Gus Dur in Memorabilia: Oalah Gus-gus… 2

Kamis, 7 Jan '10 03:21

Adalah Edukasi, sebuah Majalah Mahasiswa Fakultas di IAIN Wali Songo Semarang memuat opini berjudul "Mencari Format Pergerakan Mahasiswa." Saifuddin, penulis opini edisi 14 tahun 1997 ini, menukil pandangan Gus Dur tentang sebuah pergerakan. Saifuddin merespon kondisi represif rezim Orde Baru dengan pendapat Gus Dur.

Yakni, meski dalam kondisi tertekan pun gerakan mahasiswa justru semakin kuat dan besar. Saifuddin mencoba merelevansikan teori Gus Dur ini dengan masa NKK/BKK yang menjadikannya sebagai sebuah tekanan atau masa penjajahan. Dan, hendaknya pergerakan mahasiswa menjadi semakin besar. Politisasi alat negara berupa korporasi negara adalah tekanan yang mestinya dapat 'dimainkan' dengan konsepsi Gus Dur ini. Jika mahasiswa tertekan arus gerakan kian menggumpal. Gus Dur sangat mendukung gerakan mahasiswa yang menuju pada proses demokrasi. Waktu (mungkin sejarah) telah membuktikan konsepsi Gus Dur ini. Saifuddin menulis ini pada tahun 1997, dan tak berapa lama kemudian ledakan itu pun terjadi, akibat tekanan sebuah rezim; reformasi.

Satu lagi, ingatan tentang pamong bangsa ini, yakni soal kepribadiannya yang terbuka-mengutip Cak Nun dalam pandangan cah angon [anak penggembala]; melerai perselisihan dan ngemong siapa saja-ini melekat pada diri Gus Dur. Oleh sebab itu, layak jadi tauladan bagi semua pergerakan mahasiswa untuk menjalin kerjasama dan solidaritas antar organ/lembaga. Dengan demikian, masing-masing organ/lembaga tidak ekslusif dan tertutup, serta pengurusnya menjadi elitis; sok elit atau sombong. Sikap ini yang mestinya dikikis jika sebuah gerakan menjadi 'se-buah' yang masif. Andaikata gerakan telah turun ke bawah [jalur vertikal ke masyarakat], mengapa jalur horizontal kepada sesama organ/lembaga mahasiswa [dan masyarakat] belum bersemai? Meski pada dasarnya perlu disikapi tidak ada struktur vertikal yang membuat hierarki dengan 'yang lain' termasuk masyarakat. Perbedaan adalah kekuatan, perubahan merupakan keniscayaan, dan keberanian adalah kuncinya.

Gus Dur berani bersikap meski dirinya yang harus menanggung resikonya. Gus Dur akan takut jika rakyat dan bangsa ini yang menerima akibatnya. Sekarang, saya tantang pemerintah rugi asalkan rakyat yang tidak rugi. Beranikah pemerintah mencerdaskan rakyat negeri ini. Jika tidak takut, mengapa buku-buku dilarang? Beranikah pemerintah terbuka jika ada yang tidak beres di istana atau di negeri ini. Beranikah nama baik pemerintah tercemar? Jika berani mengapa sampai hari ini pasal-pasal pencemaran nama baik itu masih menjadi amunisi.

Pernahkah Gus Dur menuding dan menuntut balik dalang dibalik penggulingan dirinya dari kursi RI-1 di tengah jalan. Atau memperkarakan sengketa Bulog Gate yang tak rampung-rampung itu?

Beranikah para pejabat dipotong gajinya untuk menaikkan anggaran pendidikan atau memberdayakan rakyat. Beranikah para pejabat ber-laku sederhana layaknya sama manusia. Tidak takutkah pejabat kepanasan naik pit onthel atau bersabar naik angkot menuju kantor dinasnya?

Beliau adalah salah satu pemimpin, yang memahami wejangan Imam Khomeini kepada pemimpin adikuasa untuk belajar filsafat, disandingkan kerendahan sastrawi yang dipelajari dan diwariskan dalam pemikirannya yang melampaui imaji dan rasionalitas.

Kepribadian yang terbuka, inklusif, toleran, humanis, merangkul semua dan membela marginalitas menuju proses demokrasi; rendah diri, menghargai, dan merakyat; itulah Gus Dur, in memorabilia.

 


Tag: Mahasiswa, gus dur, memorabilia

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Rizki 0 0
Gusdur pernah berkata bahwa Jika saya adalah seorang Presiden, takkan ada satu orang, instansi atau pun golongan yang dapat mempengaruhi dan merubah apa yang sudah menjadi keputusan saya, yang say yakin dapat berdampak pada Negara ini, ketika Beliau jadi Presiden, itulah yang dilakukannya
Masih adakah sosok pemimpin tegas macam beliau, semoga ada, semoga...
Oo Zaki 0 0
Rizki: : ) : )

Shakespearl cuma satu, Hemingway tidak akan dilahirkan kembali. Demikian pula dengan Gus Dur, Ia gak mungkin dihadirkan kembali. Kita cuma bisa mewarisi jejak mereka, dalam takawaran yang juga gak utuh.

Silahkan login untuk memberikan pendapat