Feses dan Kejahatan di Balibo 5
Sabtu, 26 Des '09 06:01
Ketika menonton film Balibo yang dianggap kontroversial itu, kita akan menemukan bahwa ternyata ada persamaan antara kejahatan dan feses. Setelah buang air besar, feses akan disiram ke pembuangan sampai tidak terlihat lagi. Bukan hanya bentuk materialnya, bau amisnya pun akan dimusnahkan pula dengan pengharum kamar mandi, bisa jadi dengan segala cara, pokoknya sampai benar-benar tak ada jejak. Sanitasi jenis apapun akan menghendaki hal tersebut.
Respon Lembaga Sensor Film (LSF) dan militer Indonesia terhadap Balibo juga demikian, menganggap Balibo serupa feses yang harus "disiram" jauh-jauh.
Pada tanggal 1 Desember lalu, film ini awalnya akan diputar perdana di Jakarta, namun batal karena oleh LSF dinyatakan tidak lulus sensor. Meski begitu, film ini akhirnya tetap diputar di beberapa kota.
Militer Indonesia juga menolak kehadiran film tersebut. Versi militer sendiri menyatakan kelima jurnalis tersebut terbunuh karena terjebak di dalam pertempuran, bukan ditembak militer. Padahal kasus ini belum terbukti. Bahkan baru dibuka kembali.
Film yang disutradarai oleh Robert Connolly ini menceritakan tentang pembunuhan lima jurnalis Australia di Timor Timur pada tahun 1975. Kelima jurnalis tersebut ditembak mati oleh militer Indonesia. Tubuh mereka, beserta hasil kerja jurnalistik mereka kemudian dibakar sampai tidak meninggalkan jejak yang benar-benar utuh.
Jumat (25/12/2009), film Baliho diputar di Aula Radio prosalina Jember, diselenggarakan Oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Sejumlah jurnalis, dosen dan aktivis Persma Jember hadir dalam acara tersebut.
"Terlalu banyak informasi yang disensor," kata Andreas Harsono, jurnalis yang juga merupakan salah satu pediri AJI. Ia menyayangkan sikap LSF terkait Balibo.
Makmur Hadi, dosen FISIP Universitas Jember yang juga turut Hadir di Aula Prosalina mengatakan meskipun Balibo merupakan sebuah fiksi, namun ia meyakini ada kebenaran dalam film tersebut. "Saya meyakini kekejaman itu ada," ungkapnya.
Satu, pembunuhan kelima jurnalis di Balibo pada tahun 1975 adalah kejahatan.
Dua, militer dan LSF mencoba membersihkan kejahatan tersebut, persis seperti menyiram feses di kamar mandi, atau di sungai, bagi yang menggunakan sanitasi "helikopter."
Tiga, ketika feses dan kejahatan sudah berada pada posisi yang sama, (di)hilang(an) dari jejak sejarah dan memori masyarakat, maka itu akan semakin memporakporandakan keadilan dan kebebasan
Tinggal menunggu waktu, sampai semua jurnalis, atau semua orang akan menjadi feses jika penjahat dilepaskan dari jangkauan hukum.
Tag: jurnalis, hukum, Balibo, Militer, LSF
Terkait:
-
Kode Etik untuk Kapitalis? (Sebuah Jawaban untuk Defy Arbimapala)
Senin, 23 Jan '12 23:33 -
Buruh Tolak Kriminalisasi
Rabu, 27 Apr '11 19:40 -
Nikmatnya Jika Sedang Ereksi
Kamis, 8 Jul '10 04:17
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kailila: Perlu
-
Rizki: Penting
-
Kemuning: Perlu
-
Como Bacomboy: Penting
-
FF Haq: Perlu
-
Kopi Persma: Responsif

Komentar:
hmmmm
rupanya.
Apalagi yang saat ini tersisa dari kontrak yang sudah kita sepaati, selain gerombolan penjahat yang terlalu riuh?
kita pasti tahu kalau negara ini demokrasi, tapi film ja kok dilarang. mestinya film yang berbau (bukan fese lo ya) membangun pemikiran rakyatnya kok dilarang.
Betapa bodohnya orang yang melarang.
tapi ngomong2 aku belum lihat lo, ada yang punya untuk di copy paste nggak?
Kamu jarang keluar peradaban gitu, makanya sulit dapat akses informasi2 yang dilarang pemerintah. Hehe.
Di TB kayaknya masih nyimpan. Atas Mas Daud, Prosalina.
Silahkan login untuk memberikan pendapat