika kebebasan berpikir dan berpendapat mulai dibatasi. Tali temali yang membentuk saringan informasi (sensor) terus menerus menjadi iblis yang menodai kebebasan. Korupsi teologis sangat sering terjadi tanpa kita sadari. Bebijakan yang mengatasnamakan perlindungan moral yang tak beralasan semakin menambah keruh suasana.
Sungguh aneh bangsa ini. Ketika seseorang berpendapat yang sedikit "nyeleneh" sudah dianggap orang jahat yang dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas Negara. Ketika seseorang bertingkah agak serong sedikit, sudah dianggap orang gila. Negara macam apa ini. Kebenaran menjadi sangat sulit dan langka. Kepercayaan semakin sulit diperoleh. Kecurigaan semakin rutin dirasakan. Jika dipikir ulang, kebenaran sebenarnya sangat dekat dengan kita karena kebenaran itu lahir dari pemikiran dan tingkah laku manusia.
Kebenaran tidak selamanya lahir dari yang baik-baik. Orang-orang terlalu sopan untuk mengungkapkan kebenaran. Terkadang saking terlalu suntuknya memikirkan cara yang sopan untuk menyampaikan kebenaran sampai lupa untuk menyampaikan kebenaran itu sendiri. Kebiasaan kita yang mengajarkan demikian. Sadar maupun tidak, keberanian kita sedikit demi sedikit sengaja dilumpuhkan oleh keberadaan tata krama. Bukan bermaksud melenyapkan tata karma dalam tatanan kehidupan, ini hanya sebagai bagian dari kebebasan berpikir saya secara pribadi. Letupan amarah yang muncul ketika menyaksikan ketidakadilan seketika padam tersiram nama besar pelaku. Saat perlawanan kembali tertunda. Dan selamanya akan tertunda sampai semuanya terbunuh oleh penyesalan.
Saya kembali teringat dengan deskripsi kawan saya tentang surga. Deskripsi itu mungkin lebih cocok untuk menjelaskan pengertian Negari impian. Tembok-tembok tebal bangunan sudah terlalu banyak menyimpan rahasia. Sudut-sudut ruangan sidang sudah penuh dengan keputusan sepihak. Kotak suara sudah tidak suci lagi. "Apa yang masih bisa kita banggakan dari Negara ini selain pluralitas?". Saatnya kita bongkar tembok-tembok tebal itu. Kita ganti dengan sekat transparan tanpa rahasia. Sudah saatnya sudut-sudut itu kita urai agar semua keputusan bisa mengalir ke semua pihak. Sudah saatnya pula kotak suara kita cuci dengan bunga agar kesuciannya bisa tercium oleh semua orang.
Omong kosong untuk semua ini.
Tag: indonesia, harapan semu
Terkait:
-
Penguasa kita 'Menang' Lagi
Kamis, 6 Okt '11 08:10 -
Ketika Manusia Mencari Rumus Tuhan
Selasa, 28 Jun '11 06:53 -
Sejenak Ingin Mengasihimu
Minggu, 22 Mei '11 15:32
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Bagus
-
si berang-berang: Perlu
-
Rizki: Bagus
-
kailila: Bagus
-
wo3_l4nD: Bagus
-
Fandy Lasinrang: Bagus
-
FF Haq: Bagus

Komentar:
meskipun saya lebih percaya dengan 'keharusan-yang-tiada'.
negativitas.
sudahlah.
Kalimat terakhir saya serasa lebih bermakna ketika kamu (si berang-berang) menuliskan beberapa kata di atas..
Silahkan login untuk memberikan pendapat