Akhir Tahun, Tidak Ada yang Pantas Dirayakan 1
Kamis, 31 Des '09 05:48
Kematian memang selalu mengagetkan dari belakang, dan tidak pernah datang tepat waktu. Hal itu akan tetap berlaku meskipun antara kematian, kehidupan--dan kita-sama akrabnya. Sama-sama dekat. Hidup dan mati mengintai secara bersamaan.
Malam itu, di sela-sela gerimis yang turun perlahan, kami bicara tentang kematian, dengan kawanku itu. Dia bercerita bagaimana nenek tersayangnya pergi--atau lebih tepat--pulang untuk selama-lamanya. Saat itu, ia dan neneknya berada di kota yang berbeda. Tidak ada ucapan selamat jalan, atau senyum terakhir yang setidaknya jadi sedikit penghibur duka. Duka, pada akhirnya harus ditikam duka. Harus diterima sebagai bagian integral dari pelayaran yang dinamai hidup.
Kepadanya, saya juga bercerita tentang sepupu--sekaligus kawan sejak kecil saya yang juga "pulang" tiba-tiba. Saya terpukul, setengah percaya setengah tidak dalam rentang waktu yang panjang.
Malam itu, kami juga bicara tentang Chico Mendes dan Pramoedya. Kami sama mengakui, duka atas kematian yang kami terima tidak seberapa dibandingkan dengan mereka. Chico kehilangan tujuh saudaranya, Pram kehilangan adiknya, dua jam setelah kematian ibunya.
Dan rakyat, baru saja kehilangan Gusdur. Seseorang, yang bagi banyak warga nahdiyin dianggap setengah nabi. Gusdur yang kocak seperti Abu Nawas, tegas seperti Gandhi. Kita akan membuat daftar sangat panjang, bahkan untuk sekedar mengingat Gusdur yang kompleks itu. Sosok pemimpin yang membuat istana bukan lagi tempat sakral-tempat dewa-dewa menerima titah Tuhan-yang konon haram untuk dilanggar.
Gusdur, sosok yang melaksanakan demokrasi ke dalam wujud paling esensial. Di saat kebanyak kita mengusir warga Ahmadiyah dari rumahnya sendiri, Gusdur lah yang paling lantang membela. Gusdur tidak peduli dengan kemungkinan paling buruk dari apa yang baginya harus dibela. Dan memang, kemungkinan itu terjadi. Ia diusir dari istana, keluar dengan celana pendek, melambaikan tangan, dan tersenyum.
Gusdur pulalah yang membuka ruang kebebasan untuk bicara. Departemen Sosial dan Departeman Penerangan yang banyak menyimpan dosa pembungkaman itu dibubarkan, sebulan setelah menjadi presiden. Seseorang bertanya, kenapa? "Tidak ada beda antara DPR dan taman kanak-kanak," jawabnya. Harus dibubarkan jika lebih banyak bikin onar.
Banyak kalangan mulai terang-terangan membenci Gusdur, tapi tidak--sama sekali--oleh rakyat yang tertindas. Meskipun Gusdur mengaku tidak membeci siapapun. Ia hanya tidak menyukai kekuasaan disalahgunakan, Ia membeci perang dan kekerasan. Ia juga tidak menyukai penjahat dibiarkan berkeliaran. Ia mengunjungi Soeharto ketika sakit, akan tetapi tetap menginginkan peradilan untuk Soeharto, dan hartanya harus disita.
SBY, Kejagung, DPR, kepolisian, terutama MUI, dan semua institusi yang sampai hari ini masih ribut-ribut sendiri itu, belum belajar banyak dari Gusdur.
Bersama kawanku itu, dia bertanya, "kapan terakhir kali kamu menangis?" Waktu itu saya benar-benar lupa kapan terakhir kali mengucurkan air mata. Sekarang saya ingat, saya ingat.
Selamat jalan Gus. Kepergianmu, membuat kesedihan atas segala kekacauan pemerintah menjadi genap sudah.
Akhir tahun, tidak ada yang pantas dirayakan ya.
Karikatur: inilah.com
Terkait:
-
Pribumisasi Islam dalam Neraca
Kamis, 31 Des '09 19:35 -
Kibarkan selalu Bendera Setengah Tiang di bulan Desember
Kamis, 31 Des '09 00:20
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Kemuning: Biasa
-
yusro juga: Bagus
-
Rizki: Bagus
-
Fandy Lasinrang: Penting
-
FF Haq: Bagus
-
Wahyu Eko P: Bagus
-
Kopi Persma: Responsif

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat