Potong Kepala Musuh, sebuah budaya 9

Minggu, 6 Des '09 10:57

Budaya potong kepala musuh atau "ngayau" yang berkembang dalam masyarakat Dayak di Kalimantan diperkirakan telah ditinggalkan sekitar 100 tahun lalu, saat terjadi sumpah darah yang dipelopori oleh "controleur" Belanda, Niwen Huis, 1894 di Tumbang Anui (Kalteng) yang melibatkan 1.000 jiwa masyarakat dari berbagai suku dan subetnis.

Hal itu diungkapkan Ketua Badan Pengkajian Sospol PDKT (Persekutuan Dayak Kaltim), Julianus Sulaiman, berkaitan dengan tudingan bahwa budaya kekerasan itu masih berkembang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pedalaman di Kalimantan.

Ia menjelaskan pada pemerintahan Belanda, Niwen Huis menjadi fasilitator dalam menyelesaikan perang suku antarsub-etnis Dayak maupun dari suku lainnya. "Melalui upacara adat dan ritual yang melibatkan berbagai suku baik dari Dayak maupun dari luar seperti Banjar, darah ditorehkan ke badan semua yang hadir sebagai penyataan persaudaraan dan permusuhan dihentikan," katanya.

Ia menjelaskan sejak genjatan senjata di hulu Sungai Kahayan (Kalteng) itu berangsur-angsur budaya ngayau ditinggalkan sejak 100 tahun lalu. Dalam tinjauan antropologi, tambahnya, tidak semua sub-etnis Dayak memiliki budaya potong kepala. "Seperti Dayak Benuag, budaya ngayau itu tidak dikenal karena saya sendiri berasal dari sana," kata Sulaiman didampingi Ketua PDKT, Martinus F Tennes.

Mengenai kata "Dayak", ia menjelaskan ada berbagai penafsiran. Misalnya hal itu dianggap sebagai ungkapan warga Belanda yang berkonotasi negatif yakni berasal dari kata "Dayaker" atau kaum yang buas.

"Zaman Belanda dulu, bahkan ada anggapan orang luar bahwa orang Dayak makan orang, mungkin itu hanya upaya penjajah untuk menjelek-jelekan orang Dayak dalam rangka menjalankan politik adu domba," katanya.

Ada pula penafsiran yang menilai Dayak berasal dari kata "Daya" atau dalam bahasa Dayak Kenyah (masyarakat pedalaman di Apo Kayan, Bulungan) yang berarti hulu sungai karena umumnya mereka tinggal di pelosok.

Mengenai kerusuhan di Sampit dan Palangka Raya yang telah menelan korban ratusan jiwa --sebagian dipotong kepalanya-- ia menilai bahwa tidak perlu untuk saling mencari kesalahan, namun yang utama bagaimana mengantisipasi agar kasus itu tidak menjalar ke daerah lain.

"Jadi dalam kondisi yang masih panas ini, jangan lagi kita saling melemparkan kesalahan atau menjelek-jelekan suku, karena yang akan merasakan kerugiannya kita semua, mari kita saling menghormati," katanya.

Di Kalimantan sedikitnya terdapat belasan sub-etnis Dayak yang budaya dan bahasanya berbeda satu dengan yang lain misalnya Dayak Kenyah, Lun Dayeh, Berusu, Punan, Kayan, Benuaq, Tunjung dan Iban.

Selain terbagi dalam sub-etnis Dayak juga masih terbagi dalam puak-puak, misalnya dari sub-etnis Dayak Kenyah terdiri dari sejumlah puak antara lain puak Apo Jalan dan Apo Maut yang dipimpin seorang ketua suku.

Teruslah hidup dengan kearifan lokal, walaupun kiamat menjelang diakhir 2012 nanti..... n_n


Tag: Sejarah, lokal

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

bung hakim 0 0
Musuh kita itu adalah Ketujuh setan desa (1) tuan tanah, (2) lintah darat, (3) tengkulak jahat, (4) tukang ijon, (5) bandit desa, (6) pemungut zakat, (7) kapitalis birokrat desa.....
djali 0 0
Pd dasarnya secara historis, cerita di dayak mirip dengan apa yg ada di Seram (Maluku) suku Alifuru yg msih berpegang teguh pd "ajaran alam" mempraktekan ritual serupa, namun terakhir pada tahun 2006 lalu di temukan kasus seperti yg kawan Hakim paparkan di atas.

Sy, punya dua pandangan.
pertama: referensi antropologis kita sudah sangat lapuk dan dibutuhkan pembaruan lewat penelitian ulang.
kedua: komunikasi antara suku Dayak (pedalaman) merupakan ruang efektif untuk dapat saling memahami.

Sy jd terinspirasi dengan pengalaman seorang kawan yg melakukan pendampingan di pedalaman papua (suku Asmat) dengan salah satu misi mengajarkan baca tulis. Alhasil setelah 5 tahun hidup bersama suku Asmat lengkap dengan dinamika keseharian ternyata tidak ada yg membedakan kita. semuanya sama, manusia juga ingin dimengerti dan ingin saling memahami.
tidak ada agresor di antara kita. bukankah koruptor lebih mematikan. kita semua sepakat bahwa si-empunya lapindo lebih agresor dari siapapun di nusantara ini sekalipun. bagaimana tidak yg terkubur pun dibuat tertimbun oleh lumpur keserakahan.

Ayo... begerak dengan riang gembira.. hehe
FF Haq 0 0
belum lama ini saya menyaksikan disalah satu stasiun televisi swasta mengenai pemberdayaan suku2 yang ada di Amazon oleh pemerintah Brazil. cukup menarik karena mereka hanya menjaga agaj suku-suku tersebut tidak mengalami gangguan dari luar secara fisik. dan yang lebih seru adalah adanya polisi penjaga-nya mungkin Indonesia bisa meniru cara yang sudah diterapkan oleh pemerintah Brazil ini

lestarikan apa yang ada jangan menambah atau menguranginya....
^^
*ngak ngerti dah...*
bung hakim 0 0
ya gitu bung....
klo "ngayau" disini menjadi dongeng untuk menakut-nakuti anak-anak yang nakal. sementara semangat potong kepala musuh awalnya adalah strategi adu domba belanda dalam memecah persatuan NKRI. dan celakanya, masyarakat mengamini image itu.
Fandy Lasinrang 0 0
hmmm...bagus untuk memahami lokalitas keIndonesiaan...salut bro! multikulturalisme bukan hal yang tidak mungkin!
Rizki 0 0
walaupun kiamat menjelang diakhir 2012 nanti?
benarkah ini kalo gak jadi di taon 2019 populasi manusia digantikan Dracula dan antek2nya (di film Daybreaker)
djali 0 0
bung hakim: sebagai generasi muda kita harus selalu menjaga dan melestarikan tradisi leluhur. Atas dasar itu maka kami mengundang anda pada acara "Ngayau Yuk, Nga Ngayau nga keren" akan di adakan di hari ke 32 purnama ke 13 di bukit tengkorak,

hahahaha........
Irwan Bajang 0 0
wah....artikel yang menarik....
tidak sepakat dengan ungkapan jali, bahwa tidak ada agresor....
kurang realis itu..haha
Oo Zaki 0 0
Potong kepala djali segera. Wah tapi agak repot, mau dipoting apanya... djali jarang-jarang punya otak. ; ))

Silahkan login untuk memberikan pendapat