Budaya Demo budaya kurang efektif 8
Sabtu, 24 Okt '09 00:43
Turunkan harga…….,turunkan mentri……………..,kami ga setuju dengan………….hidup....................,begitu kira2 suara-suara lantang yang berkoar didepan gedung dprd maupun dpr pusat,puluhan barisan orang berkoar-koar,rela berpanas-panasan,menyerukan aspirasinya,ga jarang bentrokan juga terjadi,karena mereka dilarang,ok…ok….massa yang sebegitu banyaknya ngertikah mereka apa,untuk siapa,dan mengapa mereka ada disitu,ah saya rasa iya,tapi saya pikir juga kok rada gila,sebagai orang yang logis,mereka tidak berfikir,apa mereka didengar oleh orang atau instansi yang didemo,padahal secara logika justru para pemimpin,ato birokrat sedang asyik-asyikan duduk tenang melihat dari jendela dengan guyuran dingin ac,para demonstran yang kepanasan diluar sana.berkoar-koar ga jelas.
Beginilah budaya didalam bangsa kita,ketika suatu keadaan tidak sesuai yang diharapkan,orang2 turun kejalan, bahkan hal itu sudah dikordinir oleh orang2 tertentu dengan memberi masa amplop beerisikan kertas bernominal,yang mendorong dan menggerakan massa untuk berkoar di tempat tujuan.hal seperti inilah yang kadang-kadang mengundang anarkisme di bangsa kita,bahkan tak sedikit jiwa yang melayang sia-sia.
Bukankah lebih baik,kalo kita mengajukan secarik kertas proposal demo ke massa,sehingga massa tau untuk apa,mengapa,siapa,demo ini dajukan atau ditunjukanbukankah kita ingin bangsa ini cerdas,pintar,sehingga peringkat kita di dunia bisa naik lah minimal 20 besar
Inilah sebuah mental,kultur,yang memang telah ada sejak dari dahulu di bangsa ini,bukan nggak bisa dirubah,tetapi nggak mau sadar untuk berubah.
Marilah bersama kita mancari solusi dari keadaan ini,membuat penyaluran aspirasi rakyat menjadi lancar dan sampai tujuan,dengan tepat,bukankah bangsa ini mempunyai aturan tata karma yang sudah ada sejak jaman nenek moyang kita…???bukankah budaya permisi,dan kesopanan jadi no 1,
Marilah kita demo dengan tepat,datang saja langsung ke birokratnya dengan sopan .dan serahkan tanda tangan pendemo dengan proposal masalah,cukup 1-3 orang yang berhadapan dngan birokrat,
my solution:
- Carilah masa yang seiman,maksudnya sama aspirasi,dan salurkan aspirasi kepada ketua demo,
- ketua demo menriama aspirasi dengan media tulisan-tulisan
- Ketua Demo wajib bertanggung jawab kepada aspirasi massa,
- Aspirasi disalurkan dalam bentuk sebuah proposal
- ketua demo dan anggotanya datang kepada birokrat untuk memberi aspirasi rakyat dalam bentuk proposal,bukankah lebih tertib dan aman,selain itu ga panasssssssssssssssssss coyyyyyyyyyy
- Setiap Dprd Dibuatkan 2 kotak aspirasi rakyatsatu kotak untuk dprd,satu kotak dpr pusat,jika ingin menyuarakan aspirasi, tinggal tulis dan masukan ke kotak aspirasi,setiap hari wajib dilakukan rekap sebagai kritik rakyat atas kinerja pemerintah
Bagaimana solusi mu hai mahasiswa………???
Tag: politik
Terkait:
-
Soetadji, Korban Stigmatisasi PKI : Perjuangan Melawan Lupa
Kamis, 16 Jun '11 01:37 -
Fundamentalisme Agama dan Imperialisme – Bersekutu atau Berseteru?
Selasa, 3 Mei '11 15:39 -
GERAKAN TOLAK KOMERSIALISASI PENDIDIKAN
Jumat, 15 Apr '11 17:17
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Biasa
-
Irwan Bajang:
Komentar:
meski saya tidak pernah ikut demo di jalan (karena demonstrasi saya di tulisan), mengambil arti penting karena banyak cara meluapkan pendapat. entah diletakkan di awal, akhir, atau bebarengan saat mendemonstrasikan "suara".
tinggal gimana aja ngaturnya sich. settingan "chaos" atau "damai", bisa jadi juga mungkin "tarik suara" itu hanya sekedar ingin dibilang masih tampil eksis.
dari sini saya bisa menyimpulkan, ternyata Anda sendiri juga tidak memiliki budaya "menghormati" antar sesama. hormati dan pahamilah mereka! tidak ada syarat yang mengatur demo. terserah yang demo. cerdas dan tidak cerdas tidak terlalu penting. karena mereka digerakkan dari masalah yang mereka lihat, mereka rasakan, itulah ekspresi adegan-adegan mereka. pahlawan bangsa yang patut menerima tanda jasa.
