DISUMPAHI PEMUDA-PEMUDI 5

Selasa, 27 Okt '09 22:44

Pemuda-pemudi Indonesia masih ada.
Meskipun hanya dalam semangat semu tuk bertahan hidup di masanya nanti.
Masa depan yang telah dirampas orang-orang tuanya.
Orang tua yang seakan tak lagi bisa menyelamatkan regenerasinya.

Sumpah pemuda hanyalah memoar usang yang dibuka saat mendekati tanggal peringatannya.
Sebuah peringatan deklarasi ketidakmampuan orang tua membela diri dan keluarganya.
Pundak pemuda-pemudi terus dibebani dari masa ke masa hanya untuk memanggul beban kehidupan yang telah digadaikan tak tahu dimana.
Mereka tak lebih dari tumbal atas sistem ketidakadilan yang diterapkan orang tuanya.

Salahkah kemudian ketika pemuda-pemudi kini berebut jatah agar tak habis oleh kerakusan orang tuanya?
Haruskah dibenarkan perlakuan pemuda-pemudi yang lebih berhura-hura daripada orang tuanya, dengan alasan nanti tak kebagian?
Bukankah buah tak jatuh jauh dari pohonnya!
Jadi siapakah yang tak memegang amanah, pemuda-pemudi atau orang tua yang telah melewati masa muda-mudinya?

Sudah..sudah..ini takkan pernah ada akhirnya.
Apapun itu, pastinya pemuda-pemudi dicipta dalam kesempurnaan jasmani, rohani serta nafsu.
Maka camkanlah bahwa sempurna itu siap menerima konsekuensinya sendiri.
Tanpa syarat dan campur tangan kepentingan siapapun.

Untuk itu Kami Pemuda-Pemudi Indonesia bersumpah:
Demi tanah air Indonesia, pemuda-pemudi akan terus lahir dalam kesempurnaan.
Demi bangsa Indonesia, pemuda-pemudi akan terus membela kepentingannya kini dan masa depan.
Demi bahasa Indonesia, pemuda-pemudi akan terus menyuarakan apa yang menjadi keinginannya.

 

Untukmu Ibu Pertiwi,
Aku Cinta Indonesia Atas Keinginanku


00.01 WIB
UKPKM Tegalboto
Jember, 28-10-2008

 


Tag: Sumpah, Pemuda

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Dick 0 0
teruslah dalam sumpah sebagai warna dalam perjalanan kehidupan sebuah masa. hingga ruang dan waktu masih tersisa tuangkan segala asa sebagai perwujudan jiwa muda, agar tak seperti hantu yang katanya ada tapi tak ada ataupun tampak tapi tak berwujud.
bung hakim 0 0
Dengan situasi tersebut, dimana peran pemuda yang kita harapkan menjadi tenaga inti perubahan (revolusioner) sebagai katalisator antara proletar dan filosof, penyambung antara intelektual yang bekerja dengan pekerja yang terdidik, gabungan antara gerakan sektoral dan gerakan mahasiswa. Mengacu kepada RUU Kepemudaan yang baru digodog di DPR, menerangkan bahwa pemuda sebagai usia yang produktif yaitu antara 18 s/d 35 tahun. hal ini senada dengan kesepakatan Youth International, sektor kepemudaan ini akan didorong ke peran profesionalisme dalam rangka pembagian kerja (the division of labor) dan persaingan global (kompetitif).
Padahal ada yang bilang "beri aku sepuluh orang pemuda yang revolusioner akan aku rubah dunia" setuju nggak bung?
Oo Zaki 0 0
bung hakim: Setuju bung, dan "produktif" itulah yang harusnya diverifikasi ulang. B. Anderson pernah melihat pemuda sebagai peralihan antara masa kanak-kanak menuju remaja. Dalam masa tersebut pemuda cenderung melakukan sesuatu dengan ciri yang emosional, dan cenderung tidak menghitung untung rugi. Gusdur juga melihat ciri (emosional) tersebut sebagai salah satu kekuatan pemuda untuk tetap berada pada garda terdepan perubahan (ini sudah teruji sejarah).

Refleksi Soekarno dalam melihat pemuda seperti yang dikutip bung hakim juga bisa dipandang sbagai bentuk pengakuan Soekarno terhadap kekuatan kaum muda.

Tapi, ah, pernyataan anaksastra harus dijadikan sebagai sebuah pertanyaan, "apakah pemuda-pemudi Indonesia masih ada?"

: (
Irwan Bajang 0 0
acungkan tangan!!!
masih
masih
masiiiiiiiiih
saya,...
a kuuu


kamiiiiiiii


(wah...rame juga yang ngacun ya.....)
ayo bergerak!!!!
(loh kok malah pada bubar to)
yaaaaaaaah
FF Haq 1 suka | 0
sekecil apapun lilin akan tetap terlihat anggun dan perkasa saat kegelapan mencekam.
teruslah menjadi pelita bagi bangsa ini walaupun itu hanya sebagai lilin.....(kalau bisa senter apa bohlam aja denk)
^^

Silahkan login untuk memberikan pendapat