Buku: Ingatan, Tai, dan Amunisi 4
Rabu, 6 Jan '10 01:09
"Jika ada bagian sejarah yang dicat kelabu dia atas kelabu, inilah bagian itu. Orang-orang dan kejadian-kejadian tampak seperti kebalikan seperti si Schlemihl, seperti bayang-bayang yang kehilangan tubuh," [Karl Marx dalam The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte, 1852]
Judul Buku : Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto
Judul Asli : Pretext for Mass Murder: The September 30 th and Suharto's Coup d'Etat in Indonesia.
Penulis : John Rossa
Penerjemah : Hersri Setiawan
Penerbit : Institute Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra
Penerbit asli : The University of Wisconsin Press, Madison USA. 2006
Cetakan : I, 2008
Tebal : xxiv + 392 hlm.
Ada dua motif John Roosa menulis buku ini. Pertama, rasa perlawanan atas ketidakadilan, dan kedua, pembelaan terhadap keadilan. Terlepas dari perdebatan siapa dalang di balik G-30-S, Roosa hanya tidak puas pembuktian PKI diputuskan sebagai dalang G-30-S dalam sidang Mahkamah Militer Luar Biasa [Mahmilub] 1968.
Menurutnya, para saksi dan kesaksiannya dinilai tidak ajeg, para penuntut dan jaksa memulai persidangan dengan meyakini propaganda Angkatan Darat. Ada kejanggalan dan keanehan, nuraninya mengatakan demikian. Ia tidak sepakat dengan adanya pembunuhan massal. Ia masih ragu; bagaimana mungkin sebegitu banyak orang Indonesia dihujat sebagai iblis?
Merasa ada yang janggal dengan peristiwa itu, Roosa mencoba meneliti lebih jauh klaim Lemhanas bahwa 3.000 anggota PKI sudah mengetahui rencana G-30-S itu, dan ini jelas tidak dapat dibenarkan karena sistem intern partai yang sangat ketat dan rapi, bahkan intelijen kunci Angkatan Darat sekalipun belum tentu tahu. Tuduhan ini menurutnya, jelas mustahil, ditambah dengan pelimpahan kesalahan kepada seluruh anggota PKI, baik yang ngerti atau tidak, terlibat atau tidak, sistem kesalahan kolektif ini tidak dibenarkan oleh hukum manapun.
Yang menarik lagi, yakni, Roosa menemukan esai yang dimuat Majalah Mahasiswa "Gotong Royong" terbit di Berlin Barat edisi Maret tahun 1984 dengan judul "Saya PKI atau Bukan PKI?". Pipit Rochiat, penulis esai ini keberatan dengan kecenderungan bahwa yang tidak anti-PKI, berarti pro-PKI. Roosa sepakat dengan Pipit. Ia menentang pandangan dikotomik: pro dan anti-PKI. Yang tidak mendukung penahanan dan pembunuhan massal, atau simpati politik berarti mendukung PKI. Padahal, sama dengan Pipit, Roosa tidak ingin memilih keduanya.
Di sini terlihat sikap Roosa dalam melakukan penelitian dan menulis buku ini. Namun, Ia masih merasa ada keganjilan dan keanehan itu menjadi keingintahuan yang amat [himmah]. Terlihat dari pemaparan bab I dan II, dimana tidak ada sikap kritis terhadap sumber dan analisa logis sejarah pada masa itu. Lalu, ia mengkritik, "Salah satu keganjilan besar dari kejadian-kejadian 1 Oktober itu ialah bahwa musuh-musuh G-30-S bekerja di sebuah gedung yang berada langsung di depan sebagian besar pasukan G-30-S [hlm. 79]."
Menurut Roosa, barangkali G-30-S memutuskan tidak menetralisir markas Kostrad, karena Kostrad bukanlah instlasi militer utama di Jakarta. Berbeda dengan Kodam Jaya, Kostrad tidak mempunyai pasukan tetap yang diasramakan di dalam atau di sekitar kota. Prajurit-prajurit cadangan Kostrad selalu dipinjam dari Komando-komando Daerah (Kodam). Karena Kostrad hanya pasukan cadangan dan akan mengerahkan batalyon-batalyon jika ditugaskan dalam operasi-operasi tempur tertentu. Meski sebagai sejarawan yang baik, ia tak luput dari sedikit berbau spekulasi. Dan hal ini wajar searah dengan sikap analitik-logis terhadap temuan-temuannya.
Buku ini mirip dengan buku lain yang mengangkat kontroversi sejarah sekitar G-30-S, yakni berkutat pada peran tokoh terkait G-30-S [semisal Aidit, Soejono, Supardjo, Sugama, Supono, Sudisman, dll], atau kedekatannya dengan Soeharto [Latief dan Untung] atau berjaraknya dengan Nasution dan Yani beberapa keganjilan peran Soeharto pada G-30-S, atau kontroversi posisi Sjam, hubungan Amerika dengan Angkatan Darat, semua terangkum dalam bab Kesemrawutan Fakta-fakta.
Tentang dalang di balik G-30-S, Roosa belum menyimpulkan. Ia hanya menulis demikian, "Siapa tepatnya yang membunuh para perwira itu masih belum diketahui. Penuturan rezim Soeharto-bahwa ketujuh perwira itu disiksa dan disayat-sayat oleh massa pendukung PKI yang kegirangan, sementara perempuan-perempuan dari Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) menari-nari telanjang-merupakan rekayasa absurd bikinan para ahli perang urat syaraf," tulis Roosa pada halaman 60.
Barangkali karena buku ini cukup berbobot dibandingkan dengan buku lain yang setema, ya, justru itu yang dikhawatirkan, lantas dilarang. Karena publik semakin pandai "melek buku." Masyarakat tidak akan memilih [apalagi membaca] buku yang provokatif dan penyebar isu-isu gosip, meraka akan memilih bacaan yang jelas, data akurat dan referensi berisi.
Pelarangan ini justru bertolak belakang dengan proses demokrasi. Lantas, apakah menulis sejarah tanpa legitimasi negara akan mengarah proses demokrasi? Dan, akankah kesadaran sejarah nasional terbanggun jika menulis buku sejarah dilarang?
Merawat Ingatan
Kita tentu masih ingat disertasi Katharine E McGregor [2005], bahwa ada tiga upaya rekayasa sejarah oleh Orde Baru. Pertama, sejarah percobaan kudeta 1965. Kedua, de-Soekarnoisasi, dan ketiga, mengangkat citra sejarah militer, yang diantaranya dengan membuat text book PSPB [Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa], penulisan sejarah nasional, dan bahkan merambah ke berbagai aspek kebudayaan, semisal film, seni, dan apapun. Tentang ini Asvi Warman Adam menyebutnya dengan 'Militerisasi Sejarah Indonesia'. Demikian kekuatan ideology apparatus dioperasi masa itu-bahkan mungkin hingga kini.
Barangkali "merawat ingatan" kata empu om persma.com ini lebih sulit dari pada lupa-lupa ingat ala Kuburan. Atau karena memang 'mereka' sengaja lupa sehingga tidak ada perlawanan terhadap lupa. Seperti Milan Kudera dalam The Book of Laughter and Forgetting, Great Britain: Penguin 1980, yang mengisahkan topi kamerad Clementis di kepala Gottwald, pada Februari bersalju tahun 1948.
Mencoba mengingat kembali, pada September 1999, Masyarakat Sejarawan Indonesia mengadakan seminar yang isinya menghimbau agar dilakukannya penelitian kritis pada periode 1965-1966. Maka keluarlah, diantaranya, buku karya Hermawan Sulistyo "Palu Arit di Ladang Tebu; Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan 1965-1966." [KPG, 2000] dan buku Harsutejo, "G-30-S: Sejarah yang Digelapkan." [Hasta Mitra, 2003], atau buku garapan Eros Djarot dkk. Yang berisi file Tabloid Mingguan Detak edisi 29 September - 5 Oktober 1998, ini terkemas dengan judul "Siapa Sebenarnya Soeharto: Fakta dan Kesaksian Para Pelaku Sejarah G-30-S/PKI" terbit pertama Juli, 2006. Buku yang terakhir ini lebih jelas mengejutkan pembaca, membongkar fakta sejarah yang selama ini diyakini ternyata narasi fiksi belaka. Bahkan dalam buku itu pun mengutip hasil penelitian Kathy Kadane, wartawan New State Agency, tentang keterlibatan CIA dalam peristiwa itu. "Tidak disangsikan lagi, Soeharto melakukan pembantaian itu," tandas Kathy.
Dan tentu saja mereka berani secara publik mewartakan, karena kondisi politik pasca kursi Soeharto berpindah tuan. Dan kini rezim kembali berlanjut karena sang tuan telah reinkarnasi; singgasana 'kini.'
