Sebuah Permulaan (Bagian I) 2
Jumat, 30 Okt '09 17:36
Bermula dari sebuah pertemanan yang terjalin dari permainan malam. Kami merupakan rival belah bambu yang berbeda pulau, kebudayaan, dan tata cara penyajiannya, Oga namanya. Oga adalah keturunan Makasar namun orang tua-nya merantau ke Jayapura untuk mengadu nasib. Pada tahun kedua saya berkenalan dengannya berkat teman satu kelas. Hari demi hari berlalu hingga tanpa terasa hubungan pertemanan ini telah genap satu tahun.
Awalnya saya hanya melakukan guyonan untuk melakukan perjalanan ke pulau mutiara hitam (Papua) dimana Oga tinggal. Pada pertengahan tahun 2009 tepatnya pada liburan semester genap saya mendapat tawaran untuk membantu proses penggarapan warnet di Abpura, milik dari kakak lakinya. Tanpa melakukan perhitungan secara terperinci saya melakukan deal denganya pada saat orang tua saya telah memberikan ijin untuk melakukan perjalanan selama 3 bulan. Persiapan yang paling menjadi perhatian saya adalah penyakit Malaria, yang konon sangat berbahaya dan mematikan.
Persiapan hardware dan software telah lengkap dalam ransel mungil milikku yang akan menjadi peralatan tempurku dsana. 4 pasang pakaian dan 6 pakaian dalam (cawet) menjadi pelengkap kebutuhan pribadiku. Saya memutuskan untuk menggunakan jasa penyebrangan laut (Pelni) dengan harga 800.000 (saat itu) dengan memakan waktu selama 1 minggu perjalanan.
Akhirnya hari yang selalu dinanti-nanti telah tiba, waktuku saat ini seakan menjadi semakin gemilang seraya keberangkatanku menuju pulau kepala burung. Kujinjing semua perkakas perang yang selama setengah bulan ku persiapkan, ku masuki mobil travel yang akan mengantarkanku menuju pelabuhan tanjung perak. Selama kurang lebih 7 jam perjalanan dari Yogyakarta menuju Surabaya hanya 1 yang menjadi bayangan saat itu "Apakah aku akan kembali dengan jasmani dan rohani atau nama Achmad Fikri Faqih terukir indah pada halaman depan rumah ku?" menurut beberapa orang mengapa mesti takut, namun Oga hanya mengingatkan ku bahwa yang harus ditakuti di Papua bukanlah penyakit Malaria melainkan Organisasi Papua Merdeka (OPM), Orang mabuk, dan binatang buas.
Sang surya semakin meninggi sehingga membuat bayangan hitamku semakin tersipu malu akannya. Ku naiki kapal Labobar menuju Jayapura. Lorong sempit dan lembab mengelilingiku, binatang kecil dan kecoa mengiringiku sampai pada dek 4. Sekelilingku banyak sekali kesatria bebaju hijau dengan sepatunya yang tebal menambah kegagahan, siapa lagi kalau bukan pada Tentara Negara Indonesia (TNI) yang ingin kembali ke tempat dinasnya, sementara ini aku merasa sedikit aman akan adanya mereka disekitarku.
Perjalanan dimulai saat kapal telah sandar selama 2 jam di pelabuhan Tanjung Perak. Seiring keberangkatan kapal Labobar ini maka dimulai-lah perjalananku menuju Papua, dan adventure ini dimulai.
Terkait:
-
Mojok Sejenak di Bulan Puasa
Sabtu, 7 Agu '10 14:40 -
Batu Ponari Tak Mampu Sembuhkan Penyakitnya
Rabu, 26 Mei '10 20:25 -
Refleksi Nilai-nilai Ajaran Rasulullah SAW pada Masa al-Khulafa’ ar-Rasyidun
Selasa, 18 Mei '10 23:16
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Kemuning: Perlu
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat