2010 Datang, Selamat Menunggu Mati 3

Kamis, 31 Des '09 23:41

Di dalam kereta, kita bisa bisa menemukan ragam representasi kehidupan masyarakat, terutama kelas bawah. Di Indonesia kereta merupakan sarana angkutan yang relatif lebih murah dibandingkan yang lain. Sebab itulah, di dalam kereta, lebih banyak raut gelisah daripada sebaliknya. Masinis tidak pernah tahu apa yang terjadi di setiap gerbong, kita juga tidak pernah ingin tahu apa yang sedang membayangi pikiran seseorang di dekat kita. Sama-sama tidak saling mengganggu, urusan selesai. Harus diakui, corak kebekuan interaksi semacam itulah yang paling sering memayungi kita. Sehingga hidup, ketika direntangkan, selain sebagai panggung adegan cinta dan heroisme, juga dipenuhi dengan catatan ketidakpedulian terhadap apa yang dianggap "berbeda."

Tiba-tiba, siklus waktu, yang kadang bagai gergaji itu, bergerak, menemukan aspek paling lemah dari takdir duniawi. Namun kita tetap saja meniup terompet, sebagian untuk rasa syukur, sebagian lagi, dengan kadar yang jauh lebih besar, untuk sesuatu yang benar-benar tidak kita mengerti.

Kereta tiba, kita bergegas menaikinya, memilih kursi paling tepat dalam katagori dan proporsi-proporsi masing-masing. Kita menadai kursi itu, membedakan dan memprediksi kemungkinan-kemungkinan "jika..." "maka..." Padahal, kita sadari pula, semua kursi itu ternyata tak jauh beda.

Di atas kursi yang terpilih, kita duduk, kemudian mencoba merenungi apa yang sudah kita lalui, sebelum naik kereta, sebelum sampai di stasiun, sebelum mengenakan pakain yang saat ini sedang kita kenakan. Berkali-kali pula kita arahkan pandangan ke luar jendela kereta, melihat bentangan sawah, rumah-rumah yang seringkali kita nilai sangat asing. Lalu tiba-tiba kita ingat Tuhan, tiba-tiba lupa lagi.

Kereta berhenti di semua stasiun, karena kita memang sedang naik kereta ekonomi, diksi lain untuk kereta murahan. Suhunya mulai gerah. Orang-orang, dengan ragam kepentingan lalu lalang di samping kita. Di luar kereta, kita cermati pula, banyak juga orang-orang tak kita kenal sedang menunggu, entah apa.

Kereta, bergerak lagi. Dan kita sadar benar, jika kereta yang kita tumpangi keluar sedikit saja dari rel, maka kereta akan berguling. Kereta, kemungkinan akan terbalik.

Jika rel, adalah personifikasi dari jalan hidup, kereta, adalah kendaraaan-kendaraaan yang kita punyai dalam hidup, dan stasiun, adalah tujuan yang harus kita penuhi, kemanakah sesungguhnya kita akan pergi? setelah stasiun, pasti ada stasiun lagi, dan lagi. Setiap kali sampai, kita selalu menyusun lagi tujuan yang lain. Sehingga setiap perjalanan, kemudian menjadi barisan seremonial belaka. Hidup, ternyata hanya sekedar menunggu mati, kata Chairil.

Lalu dimana, kemanakah tujuan hidup sesungguhnya selain pada perjalan hidup itu sendiri?

Terompet beberapa menit lagi akan dibunyikan. terompet adalah sinyal untuk bergerak ke medan perang, adalah peperangan dan kematian yang sudah sama-sama kita kenali.

Di sini, nihilisme kemudian menjadi mungkin, juga di Wonokromo.

2010 datang, selamat menunggu mati.


Tag: 2010, Nihilisme

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Kyo 1 suka | 0
"Di dalam kereta, kita bisa bisa menemukan ragam representasi kehidupan masyarakat, terutama kelas bawah."

menurutku gak juga zak...
tempat yang paling bisa membedakan kasta seseorang itu adalah rumah sakit.... bahkan menggunakan ASKES sekalipun, perbedaan "daya beli kesehatan" masih tetap terlihat.
misalnya:
masyarakat menengah ke bawah masuk posyandu; dapatkan obat bersubsidi (kadang gratisan); kalo si obat gagal, bisa langsung kirim ke kamar mayat (plus biaya ambulans kalo pasien gak punya mobil). Kalo menengah ke atas masuk rumah sakit level internasional. bahkan kalo perlu, naik pesawat ke luar negeri hanya untuk menyembuhkan penyakit encok...
Oo Zaki 1 suka | 0
Kyo: Saya memang bicara tentang representasi kelas bawah yang sulit sekali melakukan mobilitas vertikal. Kondisi tersebut memberikan lebih besar kemungkinan pada mereka untuk melihat hidup sebagai sesuatu yang nihil. Tujuan mereka pada akhirnya tidak lebih dari melanjutkan hidup semata. "Pelayaran" itu sendiri. Sok filsofis sih. RS sebagai representasi ada benarnya juga, namun memiliki lokus yang berbeda. Rumah sakit lebih tepat jika dikatakan sebagai bentuk barbarisme modernitas, kejahatan-kejahatan yang sudah dimodifikasi dan mendapat legitimasi dari kekuasaan sehingga terkesan tak nampak. Sendangkan kereta, lebih dideteksi sebagai problem eksistensial.

Nietzsche kemudian memberii alternatif penyelesaian, yakni dengan nihilisme aktif. Namun nihilisme aktif ternyata juga bukan jawaban final. Apalagi di dalam dirinya mengandung bobot destruktif cukup besar.
]
: )
si berang-berang 1 suka | 0
saya jadi ingat aristoteles sewaktu membaca tulisan ini, apa yang kita cari? kekayaan, wanita, kekuasaan, dst? bukan! yang kita cari adalah KEBAHAGIAAN. dan lainnya itu hanyalah jalan menuju kesitu.
Kebahagiaan bagi tiap orang memang relati, namun kebahagiaan sejati itu universal, lanjut aristoteles.

mulanya q berpikir kalau nihilisme adalah kaum fasisme, karena sosok ubermensch seolah-ada-di-dalamnya, tapi tidak mungkin, pikirq lagi.
will to power memang membolehkan manusia menjadi ubermensch bagi dirinya sendiri, menolak apapun yang mengganggu nihilismenya, namun sampai batas yan "cukup".
tanpa sadar, waktu itu q terpengaruh secara universal oleh ubermensch, namun setelahnya q ingat, ah persetan universalitas.
jadi yang saya tahu sampai sekarang, ubermensch atau nihilisme harus-berada-dalam-konteks.

Silahkan login untuk memberikan pendapat