Balibo Five 5

Sabtu, 26 Des '09 03:09

Jumat, 25 Desember 2009, bertempat di Aula lantai 2 Radio Prosalina FM Jember, diadakan Diskusi HAM dan nonton pilem "Balibo" yang diselenggarakan AJI (Aliansi Jurnalis Independent) Jember. Acara ini gratis dan dibuka untuk kawan-kawan aktivis, Pers Mahasiswa dan tentunya untuk kalangan kawan-kawan Pers Umum alias Jurnalis. Acara ini juga dihadiri oleh maz Andreas Harsono selaku pembicara diskusi bedah Film BALIBO.

Film ini bercerita tentang pergulatan emosi seorang wartawan senior Roger East dan juga tentang nasib 5 orang wartawan Australia yang ditugaskan meliput berita di Timor Leste tepatnya di Balibo yaitu perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Seorang Revolusioner Juan Ramos Horta yang berperan sebagai pelindung dan akses langsung para wartawan Australia selama berada di Timor Leste. Film ini bercerita tentang peristiwa yang terjadi di tahun 1975, dimana pada tahun inilah titik krusial perjuangan rakyat Timor Leste untuk memerdekakan diri dan lepas dari Indonesia. Konflik-konflik antara tentara Timor Leste dan tentara Indonesia sering sekali terjadi khususnya di wilayah perbatasan.

Film ini sebenarnya dilarang oleh LSF (Lembaga Sensor Film) untuk diputar di Indonesia karena dianggap "membuka luka lama" alasan yang tidak etis dan terkesan sepihak inilah yang membuat AJI (Aliansi Jurnalis Independen) tetap memutarnya. Dimulai dari Jakarta hingga ke kota-kota lain yang ada di Indonesia macam Bandung, Kediri, Jogja dan Jember bergantian memutarnya. Terindikasi jelas ada pelanggaran HAM terhadap 5 orang wartawan Australia di film ini. Lima wartawan Australia yang terbunuh pada insiden Balibo Five adalah Greg Shackleton, Tony Stewart, Brian Peters, Malcolm Rennie, dan Gary Cunningham. Pro dan kontra tentang kematian kelima wartawan dari Channel 9 dan 7 ini terus bermunculan, mungkin inilah yang mendasari pelarangan pemutaran film ini di Indonesia. Lepas dari itu semua AJI menayangkan film ini sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama pekerja jurnalis dan juga pengungkapan-pengungkapan sejarah lampau yang tidak pernah publik ketahui.

Film yang berdurasi 100 menit ini berjalan dengan alur maju mundur, kita diajak berfikir untuk menontonnya. Efek-efek gambar dan suara yang dihadirkan sudah cukup membuat kita masuk dalam suasana perang pada saat itu. Seperti film-film pada umumnya selalu ada seorang "pahlawan", di film ini secara tidak langsung menempatkan Ramos Horta sebagai pahlawan itu. Pembacaan kembali sejarah 1975 sangat penting untuk dipahami, agar ketika kita melihat film ini kita tidak terprovokasi dan menimbulkan kesan-kesan yang buruk. Alhasil saya rasa film ini layak diputar di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia agar kita mata kita lebih terbuka dan kita tidak terhanyut dengan suguhan film-film kita sekarang yang melankolis.[tulisan ini diposting juga di blog]


Tag: Balibo, Wartawan Australia, AJI

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Oo Zaki 0 0
Penyensoran "Balibo" sungguh menyalahi kebebasan berekspresi dan upaya memberikan informasi kepada publik. Tidak heran jika AJI kemudian memberikan pertanyataan sikap terkait penyensoran tersebut. Dalam hal ini AJI harus diberikan jempol. Persma, di mana suaramu?
Irwan Bajang 0 0
katanya yang nonton dan yang mengedarkan bakalan ditangkap dan dijerat hukum, buktinya di sini, diputara juga biasa aja...
kayak ganja aja, yang mngedarkan dan yang membeli masuk penjara
hahahaha
film ini di tomor leste malah dianggap film biasa dan tidak seheboh di sini, sama juga dengan di ausie. Kacau, masak di Timor Leste aja yang baru merdeka dari jajahan indonesai, film ini gak dilarang di sini dilarang2.
Padahal tanpa diputarpun, sudah banyak bukti tentang itu...
hahahahaha
jadi pengen ketawa ya, Bro, sekaligus miris liat negara OON ini.
Kyo 0 0
katanya film ini gag boleh beredar kan?? dapet darimana??? bisakah aku nge-duplicate (mau bilang "ngopy" takut dikira sebagai pembajak)
Oo Zaki 0 0
Iya, balibo memang dilarang edar. Juga berarti tidak boleh ditonton di ruang publik. Namun sejauh ini, khususnya AJI mengabaikan pelarangan Balibo. Aji sukses menyelenggarakan pemutarn Balibo di bebrapa kota. Malah mengecam pelarangan (Pernyataan Sikap Aji tanggal 10 Desember).
Rizki 0 0
Irwan Bajang: Sebenarnya disini juga tidak seberapa "besar" seperti keliatannya, toh masih banyak film2 lain yang membuat kita tidak tahu menahu film ini, yah yang sedang hot2nya di bioskop sekarang ini, bangsa kita bangsa yang melankolis, tak heran Pemimpin Negara kita saat ini memakai senjata melankolis sebagai pencitraannya, miris : (

Silahkan login untuk memberikan pendapat