Anarki Enam Jam : Sebuah Tragedi Insureksi Kota 0

Sabtu, 7 Nov '09 17:04

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-family:"Tahoma","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} -->

Berikut ini versi kompilasi (Komnas HAM dan sumber lain) kronologi peristiwa itu :

Mulai sekitar pukul 09.00, kegiatan kampanye sudah semarak, warna kuning dimana-mana. Golkar membagi-bagikan saputangan bergambar beringin dan nasi bungkus, masing-masing berjumlah 10 ribu buah. Sasaran kampanye adalah buruh, tukang becak, tukang ojek. Pada sekitar pukul 11.00 kampanye membagi-bagi saputangan dan nasi bungkus usai dengan tenang.

Pada pukul 12.00, atau tengah hari, umat Islam menjalankan ibadah sholat jumat. Sewaktu ibadah berlangsung, sebagian massa kampanye Golkar, yang umumnya terdiri dari anak-anak muda dan remaja masih berkampanye. Mereka berputar-putar keliling kota dengan menaiki sepeda motor. Banyak diantara sepeda motor itu knalpotnya dicopot, dan suara raungan mesin motor dirasakan sangat mengusik ketenangan mereka yang sedang sembahyang. Puncaknya, ketika arak-arakan sepeda motor tersebut melewati Masjid Noor dijalan Pangeran Samudera. Masjid itu terletak di daerah basis PPP, kemarahan jamaah dengan cepat menyebar seusai sembahyang jumat dan sampai ke telinga penduduk di berbagai sudut Banjarmasin lainnya.

Sekitar pukul 13.00, massa kampanye Golkar terkonsentrasi di lapangan Kamboja. Panggung hiburan menurut rencana akan diisi oleh artis-artis ibukota, mulai 13.30 sekitar 20 ribu massa Golkar hadir di lapangan ini. Menurut rencana, ketua MUI KH. Hasan Basri, akan bertindak sebagai pembaca doa. Hasan Basri adalah tokoh asal Banjarmasin. Setengah jam kemudian, tiba-tiba saja muncul segerombolan massa, sebagian besar memakai atribut kampanye PPP, dipinggir lapangan Kamboja. Mereka menyerbu massa Golkar, membakar 40 sepeda motor dan membakar serta menghancurkan puluhan mobil.

Tidak puas setelah membubarkan massa kampanye Golkar, massa penyerbu ini bergerak keseluruh kota. Gedung DPRD Kal-Sel yang masih dalam tahap pembangunan di jalan Lambung Mangkurat dihancurkan. Massa bergerak terus, menyerang kantor DPD Golkar di jalan Kuripan. Sejumlah Satgas Golkar dibantu Satpam berusaha mengendalikan massa, tapi tidak terbendung. Ruang depan kantor porak poranda, sejumlah atribut hancur, lima mobil musnah terbakar. Pada saat itu, hanya ada sekitar 20 anggota satgas keamanan Golkar dibantu satu peleton polisi, mereka tidak mampu menahan serbuan massa beratribut PPP, sehingga mereka mundur dan menyelamatkan diri ke gedung PLN. Gedung ini urung dibakar massa, karena ada yang mengingatkan bahwa malam itu akan ada siaran langsung sepak bola di TV, sehingga kalau gedung PLN dibakar mereka tidak bisa menontonnya.

Di hotel Kalimantan, KH. Hasan Basri menunggu jadwal kampanye bersama sekitar 50 kader Golkar, sebagian diantaranya artis-artis dari Jakarta. Hasan Basri menginap di lantai 4 hotel tersebut, mendengar suara ribut-ribut dibawah, Hasan Basri melihat dari jendela. Ia antara lain menyaksikan massa yang berjejal, sebagian melemparkan bom Molotov ke dalam hotel. Menseskab Saadilah Mursyid, yang sedang rapat di lantai dasar, segera diselamatkan petugas keamanan. Di lantai 4, seorang anggota Golkar menghubungi Brimob lewat telpon genggam. Di tengah-tengah kepulan asap, pasukan Brimob berhasil menyelamatkan mereka melalui tangga darurat. Hasan Basri dkk dibawa petugas ke kompleks Rindam. Hotel Kalimantan kemudian ludes dimakan api.

Pukul 14.00, arak-arakan massa terus bergerak melewati jalan-jalan protokol. Kompleks pertokoan Junjung Buih Plaza diserang, sehingga kantor Bank Lippo dan Hotel Mentari rusak parah. Hotel Istana Barito yang menampung puluhan artis kampanye Golkar, dihancurkan. Ikut hancur adalah kantor agen penerbangan Garuda dan Merpati, serta beberapa kantor biro perjalanan. Di daerah pasar baru, pasar sudimampir, dan pasar antasari sudah ditutup, tetapi massa berhasil menghancurkan mayoritas toko yang berada dideretan depan kompleks pertokoan tersebut. Barang-baang di toko Lima Cahaya serta toko makanan Siolatama di jalan S. Parman dijarah massa.

Ribuan orang tampak menyemut di jalan pangeran antasari, bergerak dari arah timur Mitra Plaza. Sambil berjalan kearah barat, mereka mencabuti dan membakari bendera serta spanduk Golkar. Tidak lama kemudian, petugas sudah menutup Jln. Antasari dengan pagar betis. Dari arah yang berlawanan, yaitu barat Mitra Plaza, tampak gerombolan lain bergerak. Mereka terhenti persis di mulut jembatan Mitra yang melintasi sungai Martapura. Disana, mereka dihadang oleh polisi anti huru-hara yang menyemprotkan gas air mata.

Dari gedung Mitra Plaza, pengunjung dan karyawan berlarian ke jendela kaca, menonton arus massa yang bergerak bagaikan air bah di jalanan. Melihat suasana yang kelihatan makin mengkhawatirkan, para pegawai dan satpam toko buku Gramedia dan pasar swalayan Hero di Mitra Plaza segera meminta pengunjung keluar ruangan dan mereka mengunci rolling door yang ada. Ditengah kegelisahan, para karyawan tersebut masih berusaha bekerja sebisanya, apa saja. Beberapa karyawan TB Gramedia berusaha mencari kesibukan dengan membungkus buku dengan plastik, dan apa saja, sambil menunggu perkembangan situasi.

Di jalanan, massa semakin tidak terkendalikan. Mereka berlarian kesana kemari, bersenjatakan apa saja sambil berteriak-teriak. Ada yang membawa pedang, samurai, kelewang, Mandau, balok kayu, clurit. Namun, belum terjadi apa-apa, massa hanya berarakan didepan Mitra Plaza. Massa semakin beringas, sebagian mendekati polisi dan mengacung-acungkan clurit dan senjata tajam lainnya sambil mengejek petugas. Beberapa perwira polisi dan tentara menghubungi pos mereka dan meminta perintah diperbolehkan menembak para perusuh. Rupanya perintah itu tidak pernah mereka peroleh, sehingga tidak ada peluru yang dilepaskan dan kerusuhan menjadi semakin tidak terkendalikan.

Didepan kantor Banjarmasin Post, dari arah timur massa menyerbu dengan membawa senjata aneka macam. Mereka berlari-lari kearah lapangan Kamboja, tempat kampanye Golkar akan dilangsungkan. Di sepanjang jalan, semua bendera, spanduk, umbul-umbul Golkar diturunkan dan dibakari. Disana mereka bergabung dengan massa penyerbu yang mula-mula muncul di pinggir lapangan. Panggung kampanye pun diserbu dan dirobohkan. Kaum penyerbu bertarung campuh dengan 20 ribu massa Golkar yang sedang berkumpul disana. Para petugas keamanan tidak mampu mengendalikan pertarungan dengan kekerasan tersebut. Sebuah Gereja yang terletak di dekat kantor Banjarmasin Post mulai terbakar. Mobil pemadam kebakaran yang berusaha mencegah menjalarnya api ke gedung Banjarmasin Post terpaksa pergi karena petugasnya dikalungi clurit oleh massa, namun api tidak jadi melalap kantor Banjarmasin Post.

Sebagian massa menyerbu Hotel Istana Barito. Disana, mereka berhadapan dengan ribuan massa Golkar yang berkumpul didepan hotel, sedang bersiap-siap untuk kampanye sore itu. Dari arah barat, tiba-tiba muncul ribuan massa lain, sebagian mengenakan kaos hijau dan atribut PPP. Dengan senjata tajam apa saja, mereka menyerbu massa di depan hotel, mobil-mobil yang kebetulan ada disana hancur luluh lantak, kaca-kaca hotel pecah dilempari batu.

Pukul 15.00, listrik padam menambah suasana mencekam, kerusuhan meningkat lagi. Sebagian besar tamu Hotel Istana Barito masih berada dikamar mereka dalam kegelapan. Tiba-tiba satpam hotel menggedori pintu-pintu kamar dan berteriak, kebakaran ! para tamu pun berhamburan keluar, menyelamatkan diri masing-masing. Dengan cepat kerusuhan menyebar kemana-mana, massa terus melakukan pengrusakan, sambil terus meneriakkan yel-yel PPP. Sementara ada beberapa orang mengenakan atribut PDI.

Suasana semakin kalut, massa merusak dan membakari mobil-mobil pribadi yang ditemui dijalan raya mana saja dan menjarah isinya. Sebuah mobil meledak, setelah dibakar dijalanan. Di depan Mitra Plaza, beberapa mobil segera bergelimpangan, sebagian terbakar. Seorang wanita naik sepeda motor dengan hanya mengenakan BH di bagian atas, karena kaos Golkarnya dirampas massa. Di jalanan, batu-batu berserakan, pecahan kaca bertebaran dimana-mana, fasilitas umum dihancurkan. Massa juga merusak dan melempari ruko-ruko yang berderet di sepanjang jalan Hasanudin HM sampai jalan A. Yani, di kawasan Sudimampir, jalan Haryono MT dan jalan pangeran Samudera.

Di dalam kompleks Mitra Plaza, dengan persetujuan dari manajemen di Jakarta, pimpinan TB Gramedia memutuskan untuk menutup toko dan karyawan diminta segera meninggalkan lokasi kerja. Semua pulang, dengan catatan tidak memakai atribut Organisasi Peserta Pemilu (OPP) mana pun. Di dalam TB Gramedia tinggal Antonius Nugroho, Arifin, dua orang satpam dan satu orang pramuniaga.

Di depan Mitra Plaza, petugas mulai menutup jalanan dan membuat pagar betis untuk melindungi kompleks pertokoan itu. Tetapi, ribuan massa tidak terbendung, mereka merangsek ke depan, memecah pagar betis petugas dan mulai memecahkan kaca-kaca etalase, masuk kedalam gedung dan menjarah apa saja yang bisa diambil. Gas air mata yang disemprotkan petugas tidak mampu menahan mereka.

Hingga saat itu, Mitra Plaza baru dirusak, tetapi belum terbakar. Kemudian sebuah sedan putih didorong dan ditabrakkan ke kaca etalase Toys Kids di lantai dasar, sebelum akhirnya mobil itu dibakar, api segera menyebar ke seluruh gedung, malam itu seluruh empat lantai gedung Mitra Plaza musnah terbakar. Setelah Mitra Plaza terbakar, gedung-gedung lain segera menyusul.

Sementara itu, kerusuhan tidak hanya menjangkau kawasan pertokoan. Wilayah pemukiman penduduk pun mulai terkena. Kampung Kertak Baru Ulu,khususnya RT.10 yang dihuni 30 KK mulai dilalap api sejak pukul 16.35 wib. Kawasan pemukiman ini berlokasi dibelakang jalan pangeran samudera. Api mula-mula berasal dari kelenteng Cina, yang segera menjalar ke rumah-rumah yang terletak di belakangnya. Api bahkan menjalar ke asrama POM ABRI yang hanya terpisah oleh sungai selebar 3 meter dari Kertak Baru Ulu.

Mulai sekitar pukul 18.00, bagian belakang gedung Anjung Surung mulai mengepulkan asap. Api membakar habis apotik Kasio yang terletak dibelakang gedung ini. Barisan pemadam kebakaran tidak berdaya, karena massa mencegah dan mengancam mereka supaya tidak memadamkan api. Namun secara ajaib, ketika seluruh api menelan gedung-gedung disekitarnya, gedung Anjung Surung selamat. Petugas UGD RS Islam menyebutkan, hingga pukul 17.30 rumah sakit tersebut merawat 12 orang korban. Delapan diantaranya menderita luka bacok, empat sisanya akibat kecelakaan lalu lintas. Sementara RS Ulin menyebutkan, sedikitnya mereka merawat 20 pasien, termasuk Didik Triomarsidi, juru foto Banjarmasin Post. Didik dianiaya massa ketika meliput penghancuran gedung markas DPD Golkar.

            Pada malam harinya, jumlah gerombolan massa menyusut. Listrik masih padam dan seluruh kota dalam keadaan gelap gulita, hanya diterangi kobaran api dimana-mana. Beberapa tempat diblokade petugas keamanan, namun gerombolan massa masih berkerumun dibeberapa tempat. Mereka memasuki kawasan pemukiman, menyerang dengan clurit, klewang, Mandau, samurai dan beberapa senjata lainnya. Beberapa rumah, kantor, dan warung yang berdekatan dengan Banjarmasin Post masih menyala terbakar, benar-benar mirip lautan api. Laporan awal menyebutkan, secara keseluruhan ratusan rumah dan toko hancur, sebuah gereja Katolik, sebuah Bank, dan sebuah hotel ikut hancur. Sekitar 80 orang diberitakan luka-luka dan 50 orang ditahan.

            Hingga keesokan paginya, api masih menyala di kompleks Mitra Plaza. Seluruh lantai gedung tersebut masih belum bisa dimasuki. Tetapi, bau sangit dan busuk menyengat hingga keluar gedung. Regu penyelamat belum bisa bertindak apa-apa karena gedung masih diselimuti api dan asap. Evakuasi baru bisa dilakukan sore hari, ketika sebagian api sudah padam, Kapolda memberikan laporan kepada Kapolri mengenai kemungkinan terdapatnya sejumlah mayat terbakar hangus didalam kompleks pertokoan. Para pejabat dari Jakarta yang sedianya berkampanye, diterbangkan kembali dari Banjarmasin. Pangdam Tanjungpura Mayjend. Namoeri Anoem mengumumkan berlakunya jam malam di Banjarmasin, selama lima hari masa cooling off kampanye, 24-29 Mei 1997.

n_n


Tag: lokal, daerah, konflik

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat