“Tubuh sebagai mode perhatian” 2
Selasa, 27 Okt '09 11:13
Tubuh sebagai mode perhatian dalam pembentukan ruang cukup banyak diterapkan dalam rancangan-rancangan modern. Tetapi bagaimana "tubuh" sampai bisa menjadi perhatian dalam posisinya di dalam ruang, tentunya harus dilihat asal-muasalnya terlebih dahulu.
Dalam setiap masyarakat, tubuh senantiasa menjadi obyek kuasa. Tubuh dimanipulasi, dilatih, dikoreksi menjadi patuh, bertanggungjawab, menjadi terampil dan meningkat kekuatannya. Tubuh senantiasa menjadi sasaran ‘kuasa', baik dalam arti ‘anatomi metafisik' yakni seperti yang dibuat oleh para dokter dan filsuf, maupun dalam arti ‘teknik politis' yang mau mengatur, mengontrol atau mengoreksi segala aktivitas tubuh.
Bagi Michel Foucault tubuh selalu berarti tubuh yang patuh. Sumbangan utamanya bagi studi tubuh adalah analisisnya tentang kekuasaan yang bekerja dalam tubuh. Analisis utamanya adalah adanya kekuatan mekanis dalam semua sektor masyarakat. Tubuh, waktu, kegiatan, tingkah laku, seksualitas; semua sektor dan arena dari kehidupan sosial telah dimekanisasikan.
Tubuh Sekarang ini...
Lalu bagaimana yang terjadi pada jaman sekarang ini bermacam - macam cara dilakukan, tubuh dijadikan sebagai media untuk dieksploitasi habis-habisan. Tubuh dijadikan sebuah komoditi bagi "pasar". Tubuh dicoba disesuaikan dengan keadaan kumuh, kehidupan bangsawan, keadaan dalam komunitas urban dewasa ini. Menurut Marcel Mauss cara untuk mengetahui peradaban manusia lain adalah dengan mengetahui bagaimana masyarakat itu menggunakan tubuhnya. Tubuh adalah instrumen yang paling natural dari manusia, yang dapat dipelajari dengan cara yang berbeda sesuai dengan kultur masing-masing.
Lalu bagaimana dengan adanya bulan puasa ini (Ramadhan), bulan dimana seakan-akan orang semua bertobat kepada Tuhannya (Umat Islam). Semua orang baik laki-laki dan khususnya perempuan membalut tubuh mereka dengan busana-busana yang lebih sopan dan lebih religi. Pertanyaannya sekarang apakah busana-busana yang membalut tubuh mereka sebelum dan sesudah bulan ramadhan termasuk tidak sopan..? Apakah masyarakat sekarang ini cenderung latah, dimana setiap bulannya mereka selalu berganti-ganti busana yang up to date..?.
Mary Douglas adalah orang pertama yang melihat tubuh sebagai suatu sistem simbol. Dalam bukunya Purity and Danger (1966) ia mengatakan, "Sebagaimana segala sesuatu melambangkan tubuh, demikian tubuh juga adalah simbol bagi segala sesuatu". Dan dalam Natural Symbols (1970) ia membagi tubuh menjadi dua: the self (individual body) dan the society (the body politics). The body politics membentuk bagaimana tubuh itu secara fisik dirasakan. Pengalaman fisik dari dari tubuh selalu dimodifikasi oleh kategori-kategori sosial yang sudah diketahui, yang terdiri dari pandangan tertentu dari masyarakat. Jadi ketika bulan puasa (Ramadhan) pakaian yang pantas dikenakan untuk tubuh "Luar" adalah pakaian yang bernuansa religius, lain lagi ketika musim kemarau pakaian yang cocok untuk tubuh adalah pakaian yang serba terbuka karena panas tuenan (panas sekali) dan ketika musim penghujan pakaian yang cocok untuk membalut tubuh adalah pakaian yang serba tertutup karena dingin. Bagaimana dengan musim peralihan, apakah pakaian musim kemarau dikombinasikan dengan pakaian musim hujan...? Jadi bagaimana tuh modelnya saya juga bingung.
