Universitas Jember dan Toiletnya 11

Kamis, 29 Okt '09 08:28

Toilet adalah bentuk nyata dari pelayanan publik. Untuk melihat bagaimana pelayanan sebuah institusi, dalam hal ini institusi pendidikan, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan melihat bagaimana kualitas toilet institusi tersebut.

Di Universitas-universitas yang tergolong baik dalam segi pelayanan, maka paling banyak akan berjalan linier dengan bagaimana toiletnya ditata dan dirawat (meskipun pernyataan ini harus diverifikasi lagi dengan menghadirkan data-data empiris yang cukup)

Dan, inilah representasi dari pelayanan publik Universitas Jember, selamat menikmati pemandangannya.

 

 


Tag: Pendidikan, Unej, Toilet, Pelayanan Publik

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

hesaunderboard 0 0
janan sampai kena penyakit kelamin....................................... ..........wkwkw
FF Haq 0 0
kayaknya Unej tidak memperhatikan keperluan para mahasiswanya...... huh.....
emang Unej yang aneh...
alisyah 0 0
Ini karena pembedaan toilet dosen dan mahasiswa. Beginilah jadinya kalau ada diskriminasi
Oo Zaki 0 0
Zizek dianggap sebagai seorang intelektual yang berhasil mengkomunikasikan teks-teks kademik dengan hal-hal (yang dianggap) sepele macam toilet. Bagi Zizek, membicarakan toilet bukan sekedar bicara tentang sanitasi dan lain-lain, namun juga terkait erat dengan sesuatu yang ekstra-ideologis. Jika demikian, maka dari persoalan toilet sekalipun, kita bisa melacak bagaimana sebuah sistem dalam institusi (Unej) dioperasikan. Jadi tidak sesederhana, misalnya karena pemisahan toilet dosen dan mahasiswa, atau sekedar Unej tidak peduli dengan kebutuhan dasar mahasiswanya. Oke, itu iya juga. Tapi selain itu, dan yang lebih miris, bisa jadi ada "kebocoran" idelogis (kesadaran) dalam institusi.

Gimana? : D Kawan-kawan barangkali memiliki perspektif yang berbeda untuk melihat toilet. Share dong.. He. ; ))
hesaunderboard 0 0
toilet aja ga maju,gimana mahasiswanya maju...toiletnya stress,mahasiswanya stress,ckckck,bagaimana ini ditingkat pendidikan saja,kita tidak diajari bagaimana berfilsafat yang baik,mulai dar hal sepele,kita tak bisa kencing,berarti tidak bisa membuang hal yang buruk.....
bagaimana kita mau jadi yang terbaik,kalo tidak bisa membuang yang buruk,wuik,wuik,wik,bisa dilihat ini bukan sekedar hal sepele,tapi bagian penting dari sebuah institusi..sebuah toilet,sebuah pembuangan,sebuah filterisasi
hesaunderboard 0 0
toilet aja ga maju,gimana mahasiswanya maju...toiletnya stress,mahasiswanya stress,ckckck,bagaimana ini ditingkat pendidikan saja,kita tidak diajari bagaimana berfilsafat yang baik,mulai dar hal sepele,kita tak bisa kencing,berarti tidak bisa membuang hal yang buruk.....
bagaimana kita mau jadi yang terbaik,kalo tidak bisa membuang yang buruk,wuik,wuik,wik,bisa dilihat ini bukan sekedar hal sepele,tapi bagian penting dari sebuah institusi..sebuah toilet,sebuah pembuangan,sebuah filterisasi
Irwan Bajang 0 0
kalau mau lebih bagus, suruh aja dekan atau kajur bikin loket pembayaran...
kencing 500
boker 1000
kayak diterminal, siapa tahu kalau matanya ijo liat duit, kepala encernya berputar buat mencari keuntungan..
Hahahahaha...

si berang-berang 0 0
saya cuma mau bilang...
(nyolong Husserl),
'back to things itself.'
maka jangan dianggap toilet sebagai tempat pelayanan publik de el el...
karena toilet itu tempat buang kotoran,
jadi biarkanlah seperti itu.
wkakakkaa.
BJ 0 0
Antara hak (mahasiswa) dan kewajiban (rektorat)~
Anekdot lama. Diceritakan dalam sebuah penerbangan terdapat tiga orang sahabat, masing-masing berasal dari Amerika, Jepang dan Indonesia. Pesawat tiba-tiba mengalami kerusakan. Pilot mengumumkan kondisi tersebut dan mengaku tidak punya solusi. Pilot meminta semua penumpang u/ menyelamatkan diri masing-masing menggunakan parasut yang tersedia, karena pesawat segera akan segera meledak.

Si Amerika langsung memasang parasut dan melompat keluar sambil meneriakkan “God Bless America.” Tidak mau ketinggalan, si Jepang menyusul sambil meneriakkan “Banzaaaiii.’

Saat hendak bersiap-siap melompat, pilot melihat sekelompok orang belum memasang parasut. Mereka berbicara satu sama lain, sambil minum dan makan snack. Pilot menanyakan, “apa yang kalian lakukan, ayo cepat, pesawat akan segera meledak.” Orang-orang tersebut, yang ternyata adalah orang-orang Indonesia menjawab, “Sabar pak, Nyantai wae, kami musyawarah dan mufakat dulu.”

~ jajaran rektorat Universitas Jember kemungkinan besar lgi intens bermusyawarah dulu : p wkwkwkwk.
Yang menjadi pertanyaan sekarang SUDAHKAH MAHASISWA/i Unej mendapatkan hak penggunaan fasilitas? kalo belum, presuppositionnya adalah bahwa kuliah di UNEJ bisa dibilang gratis (alias tdk bayar sama sekali). Ini hanya sebuah praanggapan saja
Dick 0 0
tapi yg jugga perlu diingat bukan hanya tanggung jawab UNEJ tuh, kadang emang penggunanya yang kemproh!!wkwkwkwk.......!!!!!!!
bisanya cuna nyalahin doang
Dick 0 0
yang motret juga kali ya

Silahkan login untuk memberikan pendapat