Pemanasan Lokal 7

Senin, 26 Okt '09 09:15

 

Titik api merajalela di bumi antasari, Kalimantan Selatan yang mempunyai 90% struktur tanah gambut ini setiap hari terjadi kebakaran pada puluhan lahan dan hutan disepanjang jalan propinsi dan kabupaten. Ditambah dengan kebakaran lokal dirumah-rumah daerah kumuh penduduk padat perkotaan yang semakin mengharubiru suasana paska lebaran ini.

Efek lanjutannya adalah kabut tebal menghiasi awal hari dengan bau gosong yang menyengat hasil kebakaran gambut, disusul dengan semakin menipis persediaan air minum, sumur bahkan sungai sudah mulai mengering., pemadaman listrik bergilir dan masuknya air laut ke sungai menambah deret panjang cobaan masyarakat kalangan bawah setelah berhasil melewati ujian puasa pada bulan ramadhan kemarin.

Berbeda dengan pemanasan global yang digembor-gemborkan dan masih berlanjut sampai sekarang pembahasannya pada tingkat dunia yang diikuti beberapa kepala Negara termasuk presiden RI. Global Warming dalam arti menipisnya lapisan ozon akibat banyaknya aktivitas kimia pabrik raksasa tingkat dunia yang berada di Negara maju akan mengubah bahkan merusak alat produksi dalam arti tanah, air dan udara yang semestinya untuk kesejahteraan manusia. Ringkasnya memilih kepentingan manusiakah atau kepentingan modalkah?

Disini, dibanua kita ini, kita masih mengejar kepentingan perut masing-masing saja masih berebutan dan belum memadai. Akan tetapi ditengah kebutuhan sandang pangan dan papan saja belum sejahtera bukan berarti tidak bisa menyuarakan kepentingan manusia secara umum? Apalagi menjelang pilkada 2010 genderang perang mulai ditabuh para kandidat yang akan maju sebagai gubernur. Mulai iklan, spanduk bertaburan semakin menambah panas suasana yang memang sudah benar-benar puaaanas. Dari mencuri start kampanye, loby-loby politik, menjalankan mesin partai dan tidak ketinggalan menanamkan tim sukses-tim sukses disetiap lini masyarakat lokal.

Papan catur telah digelar, para ponggawa sudah menyiapkan jurus andalan masing-masing, pencitraan tokoh mulai dibangun, sistem religi masih relevan mendulang suara, yang paling berbahaya adalah menggunakan issu SARA sebagai jurus rahasia. Ini berbahaya bagi bidak-bidak yang mudah dimobilisasi. Ketakutan kita adalah konflik terbuka (horizontal). Cukup tragedy banjarmasin kelabu Mei 97,  sebagai peringatan.

Semoga Pemanasan Lokal ini akan segera mendapatkan siraman hujan sebagai obat sekaligus solusi dari suasana yang memang sudah panas betuuuul. Bujur klo?

 


Tag: Lingkungan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Aha Gambreng 0 0
hem... bingung aku harus menulis apa... tak sedikit peristiwa serupa terjadi di bangsa ini... terlebih siaran kemewahan iklan di TV sering membuatku gereget untuk......
bung hakim 1 suka | 0
Memang bingung bagian dari pembelajaran, yang penting khan jangan pernah berhenti belajar. Menurut Buku yang gue baca sih "Belajarlah dari buain ibu (Lahir) sampai liang lahat (Mati)".
tabik
n_n
Aha Gambreng 0 0
oke... terimakasih...
Irwan Bajang 0 0
Bung simbah:
menurut diskusi gue & kawan2 di kontrakan sih" kita harus banyak belajar karena "ketidaktahuan adalah aib dan membiarkan orang pada ketidak tahuan adalah khianat"
bung hakim 0 0
wah... pram banget neh. siip lah. moga lahir generasi pram yang baru. eh, buku-buku mu bagi-bagi dong.
Irwan Bajang 0 0
lu pakai gue2 lagi....nyebut mbah, nyebut. mau jadi anak gaul jakarte lu?
hehehehehe
nanti dikirmkanlah Bung..tunggu aja
m2t 0 0
tulisan yg luar biasa bung....
genderang perang dah berakhir..
akankah jnji yg menang akan terwujud?
tdk ada yg tahu!!!
akankah tdk ada lg kabut asam setelah menteri lingkungan hidup dr kalsel?

Silahkan login untuk memberikan pendapat