Sebagai contoh bisa kita lihat komunitas "Punk" dimana komunitas ini yang dulunya dikenal sebagai anti kemapanan, freedom, tidak terjebak dalam arus globalisasi, tidak dipaksa dan tidak memaksa. Tapi apa yang terjadi sekarang menjadi seorang "Punk" hanya perlu merogoh kocek dalam-dalam, macam membeli celana pensil dan bolong-bolong, kaos bolong-bolong, rambut di cat dan di model mohawk di salon. Kaum kapital yang memanfaatkan hal-hal semacam ini, kebutuhan akan tubuh yang menjadi trend sekarang ini tidak ubahnya seperti kegiatan bisnis.
Bukan Kesimpulan...
Kebutuhan untuk tubuh selalu diperhatikan oleh setiap orang yang ada di muka bumi ini (mungkin juga tidak semuanya). Ketika kita tidak mengikuti trend yang terjadi kita akan dianggap kuper, gak modis, bahkan mungkin dinilai aneh. Nilai kegunaan semu selalu lebih besar daripada nilai kegunaan yang sebenarnya. Kalo kita kembali ke jaman baheula dimana tubuh hanya dibalut sepotong daun atau juga kulit hewan, toh kita masih tetap hidup. Hanya mungkin ketika diterapkan pada era sekarang ini kita akan dianggap sebagai orang gila. Robert Hertz percaya bahwa pola pikiran masyarakat terefleksikan dalam tubuh. Persoalan-persoalan kosmologi, gender, dan moralitas mewujud menjadi persoalan-persoalan yang dialami tubuh.
Pencitraan tubuh biar dibilang seksi, atletis, cantik, cakep, dan sebagainya membuat semua orang berlomba-lomba mendapatkan ‘status' tersebut. Sehingga tidak aneh kalo kebutuhan eksploitasi tubuh akan selalu tinggi, macam produk kecantikan kulit, produk-produk pengkurusan tubuh (diet), operasi payudara, hidung bahkan muka dan kulit anda (bukan untuk menjelekkan Alm.Michael Jackson).
Mike Featherstone mengelompokkan pembentukan tubuh atas dua kategori: tubuh dalam dan tubuh luar ("The Body in Consumer Culture" [1982]). Yang pertama berpusat pada pembentukan tubuh untuk kepentingan kesehatan dan fungsi maksimal tubuh dalam hubungannya dengan proses penuaan, sementara yang kedua berpusat pada tubuh dalam hubungannya dengan ruang sosial (termasuk di dalamnya pendisiplinan tubuh dan dimensi estetik tubuh). Apa salahnya menjadi tua, keriput, tidak cantik lagi toh semua manusia pasti akan menjadi tua dan akhirnya mati.
Menurutnya dalam kebudayaan konsumen dua kategori itu berjalan secara bersama: pembentukan tubuh dalam menjadi alat untuk meningkatkan penampilan tubuh luar. Dalam kebudayaan konsumen tubuh diproklamirkan sebagai wahana kesenangan, ia dibentuk berdasarkan hasrat dan bertujuan untuk mencapai citra ideal: muda, sehat, bugar, dan menarik.
Persepsi tentang tubuh dalam kebudayaan konsumen didominasi oleh meluasnya dandanan untuk citra visual (logika kebudayaan konsumen adalah pemujaan pada konsumsi citra). Citra membuat orang lebih sadar akan penampilan luar dan presentasi tubuh. Iklan dan Industri film adalah kreator utama citra tersebut. Macam yang terjadi sekarang ini : perempuan yang cantik itu kulitnya putih sedangkan laki-laki yang ideal adalah yang bertubuh kotak-kotak (atletis) macam di salah satu iklan susu.
