Mahasiswa Siap Jadi OPOSISI 11
Rabu, 21 Okt '09 15:12
Pelantikan Presiden Republik Indonesi telah diselenggarakan pada hari selasa, 20 Oktober 2009. Presiden terpilih masih merupakan presiden sebelumnya Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono namun kali ini didampingi oleh bapak Boediono. mereka berdua akan memimpin Indonesi untuk lima tahun ke depan.
Saat ini, SBY tengah sibuk dalam pemilihan mentri untuk kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Calon-calon dari setiap partai koalisi sudah di telpon ke Cikeas dan tengah sibuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Semua partai politik berebut untuk mendapatkan jabatan sebagai 'pambantu' presiden. Tak tertinggal PDIP dan Golkar, dua Partai Politik saingan Demokrat saat pemilihan presiden lalu. Mereka lebih memilih untuk bergerak mendukung pemerintahan SBY ketimbang menjadi partai Oposisi mengawasi perjalanan pemerintahan.
Melihan pada kondisi ini. tentu saja mengadirkan kekhawatiran bagi mahasiswa. Kebebasan pemerintahan tanpa OPOSIS dikhawatirkan akan membawa Indonesia untuk kembali pada zaman pemerintahan orde baru. Pada saat itu tidak ada Oposisi. semua politikus memihak pada penguasa. Keputusan penguasa adalah mutlak. dan setiap yang berbicara akan 'hilang' dari peradaban.
Dalam aksi mahasiwa yang digelar pada 20 oktober 2009. Tulisan mahaiswa menyebutkan "SBY bukan Raja" "DPR banci, Mahasiswa Siap Jadi Oposisi" pernyataan ini merupakan aksi mahasiswa sebagai fungsi kontrol terhadap pemerintahan. Kita tidak akan kembali ke orde lama. Mahasiswa adalah Kontrol politik. Hidup Mahasiswa !!! Hidup Rakyat indonesia !!!
_____________________________________________________________________
Tag: Pelantikan presiden, SBY, Boediono, oposisi, partai
Terkait:
-
HILANGNYA ROH OPOSISI
Rabu, 7 Jul '10 15:52 -
Negeri Para Bedebah
Minggu, 31 Jan '10 07:31 -
Kita koalisi juga donk!
Kamis, 22 Okt '09 12:35
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Rizki: Perlu
-
si berang-berang: Responsif
-
Oo Zaki: Biasa
-
FF Haq: Biasa
-
arman dhani bustomi: Responsif
Komentar:
nnti SBY g bisa jadi diktator.
nnti Indonesia malah demokratis.
Dahulu, di Itali waktu fasis, Gramschi, dengan harap-harap cemas menunggu datangnya revolusi seperti yang diramalkan Marx. Bahwa ketika proletar tertindas, maka secara alamiah, mereka akan mengumpulkan diri untuk melakukan perlawanan (revolusi). Gramschi kita pahami sebagai "penerus Marx yang taat."
Namun apa yang terjadi? Revolusi tidak pernah terjadi di Itali. Padahal kekuasaan waktu itu sudah benar2 menindas kelas bawah. Dari sanalah teori hegemoni kemudian lahir. Gramschi melihat ada sesuatu yang salah dengan teori Marx dan dengan keuasaan waktu itu, semacam amputasi kesadaran yang sama sekali tidak disadari. ... Baca Selengkapnya
Lima tahun mendatang, hegemoni yang jauh lebih kompleks akan beroprasi. Dan, kita tidak punya bayak pilihan selain melakukan modifikasi2 terhadap hegemoni Gramschi sampai titik paling fungsional untuk melihat kerja pemerintahan, lokal maupun nasional.
Lima tahun mendatang, bisa jadi adalah "seratus tahun kesunyian."
Siapakah yang bertanggung jawab untuk memutus rantai hegemonik tersebut?
"Intelektual Organik," kata Gramschi. Intektual Organik. Intelektual Organik.
Arya Dwipangga, lupakan revolusi segera..
Saya salin khusus untukmu.
“Oposisi ekstra parlementer adalah oposisi tanpa hasrat berkuasa.”
Barangkali artikel ini terjawab juga dengan artikel terbaru saya..hehehehe
fenomenologi hussler kan mengingatkan kita untuk jangan ngaceng dulu. liat aja 2-3 bulan lagi.
kalo kebijakannya memang bajingan ya bajingan aja, jangan pake kacamata kuda.
katanya objektif, berimbang, kok malah busuk2an sendiri
aku belum pernah ke Italy, Zak. belum pernah kenalan dengan Cak "Gramski", apalagi dengan Pakde "Husrel".
aku cuma bisa merasakan "lapar" itu. seperti kebanyakan orang, yang mengais sampah sekedar bertahan hidup.
tidak "hegemoni", yang sekedar menindih Mbah "Marx".
tidak "fenomenologi", yang melulu tiap diri dapat melakukan perubahan.
dari sini benar apa kata Mbah Marx (meski dia banyak salah di sana-sini); hidup hanya sekedar persoalan untuk makan dan minum. muncullah agama, negara, koalisi, oposisi, mahasiswa, kelas...
kesadaran tidak bisa dirasakan. di mana, dan sebelah mana dari tubuh yang lapar ini, jangan-jangan kita terjebak dengan klasifikasi kesadaran (kejiwaan) Om "Frued" (maaf, jika terlalu "Lebay"). orang "kampung(an)" dapat merasakan dampak mahalnya gas elpiji, pendidikan mahal sudah menjadi obrolan keluarga. mereka hanya ingin menikmati kekayaan alam yang disabotase pemerintah ini. mereka hanya ingin ada lumbung padi yang ternyata terkena sistem pajak, lahan dibuat beraspal.
tidak usah jauh-jauh ke Italy, cukup di sekitar kita saja.tidak usah menunggu seperti yang dilakukan Cak Gramsci. cukup Revolusi dalam diri. menumbangkan semua yang ada, yang tidak sekedar saling menindih antar kelas, membaliknya;seperti yang Mbah Marx inginkan, seperti yang ditunggu Cak Gramski. yang ada hanya ciptakan kehancuran tatanan, "Bakar Tiap Pulau yang Kamu Kunjungi". maka wajar negara takut dengan Revolusi itu. tidak teramat penting koalisi yang dilakukan pemerintah sekarang. sama tidak pentingnya kita butuh bertumpuk-tumpuk orang untuk melakukan oposisi, yang diidealkan para mahasiswa; "memfungsikan" fungsi kontrolnya.
sekali lagi, Zak, hancurkan semua tatanan, apapun itu istilah yang dipakai. tumbangkan. dan, segerakan REVOLUSI.
emang kalo revolusi harga2 gak mahal ya mas?
inilah konsekuensi negara yg menganut sistem demokrasi-liberal, meskipun saya selalu mempertanyakan ke-demokrasi-an dan ke-liberal-an, yg seringkali tidak menautkan ketegangan2 diantaranya.
singkatnya,
kalaupun revolusi, adakah yg menjamin setelah revolusi tidak seburuk sekarang?
kalo semua orang setuju kemana arah kita setelah revolusi, pasti membahagiakan...dan, semua pasti tahu, bahwa tanpa revolusi-pun kita bisa berdaya.
atau,
pembangkangan sipil mungkin..
hehe
retoris!
Silahkan login untuk memberikan pendapat