Demonstrasi memang penting,karena kita adalah negara demokrasi,semua yang diputuskan oleh pemerintah,adalah harus murni dari rakyat,dan untuk rakyat,disini saya tidak mengharuskan,memaksa,apapun hak orang.
tulisan ini saya buat hanya bagaimana kita mencari solusi suara aspirasi kita,efektif sampai ke birokrat,dimana kita tau sendiri mental-mental bangsa kita yang belum sempurna.....,tidak ada yang salah kita turun ke jalan,bahkan saya menginkan jika pendemo bisa langsung merangsek masuk kedepan meja birokrat,agar birokrat2 yang bermental"tempe".bisa mendengar kegundahan rakyat akibat sistem terapan mereka yang salah.
ok sob,lanjutkan terus perjuangan bangsa kita,walau tidak ada pahlawan bersenjata,lagi,di negeri ini,tapi pahlawan suara aspirasi,harus tetap berdiri tegak di negara ini,Hidup indonesiaaaaaku..............
tapi, mari kita pandang lagi. tidak semua demo mahasiswa itu menolak... banyak demo yang justru mendukung. seperti aksi BEM SI ke KPK untuk mendukung keberadaan KPK. Aksi mahasiswa pada pemilu dan aksi-aksi lainnya. tapi, sekali lagi, MEDIA adalah propaganda yang paling berpengaruh. entah mengapa. media sangat senang mengangkat berita rusuh. sehingga, mungkin anda adalah salah satu korbannya. orang menganggap demo itu adalah hal yang brutal dan anarkis...
sehingga apa yang dimaksudkan sebagai arti demonstrasi,dapat diterima oleh masyarakat dengan tepat.Hidup Pers mahasiswa,hidup pers Indonesiaaaaaa..
Apakah demonstrasi menurutmu itu harus face to face antara terdemo danmendemo? Wao... Alangkah kacaunya kalau begitu.. 1998, ketika mahasiswa menggelar aksi demonstrasi, Soeharto tidak sedang di Indonesia. Ketika seorang mahasiswa misalnya sedang melakukan aksi di Papua, apakah SBY sedang ada di depan hidungnya? atau ketika Gerakan Zapatista melakukan aksi di Amerika Latin, apakah presiden yang mereka demo di depan matanya? jawabannya dalah: TIDAK!
Demonstrasi itu sesungguhnya bukan menuntut dan berhadapan langsung, bukan pula protes "Turunkah harga BBM, kalau tidak kami bakar kantor ini!" tapi demonstrasi sesungguhnya adalah pendidikan massa, bahwa dengan kamu berorasi di jalan, rakyat yang lewat mendengarakan apa yang menjadi keluhanmu. Pendidikan massa ini yang paling penting Bung, bukan tuntutannya.
Yang paling penting saat demo kenaikan BBm misalnya (sebagai contoh) adalah memberitahu masyarakat bahwa demo itu sah dilakukan karena ada alasan lain menolak, misalnya, kita adalah anggota OPEC, Negara adalah tempat rakyat bernaung dan wajib memberi pelayanan kesejahteraan berupa subsidi, dan lain sebagainya.
Kasihan mahasiswa Sulawesi kalau harus demo presiden dan wajib bertemu ke istana negara... kasian juga kita kalau menolak kebijakan investasi Amerika di Indonesia dengan harus terbang ke US untuk ketemu Obama dan pakai megaphone di depan mukanya...
wah..kacau kalau kita berlogika kayak gitu.
kalau kamu menganggap demonstrasi nggak penting, berarti kamu mengabaikan parlemen jalanan dan kamu berpandangan liberalis, bahwa dunia baik2 saja, semua berjalan sesuai rencana, ada hukum ideal yang mengaturnya dan ada manusia patuh yang akan mengawalnya. Ternyata dunia nggak baik-baik saja, kawan, MPR DPR nggak selamanya menjunjung aspirasi rakyat... ada kalanya juga tulisan kita di forum ini nggak dibaca sama mereka. Maka turun kejalan adalah salah satu bagian dari cara aspirasi, cara lain bisa lewat melukis, bisa lewat film, bisa lewat tulisan.
Nah, parlemen jalanan, di banyak negara, di banyak sejarah telah membuktikan bahwa cara itu efektif untuk melakukan perubahan. Adakah revolusi Iran, kalau Imam Khomaini hanya berdoa di masjid dan tidak mengajak rakyat Iran turun ke jalan? Apakah Revolusi Venezuela bakal terjadi kalau Chaves tidak mengajak masa aksinya menggelar unjuk rasa sepanjang jalan di negaranya. Apakah Indonesia akan merdeka kalau soekarno tidak mengadakan puluhan kali rapat raksasa di Ikada?
BTw, kalau boleh usul, tulisan yang diposting pakai bahasa baku kayaknya lebih enak dibaca deh, sama tanda bacanya juga diperhatikan, biar kesan pers-nya terlihat. Kalau komen, bolehlag pakai bahasa gaul, biar gak terlalu kaku kayak seminar skripsi.
Berarti, kan harus dilihat media siapa dulu yang melakukan itu, to Bro. Gak semua media itu bai, netral dan berpihak pada rakyat. banyak media yang juga merupaka antek2 dari sebuah lembaga, kekuasaan, atau sebuah organisasi... sebagai insan pers tentunya hal2 semacam itu harus sudah bisa dianalisa. Pemenangan hegemoni oleh TVRI di jaman Orba, bisa jadi acuan, bahwa betapa media memberi sumbangsih yang besar pula pada penindasan...
Atau coba amati bagaimana Metro TV dan TV One memberitakan Golkar dan tokoh2nya menjelang pemilihan ketua umum kemarin...
bagaimana TV One memberitakan pemilu, bandingkan dengan SCTV dan ANTV..beda kan? karea orang2 lain di belakangnya berbeda misi dan punya kepentingan yang beda pula...
Lah, wong berita Ahmad Dani cerai sama Maia aja beda kok versi TPI sama yang lainnya...TPI lebih mendukung Dhani, sementara Tv lain netral2 aja...
Turun jalan paling bnyk digunakan setelah jalur2 diplomasi gagal. Jadi bukan tentang efektif g efektif. Semisal bhmn dan bhp, stdknya sejak 2003, sudah ada upya2 pengawalan "ygromantis," salahsatunya judicial review, namun gagal. Turun jalan (baik sblm dan sesudah penggedokan akhir 2008) juga gagal. Sementra pembangkangan sosial bkn hal kecil ygbs dgn mudah diwujudkn, walaupun bs, konsekuensinya jg besar. Sudut pndang ygkm pakai melihat turun jalan betapa sempit, diterawang dr unsur terluar pula.
@irwan bajang:thank's masukannya
," tapi demonstrasi sesungguhnya adalah pendidikan massa, bahwa dengan kamu berorasi di jalan, rakyat yang lewat mendengarakan apa yang menjadi keluhanmu. Pendidikan massa ini yang paling penting Bung, bukan tuntutannya.
dengan begitu kita semua bakal tahu arti pentingnya demonstrasi turun ke jalan,bukanlah sekedar tuntutan,tapi juga mengajak rakyat untuk sadar apa yang sedang terjadi pada bangsa kita.
Masalah penulisan saya mencoba membuat sebuah artikel dengan kata tidak baku,atau bahasa sehari2,mungkin sampai,bahasa nyeleneh,sehingga orang menarik untuk membaca dan mampu diterima,istilahnya pada musik,easy listening,sedangkan pada artikel saya mungkin "easy reading",hahah.sehingga ga membosankan seperti tulisan pada skripsi.untuk tanda baca mohon maaf,karena proses editing yang singkat,lain kali bisa dijadikan perbaikan.
@Oo Zaki:thank's juga masukanya,disini saya mencoba menelaah demonstrasi dari unsur sempit,demi memberi pengetahuan kepada berbagai pihak,karena selama,ini yang saya dengar dilapangan ketika demo terjadi dilapangan,adalah orang2 mengeluh jalan jadi macet karena demo,kemudian teman-teman kita yang ga sadar politik,cuma bisa berkata"ngapain panas2,mau aja disuruh berdiri disitu".jadi dengan artikel ini,bisa diharapkan menjadi artikel berikutnya yang menjadi masukan kepada khalayak umum betapa pentingnya demonstrasi itu.dan merupakan bagian dari wawasan nusantara kita yang luas.
Silahkan login untuk memberikan pendapat