Dari Biennale Ngjumming ke Kampus 3
Selasa, 5 Jan '10 03:55
Belakangan ini orang menggerutu karena monoton dan tegang dengan 'kekerasan simbolik, soft crime, kejahatan negara atau apalah namanya,' maka tidak demikian di Jogja. Selama sebulan pada pergantian tahun ini Jogja terasa berbeda, aksi POM [Public on the Move] oleh Biennale Jogja X mewarnai atmosfer publik.
Aksi POM dengan karya yang terpajang dan menyasar ruang publik ini merupakan sebuah ikhtiar untuk membangun kehidupan yang lebih baik dan kebudayaan berproses tiada henti; proses sosial. Jogja dibasuh dengan kesenia; merupa kota, menebar seni dan inspirasi. Selurus kata Direktur Biennale Jogja X, Butet, "... menciptakan keriuhan kultural secara bersama-sama dengan penuh improvisasi." Mungkin inilah jumming sesungguhnya, sebagaimana tema; JOGJA JUMMING ini, diikuti oleh 126 seniman perupa dan 6 kelompok seni di 4 gedung dan 197 karya orang/komunitas di ruang publik. Karya berupa instalasi, mural kampung, street art, melukis tanki air, seni rupa tradisional sesepuh, performance, art project, respon kios PKL, melukis toilet mobile, patung public, banner, billboard, dan videotronik.
Harapannya, seni mampu menggerakkan partisipasi publik, seni tidak menjadi elitis yang dikonsumsi oleh sebagian kecil masyarakat, namun menjadi sebuah tindakan kebudayaan. "Singgah di hati masyarakat, kembali kepada habitat aslinya," kata 'SBY' dalam sambutan pembukaan hajatan dua tahunan ini.
Konsep jumming [biennalejogja.com] yang berbeda dengan sebelumnya ini mengingatkan kita pada perlawanan untuk tampil tidak berjarak dengan rakyat. Bak karnaval, riuh dan riang menyatu dengan kehangatan kota separuh desa ini. Atau mirip dengan pesta rakyat; pesta seni yang bukan pasar seni.
Konon, di era pertengahan Eropa, para petani menaruh hormat dan bersimpuh ketika benda-benda seni religius diarak di jalanan kota. Ada semacam kesakralan terhadap benda-benda seni itu. Meski pada masa itu, seperti ada aura Yesus atau bunda Maria yang mereka anggap menjadi tradisi. Tradisi organik auratik. Karena itu Benjamin menyebut kondisi modern sebagai seni post-auratic.
Maka, Biennale mencoba mengembalikan 'habitat aslinya' yang bermartabat dan memperlakukan dengan senonoh. Agar tidak menjadi barang 'komoditi', agar menjadi- Goenawan Mohamad menyebutnya dengan-"harta oligarki dengan kualitas kwasi-auratik" maka perlu tindakan sosialisasi simbol dan citarasa ke tengah-tengah kehidupan, keseharian. Padahal seni tidak menuntut apa-apa, bahkan kata Stalin pun; "Sebuah lukisan harus hidup dan dapat dipahami." Yang jelas, seni bukan hanya benda mati. Tapi konstruksi perlawanan dari hati.
Halim HD bahkan menyebut Biennale Jogja X ini dengan gerakan gerilya kesenian agar kota tidak tidur dan puas dengan pendapatan daerah. Maka, ada baiknya jika para seniman mengkudeta ruang publik. Seperti revolusi seni terhadap realitas atas realisme. Bukan bermaksud menghilangkan batas antara seni dengan yang bukan, seperti usaha gerakan Fluxus, namun menyuguhkan hasil sentuhan dan pencerapan dengan berbagi kepada cita-rasa dan selera publik; yang tanpa dominasi dan kekerasan. Karena karya seni tak membutuhkan pengakuan, mungkin hanya cukup senyuman.
Menyuguhkan, menyerahkan kepada publik; "sebagai sebuah perjumpaan 'rendezvous'," kata Duchamp. Siapa saja boleh menyapanya, menikmatinya, dan menyetubuhinya, terserah anda.
Terserah, lalu belum genap seminggu, 2 karya [milik Agustioko dan Ronnie Lampah "Like Star on the Sky" dan karya pematung Yulhendri "Ada di Antaranya"] diamankan oleh Satpol PP karena dianggap meresahkan, ada pula yang mengkritik agar jangan terjebak stagnasi dan dominasi senior, sebagai tantangan seni rupa publik-outdoor dengan heterogenitas sosial, lingkungan arsitektural, karateristik kultural [Supriyono, dalam Kompas edisi 31 Desember 2009].
Akhirnya, tak hanya seni, yang jumming dari ruang 'galeri' sepi, pun mahasiswa dari ruang 'dingin' kampus yang hampir membeku, harus jumming aksi turba [turun ke bawah] ke ruang publik yang dekat dengan rakyat. Menyatu, bersetubuh dengan publik dan segala problemanya.
Tag: kampus, jogja jumming
Terkait:
-
Krisis Kritis
Jumat, 28 Okt '11 18:10 -
Kolaborasi Ramaikan Persma.com Yuk!
Jumat, 19 Agu '11 15:37 -
Belajar = Proses, Bukan Urusan Ponten
Selasa, 9 Agu '11 13:22
Komentar:
Biennale Jogja diadakan dua tahunan kenapa ya? Kok gak setahun sekali.
Saya kira Bennale Jogja, selain sebagai proses kreatif juga hendak mengatakan itu.
Bukan begitu fath?
Silahkan login untuk memberikan pendapat