Pseudosophy dalam Wacana Ruang Publik 4

Jumat, 8 Jan '10 07:21

 

 "...Amerigo Bonasera merasakan kepalsuan dalam semua ini, kepalsuan yang belum dipahaminya"[Mario Puzo dalam The Godfather].

Membaca gejala akhir-akhir ini, bukannya kita [sang pembaca] dibikin pintar karena banyaknya informasi dan fenomena yang didapat, tapi makin goblok [bodoh]. Benarkah kita dibodohi? Kita? Lo kale. Dalam perbincangan membaca fenomena [peristiwa apapun] kita selalu dihadapkan pada ketidak-pastian informasi [kejadian], seperti kengambangan nilai kebenaran. Ini mengkin karena kebanjiran informasi yang terus menerus mengalirnya tanda [sign flow] sehingga tidak mampu lagi membedakan antara yang mana benar dan yang salah. Di satu sisi, dirasakan ada sesuatu disembunyikan dari publik, atau kata Puzo, merasakan kepalsuan, tapi belum dipahami. Ada sesuatu yang salah, tapi belum mampu mengungkap kesalahan itu. Mungkin karena sulitnya membongkar sesuatu itu atau sebaliknya lemahnya usaha, karena kita hanya DIAM! Jangan sampai seperti kata Pram, "Wahai pemuda jangan pura-pura bego' dengan keadaan ini!"

Membincangkan ketidakpastian memang cukup sulit, tapi tidak ada salahnya berusaha membongkarnya. Melalui ranah wacana dan teoritis gejala kepalsuan [pseudo] ini cukup menarik, pasalnya jika membaca gejala dalam ranah semiotik, sedangkan ini tentunya menjadi fenomena sosial [bahkan politik]. Fenomena apa atau gejala apa silahkan tentukan sendiri. Banjirnya berita dari realitas media soal Cikeas, Cicak, mafioso, korupsi, kemiskinan, pendidikan, atau bahkan soal kampus; kondisi yang DIAM dan seolah-olah tidak ada apa-apa. Hanya anda yang dapat memilih dan menentukannya.

Menganalogkan rasionalitas Descartes, "aku berpikir maka aku ada" dengan "Aku berbohong maka aku ada" setidaknya cukup tepat mendeskripsikan fenomena yang terjadi dalam ruang public saat ini. Kepalsuan fakta dalam ruang public, bahkan ruang public itu sendiri telah dipalsukan dalam bentuk simulasi ruang publik. Karena pada prinsipnya pseudo-sophy [cinta kepalsuan]. Parahnya, kepalsuan atau manipulasi realita ini mempengaruhi ruang-ruang kesadaran publik [masyarakat]. Tidak ada kebenaran, rekayasa, skandal, konspirasi, kejahatan, korupsi, dan selanjutnya [di]muncul[kan] dalam wajah kebaikan. Tertutup oleh topeng-topeng kealiman, tertutup oleh kerudung kesucian, padahal dibalik tabir-tabir itu ada strategi, distorsi, kepalsuan, kedustaan. Dalam prakteknya, semua topeng membutuhkan ruang untuk menyatakan dirinya sebagai, seolah-olah, baik, alim, benar, normal, tidak ada yang salah, tidak ada apa-apa, semua baik-baik saja. Sebagaimana dalam teater atau drama, hal ini perlu aktor yang menjadi mesin, yang lihai memproduksi tanda-tanda palsu dan citra-citra kamuflase [camouflage image], yang menyembunyikan borok di balik citra suci. Dan hanya aktor yang mahir yang mempunyai keahlian ini, hanya orang pintar yang mampu, orang profesional yang punya skill dan kuasa. Maka dapat dipastikan si aktor ini adalah pengecut, dan melacurkan kemampuannya demi keuntungan pribadinya. Tanpa ia sadari, ia telah memalsukan realita,membohongi publik, melawan takdir tuhan, merubah keniscayaan; bahwa yang salah atau palsu akan kalah, walau hanya sesaat. Tanpa ia sadari, keniscayaan kebenaran akan muncul pada waktu yang tepat, ia hanya mampu menunda kekalahan dengan merayakan kepalsuan.

Komponen lain yang primer dalam proses pemalsuan ruang publik yang menjadikan kesadaran publik tertutup ialah, sebagaimana disebut di atas, pencipta wacana ruang publik, dan  itu adalah media. Jika media berperan dalam proses pemalsuan ini, ia tak ubahnya seperti rumah prostitusi yang memproduksi citra palsu [prostitution of image] ke ruang publik untuk dikonsumsi publik [masyarakat], maka konsumen perlu kehati-hatian dan kejernihan dalam memilih objek/citraan dari ruang publik. Tidak ada salahnya menggugat yang tampak oleh indera, sebab tidak selamanya yang tampak adalah kejujuran dan kebenaran, jangan-jangan itu realita yang disembunyikan penampakan yang sempurna.

Kesempurnaan citraan [kepalsuan total] dalam penampakan di ruang publik [simulasi sosial-politik] membutuhkan dan menggunakan lembaga-lembaga yang terkait; lembaga hukum, pemerintahan, kepolisian, kejaksaan, dan lembaga lainnya. Dengan demikian setelah ruang publik terdistorsi dan termanipulasi dengan rekayasa sedemikian rupa terjadilah kekerasan simbolik [symbolic violence] pada ranah wacana komunikasi sosial dan politik, dan ini berarti lembaga terkait yang punya otoritas [kewenangan atau kekuasaan] untuk membentuk citraan dan realita sesuai dengan selera dan kepentingannya.

celah dan retakan sistem yang menuju ruang publik dimanfaatkan oleh mafia-mafia pseudosophy yang punya kelebihan dan kemampuan [otoritas, modal, akses, dsb] untuk merekayasa realita. Jika demikian benar, maka publik pun dibikin chaos. Seperti halnya dramaturgi, atau cerita detektif yang pelik namun menyuguhkan konflik berselera tinggi. Seperti politik tontonan [politics of spectacle] Antara fakta dan fiksi tidak ada jarak lagi. Tidak ada lagi pemisahan ruang-ruang kesadaran, semua menjadi satu pure image.

Keadaan ini, Baudrillard sebut sebagai realitas kedua. Realita telah didefinisikan oleh bahasa kedua [bukan yang sebenarnya], citra sudah direbut oleh hidden-hegemoni lanjut, makna fakta sudah mati, hilang, menguap atau tertutup oleh-Heidegger menyebut-potret dunia [wolrd picture]. Bahkan menurutnya ini sebuah penjajahan. Penjajahan kesadaran, dalam abad ini, menjadi paradigma pandangan dunia. Potret bermakna citra yang terstruktur [structure image], oleh 'makhluk' produksi manusia yang telah direpresentasikan dan ditentukan sebelumnya. Ia masuk ke wilayah ontology. Dalam proses produksi itu, manusia mendapatkan posisi yang di dalamnya ia dapat menjadi ada tertentu, yang menentukan ukuran dan memberikan pedoman bagi setiap ada. Potret ini sebagai ontologi citra [ontology of image], kata David Michael Levin dalam The Opening of Vision: Nihilism and The Postmodernism Situation [1988]. Keberadaan manusia, ada dalam dunia ini sudah dijajah oleh ada dalam wujud citraan, representasi. Semuanya ada dalam kenyataan yang dianggap the real. Padahal semua itu adalah bentuk artificial dalam simulasi sosial.

Benarkah ini sebuah permainan? Permainan lakon [peran] dan identitas? Jika demikian, hilanglah personalitas dan identitas. Karena identitas dan peran dapat dipalsukan atau dapat ganti-tukarkan. Dalam psikoanalisa, Lacan menyebutnya sebagai skizofrenia. Akhirnya, merunut proses di atas orang yang suka atas pemalsuan [pseudosophy] telah terhinggapi skizofrenia, yang sebenarnya telah mengalami gangguan atau kekacauan identitas dalam dirinya. MARI KITA RAYAKAN KEPALSUAN!

 


Tag: kepalsuan, publik, realita

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

si berang-berang 0 0
kebenaran tidak butuh dibuktikan atau dibenarkan, karena kebenaran akan memperlihatkan dirinya sendiri dengan niscaya. (Paul Natorp)

apa lagi yang diharapkan saat ini selain 'kehadiran'?
entah itu bohong-benar, bahkan baik-buruk?
terkait binerian, kepalsuan juga memiliki sisi ambivalen, bukan?
jangan2 itulah yang 'benar'!
haha.
semua masih problematis, dan media tidak membantu sama sekali menelisiknya.
fath 0 0
kebenaran tidak butuh dibuktikan atau dibenarkan, karena kebenaran akan memperlihatkan dirinya sendiri dengan niscaya. (Paul Natorp)

jika demikian, maka tunggu dan sabar ya...
sang mesian [pasti] akan datang..
menunggu godot...

weh..keburu kiamat cukk..
Rizki 0 0
Menunggu kematian tanpa melakukan apapun sama saja mati.
si berang-berang 0 0
penekanan maksud saya bukan pada menunggunya, tapi kebenarannya..
hahaha

Silahkan login untuk memberikan pendapat