Meruwat Ingatan
Guna membasahi ingatan kolektif, kita rekam jejak buku-buku yang dilarang masa Orde Baru. Koran Tempo [03/01] mencatat 14 karya buku karya Pram [Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, Arus Balik, Di Tepi Kali Bekasi, Perburuan, Keluarga Gerilya, Percikan Revolusi, Bukan Pasar Malam, Mereka yang Dilumpuhkan, Cerita dari Blora, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, dan Cerita dari Jakarta]
Ditambah 7 karya Pram dan 2 buku suntingannya yang belum termuat Tempo: Subuh [Balai Pustaka 1950], Tjeritera Tjalon Arang [Balai Pustaka 1957], Sekali Peristiwa di Banten Selatan [DPTK PUT], Panggil Aku Kartini Sadja [jilid I dan II, Nusantara 1962], Hoa Kiau di Indonesia [Nusantara 1962], Sang Pemula [Hasta Mitra 1985], Gadis Pantai [Hasta Mitra 1988], dan buku suntingan Pram; Hikayat Siti Mariah karya Mukti [hasta Mitra 1988] dan buku Memoar Oei Tjoe Tat [penyunting Pram dan Stanley, Hasta Mitra].
Kemudian, Koran Tempo [03/01] juga mencatat buku-buku yang dilarang masa Orde Baru selain karya Pram. Diantaranya;
1. Buku Putih Perjuangan Mahasiswa Indonesia, KM ITB 1979
2. Di Bawah Bendera Revolusi
3. Sum Kuning
4. Indonesia di Bawah Sepatu Lars, karya Sukmasdji I Tjahjojo
5. Menuntut Janji Orde Baru
6. Adik Baru, Cara Menjleaskan Seks kepada Anak
7. Bertarung demi Demokrasi
8. Kasih yang Menyelamatkan
9. Dosa dan Penebusan menurut Islam dan Kristen
10. Serat Darmogandul, karya Ronggowarsito
11. Suluk Gatoloco, karya Ronggowarsito
12. Cina, Jawa, Madura, dalam Konteks Hari, karya Chosni Herlingga
13. Resume Hasil Observasi Peradilan kasus Aceh, karya A.H. Garuda Nusantara
14. Sebuah Mocopat Kebudayaan Indonesia, karya Joebaar Ajoeb
15. Madame Syuga
16. Program Kerja Kristenisasi di Indonesia
17. Sajian Tuntunan Tuhan pada Jaman Akhir, karya Haswir / Suharno
18. Painting in Islam
19. Kristus dalam Injil dan Al-Quran
20. Mujarobat Ampuh, karya H. M. Qori
21. Menyingkap Sosok Misionaris, karya Ibrohim Sulaiman al-Jabhani
22. Primadosa, dan Rakyat Indonesia mengingat Imperium Suharto, karya Wimanjaya K. Liotohe [penerbit Eka Kata Fakta, 1994]
23. Apakah Soeharto Terlibat Peristiwa PKI
24. Bayang-bayang PKI, diterbitkan ISAI
25. Islamic Invasion, karya Robert Morey
26. Peristiwa 27 Juli, diterbitkan oleh ISAI
Selain itu, masih soal buku-buku yang dilarang masa orde baru, Fauzan [2002: 185-187] menambahkan:
1. Indonesia Tragedy
2. Hubungan Soeharto dan Kup Untung: Sebuah Mata Rantai yang Hilang, karya WF. Wertheim
3. Hari-hari Terakhir Soeharto, karya Ben Anderson
4. Soeharto's Indonesia, karya Hamish McDonald
5. Menggugat Pemerintahan Otoriter: Kumpulan Pembelaan Ketua Umum DM-ITS, Sekretaris Umum DM-ITS, diterbitkan oleh Forum Pembelaan Mahasiswa Indonesia [FPMI] Surabaya
6. Lima Zaman: Perwujudan Integrasi Wajar, karya Siauw Giok Tjhan [1981]
7. Dari Jenggawahke Siria-ria, karya Ibrahim G. Zakir diterbitkan oleh Badan Kerjasama Pembelaan Mahasiswa Indonesia [BKS-PMI] 1980
8. Militer dan Politik di Indonesia, karya Harol Crouch diterbitkan oleh Sinar Harapan 1986
9. Menuntut Janji Orde Baru, karya HR. Darsono
10. Sejarah Politik Orde Baru, karya Richard Robinson diterbitkan oleh Lembaga Studi Indonesia
11. Indonesie: De Waarheid Omrent 1965. Soeharto Staat Terecht, diterbitkan oleh Stihting Indoneisa Media 1985
12. Indonesia: The Rise of Capital, karya Richard Robinson [Sydney: Allen and unwin, 1986]
13. Siapa Sesungguhnya yang Melakukan Kudeta terhadap Pemerintah Presiden Soekarno, karya Y. Pohan diterbitkan oleh Stihting Indoneisa Media
14. Gerakan Demi Hak-hak Azasi Manusia dan Demokrasi, diterbitkan oleh Demi Demokrasi
15. The Devious Dalang: Soekarno and the Untung Putsch Eyewitness Report, karya Bambang Widjanarko, 1974
16. Demokrasi dan Keyakinan Beragama Diadili, karya A.M. Fatwa [1985]
dan lainnya yang belum tercatat
Sebetulnya,kalau diamati hampir kebanyakan bermuatan politis. Mengutip dari konsideran Surat Keputusan Jaksa Agung No. KEP-081/J.A/8/1998, diantaranya yakni bertentangan dengan TAP MPRS/ No. XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran PKI, Pernyataan sebagai Organisasi Terlarang di seluruh Wilayah Negera Republik Indonesia bagi PKI dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme Jo Pasal 3 Tap MPR No. V/MPR/1973 tentang peninjauan Produk-produk yang berupa ketetapan MPRS RI Jo pasal 1 TAP MPR No. IX / MPR/1978, dan pasal 1 UU no. 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum. Merunut hingga hari ini, 5 buku yang dilarang oleh Kejaksaan Agung, benarkah membuktikan Orde baru benar-benar me-rezim? Dari rezim warisan kolonial diadopsi mentah-mentah rezim [katanya] pasca-reformasi ini.
***
Sayang, buku yang pernah terpilih 3 buku terbaik di bidang ilmu-ilmu sosial dalam International Convention of Asian Scholars [2007] Kuala Lumpur ini dilarang oleh Kejaksaan Agung sekarang padahal buku ini termasuk ilmiah karena hasil penelitian yang tidak main-main. Akan lebih demokratis jika banyak kalangan membaca buku ini dan kembali mendiskusikan dan mengkritisnya. Sayang...
Padahal, buku ini berbeda dengan buku yang bertema sejenisnya. Terkait uraian kedekatan dengan tokoh-tokoh kunci dilihat jauh ke belakang track record-nya hingga terjalin simpul benang merah yang kentara. Selain itu, Roosa mempu meramu arsip-arsip penting dari dalam dan luar negeri baik resmi dari kedubes, kementrian luar negeri Amerikan dan Kanda, CIA, dari Aljazair, Cina, Soviet, Pyongyang, dan maupun sumber lisan [wawancara] dengan beberapa narasumber menuju peran kunci, atau pun analisa dari intern PKI semisal tentang karakter dan kondisi PKI dari analisa Iskandar Subekti dan Koran Harian Rakjat. Tak luput dari cover both side, buku ini juga memuat beberapa pledoi dan kesaksian aktor yang diduga terkait, pun buku-buku versi Angkatan Darat [Soeharto] dan beberapa kesaksian [Sjam 1967, Soepardjo 1966].
Akhirnya, Roosa searah dengan keluh Frances Galbraith, mantan pejabat Kedubes Amerika di Jakarta pada masa G-30-S itu, "Hampir setiap hari kami mendengar desas-desus dan menerima laporan tentang akan adanya semacam kup [coup], dan ini terjadi semacam banjir sehingga sangat sulit memisahkan kebenaran dari fiksi, dan sebagian besar daripadanya memang fiksi." [dikutip dari endnote hlm. 196]. Kiranya demikian deskripsi buku ini.
Buku adalah milik publik, dan sidang pembaca yang akan memilih dan menilainya, laiknya seorang pejabat publik yang semestinya melayani publiknya. Jangan sampai benar kata Halim HD, dalam Biennale Jogja X, negeri ini menjadi "Republik yang tanpa publik."
Dan, orang kecil yang nongkrong di kedai kopi hanya mampu bilang jangan kotori lagi ruang 'baca' [re]publik ini dengan tai dan amunisi. Maklum orang kecil tak punya amunisi, maka hanya tai yang dipunya. Karena hanya itu yang mampu diingat semua orang, bahkan kita lupa bahwa amunisi dapat berupa apapun, termasuk tai...
Nb. Schlemihl ; makhluk imaji, tubuhnya tidak memantulkan bayangan karena ia menjual bayangannya kepada setan. Schlemihl merupakan karakter utama dalam The Wonder History of Peter Schlemihl (1813) karya Adelbert Von Chamisso (1781-1838)
Tag: Sejarah, politik, Buku, pelarangan buku
Terkait:
-
Sejarah yang Menjadi ’Biasa’
Jumat, 25 Jun '10 10:28 -
Soetadji, Korban Stigmatisasi PKI : Perjuangan Melawan Lupa
Kamis, 16 Jun '11 01:37 -
Fundamentalisme Agama dan Imperialisme – Bersekutu atau Berseteru?
Selasa, 3 Mei '11 15:39
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Penting
-
Kemuning: Penting
-
Como Bacomboy: Penting
-
Rizki: Penting
-
Fandy Lasinrang: Perlu
-
fu'ah DIMENSI: Penting
-
FF Haq: Penting
-
muhammadhariyanto: Perlu
-
ketoles ARBIMAPALA: Penting
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat