Catatannya si Berang-berang 5
Minggu, 1 Nov '09 17:12
Simbol(isasi), Praktek Diskursif dan Pagan(isme)
Malam itu, beberapa jam paska turunnya saya dari kereta, dan beberapa saat saja setelah saya makan siang-malam, Kajian Jumat Malam (KJM) baru dimulai. Acara gaweannya ekspresi yang menjadi wadah 'onani-apa-saja' ini dimulai setelah pindah tempat dari depan gerbang UNY ke dalam pelataran jalan masuk (saya sungkan pakai nama double way karena bukan unej).
Karena baru saja selesai makan, saya terlambat beberapa saat dari diskusi tersebut. Diskusi ini awalnya berbicara panjang lebar mengenai 'agama'. mulai dengan agama samawi jaman kuno hingga kontemporer ke-disini-an, yang kemudian ditimpali dengan banyak komentar serta kritik dari kawan-kawan lain. Tampaknya banyak yg 'menyejarah' disini. Alur diskusi melambat karena pembicaraan berputar di ranah sejarah agama.
Setelah penyejarahan tersebut, salah satu pendapat kawan tentang simbolisasi dalam agama seolah membuka spektrum baru dari diskusi. Kenapa Islam, Kristen dan lain sebagainya punya simbol yg seperti 'itu', kok bukan yang lain, setelah kawan tersebut menabrakkan makna simbol yang fungsionil-otentik dengan fungsionil-diskursif. Canggih menurut saya.
Banyak spekulasi disini, saya pun mencoba berspekulasi, kenapa ada pengunaan simbol untuk mencerminkan sistem kepercayaan, atau lebih luas, sistem relijiusitas. Sampai di suatu titik, saya teringat diktum seorang Prancis, Fuko (sori, nama aslinya Michel Foucault). Power makes knowledge and knowledge protect power, begitu seingat saya. Akhirnya saya mencoba berpendapat, dengan posisi berpijak pada pe-rekonstruksi-an segala macam fenomena sosial, dan setelah saya memaksakan asumsi saya bahwa segala macam tata simbol, bahasa, dan efek diskursif awalnya adalah pengetahuan, saya mencoba menebak bahwa simbolisasi relijiusitas tersebut ialah konstruksi pengetahuan oleh kekuasaan (kawan-kawan menggunakan kata 'power', yang menurut saya kata kekuasaan lebih pas daripada kekuatan). Konstruksi inilah yang bisa disebut praktik diskursif. Penguasa wilayah saat itu seolah mendapat wahyu yang kemudian disimbolisasikan untuk pengetahuan-yang-transendental, simbolisasi atau praktik diskursif penguasa wilayah tersebut menimbulkan, seperti yang saya sebut tadi, efek diskursif, yang kemudian (persis kata Fuko), knowledge protect power. Karena bangunan sistem yang dikonstruksi penguasa sudah terlanjur terinternalisasi pada masyarakatnya.
Taruhlah pada jaman mesir purba, dimana belum ada sistem kepercayaan yg mapan disana. Munculnya matahari (siang), bulan (malam), hujan dan fenomena alam lainnya kemudian dimaknai penguasa setempat, sebagai kekuatan-yang-transenden. Fenomena-Alam yang ikut mempengaruhi kehidupan manusia tersebut, seperti siang yang membuat kita kepanasan tapi lebih aman dari bahaya, dan malam yang dingin namun membuat naluri menjadi lebih waspada karena gelap, akahirnya menjadi sistem kepercayaan. Munculnya dewa Matahari (amun-ra) sebagai salah satu dewa terkuat, saya pikir karena fenomena-alam yang dimaknai tersebut. Lalu, spekulasi saya, penguasa wilayah tersebut mencoba melakukan 'sesuatu' untuk kekuatan-yang-transendental tadi agar tidak membahayakan dia dan masyarakatnya. Simbolasi yang dilakukan sekaligus merupakan proteksi terhadap penguasa tersebut. Citra penguasa sebagai penghubung manusia dengan kekuatan-yang-transendental menjadi salah satu simbolisasi tadi.
Meneruskan pendapat tadi, saya menambahkannya dengan tesis seorang Perancis lainnya dengan nama sangat Jawa, Agus Kom (Auguste Comte) tentang perkembangan kedewasaan berpikir manusia. Setelah mencoba berkata bahwa saya sebenarnya tidak setuju dengan penahapan ini serta menekankan hanyalah pada tahap pertama saja yaitu Tahap Teologis (dua lainnya tahap metafisis dan posistivis), ada tiga sub-tahapan di tahap ini. Sub-tahapan pertama ialah dimana fenomena alam seperti yang beberapa kawan katakan tadi, adalah kepercayaan pertama dari manusia. Manusia sejak awal mempercayai adanya kekuatan-yang-transendental. Namun hanya sebatas pada fenomena alam, contohnya menyembah matahari, petir, dan lainnya. Waktu terus berjalan, masuklah pada sub-tahap kedua pemiran manusia versi Agus Kom tadi, fenomena alam tersebut kemudian disimbolisasikan dengan sebagai 'senjata', 'wajah', 'anak', atau 'pasukan' dari kekuatan-yang-transendental, yang kemudian disebut dewa (menurut bahasa kita). Lalu, yang terakhir dari tahap pertama tadi, kumpulan dewa-dewa tadi, entah dewa matahari, dewa hujan, dewa bumi, dan lainnya kemudian 'disatukan' oleh manusia menjadi, contoh Allah-nya Islam, Allah-nya Kristen, Buddha, dan sebagainya (ini sangat kontekstual, mengingat pembahasan diskusi ini tidak menukik pada suatu wilayah saja). Mungkin seperti itulah yang dialami manusia sebelum-sebelumnya.
Kemudian spektrum diskusi bertambah lagi, karena moderator kribo memperingatkan agar siapa saja peserta KJM yang merasa ketinggalan agar 'merebut' haknya untuk tahu. Alur diskusi menjadi ranah penuntasan pemahaman tentang simbol dan tetek bengeknya. Roh Saussure, Levi-Straus dan CS Pierce diajak nimbrung KJM malam itu. Tuntas simbol, diskusi sempat stagnan, banyak kawan yang mempertanyakan apa sih sebenarnya paganisme itu, animisme, dinamisme, atau yang lainkah? Seorang kawan kemudian dengan baik hati bersedia mencari arti harfiahnya di google dan KBBI, akhirnya, setelah berputar-putar cukup lama, muncul kesepakatan singkat yang meskipun belum bisa disebut kesepakatan karena masih dipertentangkan masalah paganisme tersebut, setuju dengan google dan KBBI, paganisme adalah 'sebutan untuk orang yang tidak beragama atau beragama selain Kristen di jaman Roma'.
Sampai titik ini, diskusi berhenti sejnak. Mungkin kawan-kawan (saya juga sih) berpikir, apa lagi setelah ini ya, sampai kemudian, ada seorang kawan yang sejak tadi hanya tersenyum saja mengatakan bahwa, awal mula agama pagan atau paganisme muncul adalah ketika Konstantin, dengan bantuan kaum Nasrani, berhasil merebut Roma, yang memulai kekaisaran romawi. Karena dianggap berjasa besar atas kemenangan dirinya, maka nasrani kemudian dijadikan agama resmi kerajaan, dan masyarakat di wilayah kerajaan romawi, yang sebelumya mempunyai sistem reljiusitas sendiri, sehingga tidak mau masuk nasrani, disebut pagan (paganisme awal). Dan kawan tadi menambahkan, paganisme sebenarnya sama saja dengan kepercayaan lokal, atau produk budaya masyarakat setempat, yang mungkin setara dengan (kalau disini) kejawen, cuma konteks wilayahnya berbeda.
Akhirnya, saya pikir, kawan-kawan termasuk saya pada ejakulasi semua, hahaha....
(Tulisan ini didedikasikan untuk seluruh kawan yang ikut KJM, dan teman-teman yang selalu antusias ketika berpikir dan berbicara tentang 'apa-saja-yang-penting-proses', mohon maaf apabila sangat reduksionis, karena lebih enak ngerokok+minum teh anget daripada nyatet diskusi, hehe.. Semoga tidak mengecewakan. Tabik.)
Tag: Sejarah, Simbol, dan moga2 Filsafat
Terkait:
-
Sebuah Bangsa yang (mungkin) Gegar Sejarah *
Sabtu, 22 Jan '11 18:24 -
Sejarah yang Menjadi ’Biasa’
Jumat, 25 Jun '10 10:28 -
Sejarah = Senjata?
Minggu, 28 Feb '10 04:14
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
FF Haq: Bagus
-
Oo Zaki: Bagus
-
Wahyu Eko P: Responsif
Komentar:
saya tidak dapat hadir karna kuda besi ku sedang sakit dan harus segera dilarikan kerumah sakit....
tapi sekarang sudah baikan kok
semoga KJM besok lebih seru lagi...
sekai lagi makasih...
^^
ahnku: mana komen-setelah-bacanya?
riski: haha, iman adalah wahyu yg belum saya terima.
Irwan: wkakaka.
Silahkan login untuk memberikan pendapat