Ecpose Bukan ”Komunis” 11
Sabtu, 17 Okt '09 04:17
Kejadian ini terjadi pada suatu siang yang terik di bulan Ramadan. Seorang teman saya, yang juga ecposer, dengan nikmatnya menghisap rokok kesukaannya di depan sekretariat kecil kami. Dia tidak sendiri. Di sampingnya ada salah seorang pegiat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Alam Mahapena yang menemaninya ngobrol. Juga sedang menghisap rokok. Betapa nikmatnya kedua pemuda itu, saya membayangkan.
Namun kenikmatan kedua pemuda itu terganggu dengan adanya mahasiswa yang lewat di depan mereka. Salah satu dari mahasiswa itu membisikkan kata pada kawannya, "Iya, dari dulu Ecpose memang komunis." Maksudnya berbisik tapi entah mengapa terlalu keras hingga terdengar oleh kedua pemuda itu. Teman saya lantas tersentak. Dan membalas perkataan mahasiswa itu, "Bukan Ecpose saja, ini ada juga Mahapena." Teman saya tidak terima, karena hanya Ecpose saja yang dibilang komunis.
Mendengar cerita itu, saya jadi geli. Memang kedua pemuda, menurut saya, sedikit tidak sopan dengan merokok di depan umum, karena saat itu bulan puasa. Namun lebih tidak sopan lagi, mahasiswa yang mengatakan Ecpose dari dulu memang komunis. Lantaran ada sesorang yang di depan sekretariat Ecpose yang merokok di bulan puasa, Ecpose langsung dicap komunis.
Tapi menurut saya, yang dimaksudkan oleh mahasiswa itu istilah komunis dimaknakan tidak beragama. Komunis diartikan an sich tidak beragama merupakan kesimpulan umum yang dipahami oleh masyarakat yang terdidik "dengan baik dan benar" di bawah rejim otoriter Soeharto.
Singkatnya, karena teman saya itu merokok di bulan puasa berarti dia tidak beragama. Lebih parahnya lagi, karena merokoknya di depan sekretariat Ecpose berarti Ecposenya pun komunis (baca: tidak beragama).
Sebelum membahas lebih jauh tentang Ecpose beragama atau tidak, mari kita bahas dahulu pandangan Karl Marx mengenai keberadaan agama. Agama yakni -dalam konteks ini Kristen ketika itu- dipandang Marx sebagai candu masyarakat. Sebagai bagian dari gejala sosial, agama diletakkan dalam kelompok bangunan atas dari stuktur masyarakat. Dari sini lahir kritik Marx atas agama. Di mana para pendeta dan pembesar gereja bersekutu dengan penguasa.
Agama yang awalnya menjadi penyebar kasih dan pembela hak-hak kaum tertindas, sebagaimana disampaikan para nabi pembawanya, justru menjadi alat penguasa dalam melanggengkan kekuasaan dan penindasan. Di saat masyarakat kelaparan dan tertindas agama justru menyarankan untuk bersabar, karena itu adalah ujian dari Sang Pencipta. Tanpa disertai menjawab pertanyan subtansial tentang mengapa mereka mesti kelaparan. Menurut Marx menjadi sebab dari kenyataan yang demikian itu adalah kaum kapitalis yang bersekutu dengan penguasa dalam memeras keringat rakyat kebanyakan untuk memperkaya diri.
Marx sendiri sejak awal telah berkotbah tentang dirinya yang ateis. Dalam tesis doktoralnya di Universitas Jena ia mengutip ucapan Promoateus- dewa yang makar terhadap Zeus- bahwa ia tidak mau melepaskan sikap fasiknya dan tidak mengakui Allah dan tidak mau ibadah terhadap ilah-ilah. Pendeknya ia menaruh dendam terhadap semua ilah "in sooth, all goods i hate."
Agama membuat rakyat tertindas jauh dari realitas yang sebenarnya. Dalam buai janji-janjinya agama malah meninabobokakan masyarakat. Pada akhirnya agama tidak lebih dari ilusi-ilusi, karena itu Marx mengatakan, "Penghapusan agama sebagai suatu kebahagian palsu dari rakyat adalah merupakan kebahagian nyata bagi rakyat, itulah tuntutan-tuntutan untuk menolak suatu keadaan yang membutuhkan ilusi-ilusi. Maka kritik agama pada dasarnya adalah kritik terhadap lembah air mata yang mahkotanya adalah agama."
Lebih jauh lagi analisa Marx tentang Agama. Dia berpandangan jika agama merupakan perwujudan dari ketidakmampuan manusia dalam menghadapi dunianya. Jadi menurut Marx, manusia tidaklah diciptakan Tuhan, tapi maniusialah yang menciptakan Tuhan. Namun untuk membahas pasase Marx itu lebih mendalam akan banyak berbicara soal teologis. Saya merasa belum memiliki kemampuan untuk membahas itu. Jadi pembahasan tentang pasase Marx di atas saya tangguhkan.
Bagi saya, kritik Marx atas agama sebagai candu masyarakat adalah nyata. Bukan hanya di eropa dengan Kristen ketika itu, namun juga di Indonesia sampai saat ini. Kita lihat saja para dai yang berpenampilan necis di televisi, dengan santainya menyuruh rakyat yang kelaparan untuk bersabar, karena itu bagian dari cobaan Tuhan.
Masih nyata juga dalam ingatan saya pasca kejadian banjir bandang di Panti awal 2006 silam. Pada Jum'at setelahnya di masjid dekat rumah saya, daerah yang juga terkena imbas dari banjir bandang, mengatakan bahwa banjir bandang merupakan ujian dari Allas SWT. Tidak disampaikan pula, bahwa banjir terjadi karena hutan di atas sana telah gundul akibat pembalakan liar yang dilakukan para oknum tertentu. Hal seperti ini yang dimaksud Marx, agama adalah candu masyarakat.
Kembali pada pertanyaan apakah Ecpose tidak beragama? Saya jawab iya, tentu saja. Dalam AD/ART-nya tidak dicantumkan aliran agama tertentu. Tapi manusia-manusia di dalamnya, saya yakin, memiliki KTP yang tercamtun nama salah satu agama meski berbeda-beda. Dan mereka pun menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Ketika rapat pun selalu ada jeda untuk menghormati mereka yang Islam dan akan menunaikan sholat.
Kejadian yang dialami teman saya itu kerap terjadi dalam kehidupan bermasyarakat dewasa ini, meski telah lebih satu darsawarsa rejim otoriter Soeharto tumbang. Pengaruh pendidikan yang baik dan benar tidak bisa begitu saja runtuh mengikuti rejim yang telah tumbang. Di benak masyarakat kebanyakan masih menganggap komunis sebagai suatu paham yang perlu ditakuti. Sayang ketakutan itu membabi buta. Seringkali disalahartikan dan ditunggangi kepentingan-kepentingan.
Begitu mudahnya tuduhan komunis yang dalam persepsi masyarakat diartikan hanya tidak beragama dilemparkan pada suatu individu atau kelompok tertentu. Ada suatu kelompok karena menggunakan istilah tri panji harus dikomuniskan. Lalu berbagai forumnya selalu diobrak-abrik oleh kalangan yang mengatasnamakan agama tertentu. Kata tri panji memang pernah digunakan oleh PKI. Padahal kalau ditelisik lebih dalam tri panji yang diusung kelompok ini tidak ada yang salah, bahkan anti imprealisme asing.
Dahulu ketika pagebluk 65 baru terjadi kejadian seperti ini masih wajar, meski tetap tidak dapat dibenarkan. Ketika itu banyak pihak yang terseret perkara pem-PKI-an tanpa dilandasi rasionalisasi. Reog Ponorogo misalnya, di cap PKI dan para senimannya banyak yang ditangkap, karena kesenian ini sering digunakan PKI untuk menarik massa. Dan mereka yang pernah ikut menyanyikan lagu genjer-genjer pun langsung dicap sebagai komunis, meski bukan simpatisan PKI. Di televisi saya pernah melihat hasil wawancara dengan orang yang seperti itu, tapi saya lupa namanya. Karena pernah ikut-ikutan menyanyikan lagu genjer-genjer dalam pawai PKI, dia di tahan selama tahunan tanpa proses peradilan. Padahal dia mengikuti truk yang membawa pengeras suara dan memutar lagu tersebut dengan maksud bisa menghafal syairnya.
Mengapa penghakiman yang tidak berdasar seperti ini masih langgeng di tengah-tengah masyarakat yang katanya sudah demokratis ini? Karena pendidikan tidak diberi kesempatan untuk meluruskan sejarah. Di sekolah-sekolah masih digunakan buku sejarah yang menghakimi PKI sebagai dalang pagebluk 65. Padahal para sejarahwan masih menganggap gelap siapa di balik peristiwa tersebut. Meski sempat terjadi, di mana dalam buku sejarah dalang di balik peristiwa itu berada dalam ruang diskursus, namun itu tidak bertahan lama. Belum runtuh pengaruh pendidikan yang baik dan benar dari masa Orba, telah keluar dulu keputusan Kejaksaan Agung tentang pelarangan buku pelajaran sejarah berbasis kurikulum 2004.
Satu lagi, selama masyarakat masih dalam keadaan heteronomi, tergantung pada kuasa orang lain. Atau menurut istilah Gramsci terhegemoni. Dengan mudah sekali mengikuti kesimpulan orang tanpa terlebih dahulu memahami dan membuktikan kebenarannya. Jika keadaan seperti itu masih nyata dalam masyarakat kita berarti penghakiman-penghakiman seperti beberapa contoh di atas akan terus berlangsung. Ah, sayup-sayup saya mendengar bisikan Mingke, tokoh dalam tetralogi Pulau Buruhnya Pramoedya Ananta Toer, "Seorang intelektual haruslah adil sejak dalam pikirannya."[]
Tag: Kejadian ini terjadi pada suatu siang yang terik di bulan Ramadan Seorang teman saya, yang juga ecposer, dengan nikmatnya menghisap rokok kesukaannya di depan sekretariat kecil kami
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Rizki: Bagus
-
Oo Zaki: Bagus
-
ikhwan: Penting
-
Fajar Kelana: Perlu
-
Fandy Lasinrang: Perlu
-
si berang-berang: Responsif
-
ndableg tenan: Biasa
-
Kemuning: Bagus
-
Wahyu Eko P: Perlu
-
Die Key belajar nulis:
Komentar:
ecpose itu "anti"-komunis ya...
tapi wktu puasa kok rokok-an d dpn sekret? d bulek jg ad?
wah wah.
"Jalan ketiga".
calon Comitte Central Comunist Party
saya kira semua orang komunis,
karena komunis itu artinya komunal, sekumpulan orang yang bersosial; ketergantungan purba.
orangnya namanya komunis.
ngapain jadi alergi....
lebai bangets gitu lho.......
jangan lepas "konteks' lah!
Eh, tapi kayaknya tokoh pram yg disebt di akhir paragraf itu bukan "Mingke" deh, tapi "Mingkem" kayaknya
hihihihi
can sub-altern speaks?
you think it can? why don't you?hehehe
sub-altern,
sub-urban,
sub-ordinate ,
sub-narration,
dan
sub-sub yg laen.
sllu dirayakan.
mending kopi muanis...
Silahkan login untuk memberikan pendapat