Mengenal Bubuhan Banjar 2
Kamis, 29 Okt '09 10:13
KALIMANTAN, bisa diartikan "Pulau dengan sungai-sungai besar". Terdapat sejumlah sungai besar di Kalimantan beserta puluhan anak sungai yang mengalir membelah pulau yang luasnya mencapai tiga kali Pulau Jawa. Sebagian di antaranya berada di Kalimantan Selatan. Dengan penghuni terbesar adalah suku Banjar.
Suku bangsa Banjar diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya, setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa dinamakan sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan, terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala).
Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus, orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar (Kuala) mendiami sekitar Banjarmasin (dan Martapura).
Berbicara tentang peradaban masyarakat banjar, maka corak yang sekilas ditangkap adalah memang fase peradaban yang masih asli (klo tidak mau dikatakan tertinggal).
Memulai materialisme histories pada masyarakat banjar, tidak akan semulus teori yang dijabarkan oleh marx. Zaman pra banjar dapat dilacak keberadaannya pada masa pemerintahan pangeran suryanata dan puteri junjung buih di kerajaan Negara dipa. Dengan mangkubumi (selaku perdana menteri) yang terkenal yaitu lambung mangkurat. Fase sebelum ini lebih dikenal dengan istilah "Bubuhan" yaitu semacam ikatan / hubungan kekerabatan yang kental, semacam klan atau marga pada suku daerah yang lain di Indonesia.
Segala aspek kehidupan masyarakat Banjar berkelindan pada dua hal utama, agama dan kekerabatan. Apa pun konflik personal dan komunitas yang terjadi dalam etnis terbesar di Kalimantan Selatan tersebut dapat dirembuk lewat pendekatan bubuhan.
Di samping agama (Islam), urang (orang) Banjar dipertautkan pula melalui bubuhan. Konsep Bubuhan adalah semacam politik aliran masyarakat dikalimantan. Merunut sejarah warga kampung Banjar, bubuhan awalnya menunjuk pada identifikasi seseorang sebagai warga atau anak kampung, nama kelurahan atau lalawangan (wilayah setingkat kabupaten) tertentu.
Dalam perkembangannya, istilah yang berkembang pada zaman kesultanan itu tidak selalu mengacu pada nama wilayah. Saat ini bisa juga mengacu pada nama salah satu tokoh masyarakat setempat atau orang yang dihormati (jagau). Seiring perjalanan waktu, istilah bubuhan merujuk pada salah satu identifikasi keberadaan seseorang dalam konteks sosio- kultural masyarakat Banjar. Secara sederhana, bubuhan dapat dipahami sebagai suatu wadah orang Banjar dalam satu ikatan kekerabatan.
Pada akhirnya, meskipun secara umum bubuhan bersandar pada garis keturunan, lokalitas, atau kesejarahan, wadah kekeluargaan itu makin berkembang. Sifatnya kini relatif lebih terbuka bagi siapa saja yang berhasil ?memetakan? posisi dirinya dalam suatu kelompok atau komunitas.
Dalam konteks politik kekuasaan di wilayah ini, bubuhan sangat berperan penting. Kepatuhan masyarakat Banjar terhadap patron tokoh agama atau ulama dan tokoh masyarakat dapat menjadi nilai tambah terhadap konsep bubuhan.
Konsep Bubuhan menjadi sandaran untuk mencandrai eksistensi seseorang, melacak jejaring orang yang bersangkutan, dan akhirnya menetapkan orang tersebut kawan atau lawan dalam berpolitik.
Tak dimungkiri, bubuhan cukup memengaruhi opini konstituen di Kalsel. jika seorang caleg berhasil merangkai benang merah bubuhan dari orang-orang di sekitarnya? termasuk jejaring kekerabatan dari pihak istri atau suami, mertua, dan ipar? yang bersangkutan berpeluang memperkuat eksistensinya di mata konstituen. Ini disebabkan masyarakat Banjar menempatkan bubuhan sebagai bagian dari labelling seseorang dalam konteks sosial masyarakat.
Selain jaringan kekerabatan, kedekatan lokalitas, dan bobot kesejarahan keluarga, bubuhan juga terbangun dari kekuatan patron yang dimiliki calon kepala daerah atau caleg yang bersangkutan.
Bujur kalu?
Tag: lokalitas
Terkait:
-
DEMOKRATISASI PENDIDIKAN GUNA MEMBANGUN PENGETAHUAN
Selasa, 20 Okt '09 21:49 -
KRITIK PENDIDIKAN : DILEMA KESADARAN KRITIS MAHASISWA
Minggu, 18 Okt '09 15:50
Komentar:
wal hasil... anda bisa nilai sendiri...
Silahkan login untuk memberikan pendapat