Sumpah Pemuda Jilid II 8

Rabu, 28 Okt '09 02:44

"Kakek dan Nenek kita tidak ikut serta atau tahu apa itu sumpah pemuda? namun mereka tetap Indonesia bahkan paling loyal terhadap kemerdekaan dan kemajuan Indonesia"

Demikian celoteh nakal dari salah seorang teman yang terlontar beberapa bulan lalu dan sampai sekarang masih terngiang lekat dalam ingatan saya. Bila kita menelusuri lebih dalam makna dari ungkapan di atas maka anda mungkin sepakat bila sudah semestinya kita kembali merefleksikan peristiwa sumpah pemuda yang kini hanya menjadi ritus pemberhalaan sejarah. Seremonial yang diperingati berulang-ulang tiap tahunnya.

Dalam pengetahuan kolektif kita peristiwa sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 adalah suatu konsolidasi/kongres pemuda yang digawangi oleh serikat/organisasi pemuda seperti Djong Java, Borneo, celebes, Ambon, dll. Peristiwa tersebut dipandang sebagai momentum awal kebangkitan bersama dengan tiga pilar utama bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu. Inilah permulaan yang di-identifikasi sebagai titik pertemuan identitas kolektif manusia yang mendiami gugusan kepulauan dari Merauke sampai Sabang yang kemudian sepakat menjadi Indonesia.

Lantas bila demikian adanya, apakah loyalitas atas ke-Indonesiaan kemudian diukur dengan indikator-indikator normatif seperti yang tertuang dalam sumpah pemuda? Tiga pilar yang tertuang dalam sumpah pemuda haruslah dipahami sesuai spirit zamannya. Situasi sosial akan mempengaruhi kesadaran sosial. Bila demikian seperti itu adanya maka dapat dibayangkan bila Kolonialisme dan Imperialisme tidak pernah ada di Indonesia apakah akan muncul Sumpah pemuda? atau sumpah pemuda lahir karena kesadaran independensi-kolektif menuju suatu otoritas merdeka?

Bayangkan pada tahun 1928 manusia Indonesia pada saat itu berkisar 40-50 juta jiwa yang tersebar di pedalaman, pesisir, pulau kecil dan besar. Zaman dimana modernisasi mulai bersentuhan dengan masyarakat tradisional. Masih sangat sedikit yang memahami tulisan, transportasi dan komunikasi adalah barang mewah. Zaman dimana kita seakan hidup di dalam rumah kaca, hanya mampu melihat gemerlapnya dunia tanpa mampu menyentuhnya. Pada tahun yang sama masyarakat Alifuru di pedalaman pulau Seram Maluku tengah atau masyarakat Dayak yang hidup tentram ala komunal-primitif di pedalaman Kalimantan, mareka hidup damai dan merasa sebagai manusia bebas tanpa tahu apa itu VOC, Belanda, penjajahan, Sumpah pemuda dll. Namun mereka siap menjadi Indonesia. Bila demikian keadaannya lantas menjadi mentah hipotesa yang mengatakan bahwa sumpah pemuda berhasil menyatukan Indonesia untuk keluar dari penjajahan. 

konsolidasi sekian juta manusia bukanlah hal yang mudah. Sejarah mencatat bahwa Sumpah Pemuda hanyalah diwakili oleh segelintir intelektual muda tanpa basis masa yang jelas. Karena bila kita bandingkan dengan kekuatan ormas seperti Masyumi, Muhamadiah atau Sarekat Islam yang memiliki anggota ribuan bahkan jutaan tentunya memiliki daya jangkau yang luas dalam membentuk opini publik. Maka pertanyaannya seberapa besar basis massa yang dimiliki oleh Sumpah Pemuda? Sehingga seakan mampu mengorganisir manusia nusantara menjadi Indonesia.

Tanpa menghilangkan arti pentingnya Sumpah Pemuda dalam khasanah kesejarahan kita, ada baiknya kita butuh pembacaan ulang atas situasi kekinian. Memahami spirit zaman mungkin itu kata kunci untuk dapat merefleksikan ulang sumpah pemuda. Atau bila perlu Sumpah Pemuda jilid II harus segera disiapkan.


Tag: indonesia, Sumpah Pemuda, Spirit Zaman

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Irwan Bajang 0 0
Pagi ini aksi yo Bung!
Aku pakai baju apa ya?
wali songo?

Aha Gambreng 0 0
Hem.... Haruskah ada "revisi sumpah pemuda?"
djali 0 0
Aha Gambreng: apa yg anda maksud dengan "revisi sumpah pemuda"? menurut sy sumpah pemuda 81 tahun lalu itu merupakan strategi pemuda Indonesia dalam merespon situasi nasional karena didorong oleh perkembangan nasionalisme negara jajahan. Nah... sekarang situasinya sudah sangat jauh berbeda baik Internasional-nasional maupun lokal. Spirit zaman ini lah yg harus di baca agar pemuda (kita) menjadi menentukan strategi-taktik untuk bergerak. mengambil posisi dalam sejara dan menyejarah bukan hanya bukan hanya berbanga hati pada deklarasi 81 tahun lalu.
Bila kita memandang sumpah pemuda sudah final sebagai produk sejarah maka itu awal dari kemunduran kita sebagai entitas berbangsa dan bernegara.
bung hakim 0 0
Ngomong2 tentang pemuda, masih ingat lagu Pemuda Harapan Bangsa....Asal jangan seperti lirik lagu itu aja bung.
saiki sopo wae, pemuda kita yang berani menggulingkan rezim guse lepek ......
situ siap kagak?
djali 1 suka | 0
bung hakim: Gila referensi lagunya lawas bgt...

Siap dipimpin & siap memimpin...
matasapi 0 0
ah berbau SBY, jilid 2.
djali 0 0
matasapi: Sya tdk mngeri apa yg anda mksudkan artikel trsbut berbau SBY, jilid 2 ? biar komentarnya nga kayak anak SD klas 2 mungkin sy butuh pnjelasan sedikit, biar sy menegrti pandngan anda?
Irwan Bajang 0 0
bung hakim:
Lawas abis....PHB..
hahahaha
Lah Lepek sama Guse gak digulingkan aja, kalau disuruh mundur, mereka pasti gembira banget...
hahahaha
masalahnya sapa yang mau ganti? haha

Silahkan login untuk memberikan pendapat