Reaksi (atas) Seribu Topeng 7
Sabtu, 7 Nov '09 15:57
Manusia dengan seribu wajah, khususnya pers Indonesia. Secara umum, paradigma pers yang seyogyanya selalu mengacu pada ketidakberpihakan kini lambat laun telah berubah menjadi keberpihakan. Penegakan keadilan dan kebenaran pun berganti dengan penegakan kepentingan. Hari ini menjadi teman, besok bisa menjadi lawan. Seribu wajah yang mendandani pers Indonesia bukanlah sebuah kebetulan. Banyak perusahaan media massa di seantaro negeri ini melakukan praktik-praktik rekayasa berita. Mulai dari pencarian berita, penentuan narasumber, kemudian penulisan laporan berita sampai pada sirkulasi surat kabar dan penayangan suatu program acara.
Paling tidak ada tiga golongan masyarakat dalam menyikapi seribu wajah pers Indonesia. Pertama adalah warga yang masyarakat yang menolak; kedua adalah yang menerima; ketiga adalah yang sebenarnya menolak tapi terpaksa menerima. Pertanyaannya, kita termasuk golongan yang mana?
Golongan pertama menyatakan bahwa saat ini sudah tidak ada lagi pers yang benar-benar ideal. Pers telah menjadi organ kepentingan tertentu. Banyak dari wartawan yang idealis keluar dari pers umum. Mereka menganggap pers telah menjadi alat politik, alat pencalonan gubernur/bupati/walikota, alat menjatuhkan penguasa. Walaupun demikian golongan ini masih merindukan pers yang ideal, yang melaksanakan sepenuhnya kaidah-kaidah jurnalistik. Penolakan terhadap pers umum disebabkan oleh sikap pers yang sering “menyerang” seseorang atau segolongan masyarakat tanpa melakukan check and recheck. Akibatnya, pihak yang diserang tentu saja merasa terganggu lalu melakukan somasi terhadap pers.
Golongan kedua adalah warga masyarakat yang menerima kehadiran pers Indonesia dalam bentuk “Seribu Wajah”. Mereka adalah warga masyarakat yang berpikir pragmatis yang terkooptasi oleh keberadaan pers semacam itu. Mereka beranggapan bahwa pers yang baik atau yang ideal adalah pers yang punya “seribu wajah”. Asas saling menguntungkan menjadi alasan utama bagi mereka untuk memanfaatkan kehadiran pers tersebut. Contoh sederhana ialah bila ada pihak-pihak yang bersengketa maka masing-masing pihak akan menggunakan pers sebagai “corong” mereka.
Golongan ketiga adalah golongan yang sebenarnya menolak tapi terpaksa menerima. Karena mereka memerlukan informasi yang tidak mungkin diperoleh hanya melalui komunikasi lisan, telepon dan internet. Fungsi informasi yang melekat pada media menjadi sangat penting bagi golongan masyarakat ini. Suka atau tidak suka harus mereka ketahui dari media massa. Apa pun keburukan yang ada pada tubuh media massa, bukan alasan untuk tidak membaca/mendengar/ melihat media massa itu. Pada akhirnya, golongan ketiga ini pun akan berkolaborasi dengan golongan kedua. Dengan kata lain, mayoritas masyarakat akan secara otomatis menerima bentuk “seribu wajah” itu.
Oleh karena itu, mereka yang menjunjung tinggi idealisme pers (golongan pertama) selalu berbenturan dan akhirnya kalah dalam “pertempuran” karena jumlah mereka yang menolak hanya sedikit. Kemudian timbul pertannyaan lagi, salahkah berita rekayasa itu?
Kepentingan telah mengalahkan nurani, bukan hanya nurani wartawan sebagai manusia melainkan juga nurani jurnalistik. Bahwa berita itu suci mungkin benar, tapi bahwa suatu peristiwa yang memiliki nilai berita yang tinggi menjadi berita di media massa sangat ditentukan oleh kepentingan. Ungkapan “Journalist makes news” jadi benar ketika suatu berita merupakan bagian dari strategi marketing.
Idealisme kewartawanan dan jurnalistik telah mengalami pergesaran nilai. Makna dari kesucian berita telah memperoleh konsep baru yaitu konsep kepentingan.[i]
[i] Term of reference “SERIBU WAJAH”, Launching Majalah Vol.2 LPM Journal Amikom Yogyakarta. Jumat, 6 November 2009. 19.30 WIB
Tag: manusai dengan seribu wajah, pers indonesia, paradigma pers, media massa, rekayasa berita, tiga golongan masyarakat tentang seribu wajah, idealisme pers, kaidah jurnalistik, journalist makes news, berita suci, konsep kepentingan, lauching majalah Journal vol 2, STMIK Amikom Yogyakarta
Terkait:
-
Kode Etik untuk Kapitalis? (Sebuah Jawaban untuk Defy Arbimapala)
Senin, 23 Jan '12 23:33
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Bagus
-
Rizki: Bagus
-
Como Bacomboy: Responsif
-
FF Haq: Penting
-
Kemuning: Biasa
-
Echa Widhie: Bagus
-
Joker:
-
Die Key belajar nulis: Bagus

Komentar:
Baru tau gue berita itu suci. Jadi kalo berita tanpa fakta sekalipun itu dapat dibilang suci? Nihil betul penjelasan lo. Ngomongin pers kok implisit.
@ padahal kalo' mau buang air ke kali juga bawa cambuk segala, sok sok an peduli...
Silahkan login untuk memberikan pendapat