Seluruh bagian dalam dan luar tubuh kita semua ada harganya, yang saya maksud adalah seluruh tubuh luar kita ada asuransinya, bahkan asuransi jiwa ternyata juga ada. Sekarang tinggal kembali ke anda sendiri, apakah anda masih terjebak dalam lingkar kaum kapitalis, atau anda bisa mendeskripsikan tubuh anda sendiri sebagai kaum "Liyan". Pemanfaatan tubuh menurut nilai kegunaan yang sebenarnya harus lebih besar dari pada nilai kegunaan semu. Tulisan ini bukan untuk merubah cara anda mencitrakan diri anda, ini hanya sebatas memaparkan kondisi "Pertubuhan" yang terjadi sekarang ini.
Tag: pertubuhan
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Irwan Bajang: Perlu
-
Oo Zaki: Perlu
-
FF Haq: Bagus
Komentar:
Sepakat, kalau punk saat ini yang dulu (katanya) adalah sebuah bentuk perlawanan atas banyak agenda neoliberal pernah begitu menolak dengan gaya berpakaian, gaya musik dan gaya hidup yang menjauh dari kebanyakan orang modern (kasus punk Inggris di era revolusi Industri). Tapi lihatlah sekarang, celana punk, dan segala pernak perniknya telah menjadi bahan konsumsi dengan nilai jual yang tak bisa dibilang rendah. Banyak orang2 (baca: anak gaul tolol) berlomba2 membolongkan telinga, percing, dan berpakaian ala punk dengan merogoh kocek yang lumayan banyak. Tanpa harus tahu, bahwa spirit punk atau skinheald adalah spirit pemeberontakan kaum buruh dan tani yang tergilas laju modernisasi mesin2 baru di revolusi Industri Inggris.
Pasar sepertinya begitu kreatif untuk menilai calon konsumen abru. Bahkan (kalo boleh beropini nakal) jilbab dan pakaian muslim menurut saya adalah hasil hegemoni pasar yang sungguh sangat berhasil.
Telah banyak sekali pakaian islami yang dijual dengan harga yang mencengangkan, bukan lagi hanya menutup aurat (seprti dalih orang berjilbab--sebagai contoh--niat sebelumnya). Jilbab telah dijadikan sebuah komoditi dengan dalih identitas! Akhi dan Akhwat di kampus2 (sbg contoh) telah memilih style masing2, sama halnya dengan anak emo, punk, metrosex, penampilan regge, dangdut dll. Kalau regge ya gimbalin tuh rambut, kalau punk ya naikin ke atas, kalau dangdut biar kayak Saiful djamil aja. hahahaha. Tapi kalau kamu anak Rohis atau anak alim, pakailah baju ala kita2 yang islami, jilbab dan celana agak congrang buat akhi2... Aliran hidup kita beda, maka cara pakaian kita beda!
Bukankah dulu kita berpakaian sebagai adaptasi dari lingkungan? ketika musim hujan yang dingin kita memakai pakaian yang lebih tebal, berselimut di malam hari dan menggunakan kaus yang agak longgar di musim panas. Di negara2 yang manusianya masih berpikir rasional, budaya ini masih bertahan. Pakaian disesuaikan dengan situasi alam untuk bertahan hidup. Tapi lihatlah manusia kacau indonesia saat ini, jalan2 malam2 dingin pakai baju you can see dan celana pendek...masuk angin woyyyy!! mau gaya2 terus, padahal kelihatan makin tolol... lah, saking alimnya, madi di pantai pakai baju tertutup, bahkan jaket aja gak mau di buka...ckckckckckckckkkk
kacau kacau...kasian!
kabur aaaaaaaaaah....!!!
tapi hanya ini yang bisa saya lakukan pendekatan emosional dan penyadaran akan daya guna barang masih belum bisa saya lakukan, karena mau tidak mau hal ini sudah menjadi budaya "baru" di kalangan anak muda2 sekarang....
Silahkan login untuk memberikan pendapat