Konsumen Pendidikan 2
Jumat, 16 Okt '09 16:50
Beli.. ! beli…! konsumsi …! konsumsi…!
Kata di atas adalah secarik ungkapan yang dapat diambil dari kondisi pendidikan kita sekarang. Kondisi pendidikan kita sekarang terutama pendidikan perguruan tinggi sudah mengalami disorientasi kearah komersialisasi pendidikan dimana seseorang harus membayar begitu mahal biaya untuk memperoleh akses pendidikan di kampus.
“ kok mahal, ya” kata keluhan ini mungkin kita sering dengarkan ketika seseorang mahasiswa baru telah membayar uang masuk, uang gedung, uang pangkal dan biaya-biaya lainnya ketika dia akan memasuki jenjang pendidikan kampus.
Uang masuk, uang gedung, uang pangkal dan biaya-biaya lainnya harus dipikul oleh mahasiswa itu sendiri. meskipun pemerintah sudah memberikan subsidi sekitar 40% untuk perguruan tinggi akan tetapi pada kenyataannya biaya pendidikan Perguruan tinggi masih terlalu mahal.
Pendidikan kita kian mahal dari waktu ke waktu, Mahalnya pendidikan perguruan tinggi tidak lepas dari adanya konsep otonomi kampus. Otonomi kampus adalah suatu konsep dimana PTN memiliki wewenang secara mandiri dalam pengelolaannya. Kampus diberikan kreativitas dan kebebasan sebesar-besarnya untuk mencari sumber pendanaannya, termasuk dari pihak mahasiswa itu sendiri.
Akan tetapi, sejak pelaksanaan otonomi kampus pada tahun 1999, di beberapa PTN terjadi kenaikan biaya pendidikan, bahkan kenaikannya sampai tiga kali lipat. Dan juga , ada peraturan di beberapa PTN atau Universitas tersebut menerima mahasiswa baru dengan jalur khusus yang disertai dengan biaya khusus pula, hingga puluhan juta. Sedangkan untuk program regular juga mengalami kenaikan yang signifikan, yaitu hingga kurang lebih 25 jutaan Di sisi lain dengan adanya otonomi kampus hubungan peserta didik atau mahasiswa dengan dosen yang diibaratkan seperti anak dan orang tua akan hilang. Hal ini dikarenakan mahasiswa merasa telah membayar mahal dan harus mendapatkan pelayanan terbaik. Tuntutan itu lebih diakibatkan karena dorongan materialisme. Ibaratnya dalam dunia perdagangan, konsumen adalah raja. Dimana Konsumennya adalah mahasiswa dan produsenya adalah PTN atau Universitas.
Biaya pendidikan perguruan tinggi dari waktu ke waktu memang semakin mahal. Dengan kondisi ini, maka tidak menutup kemungkinan pendidikan tinggi hanya akan menjadi sebuah angan – angan bagi sebagian besar warga Negara kita. Akibatnya, persentase rakyat Indonesia yang bodoh semakin tinggi.
Meskipun Biaya pendidikan kampus sudah tidak dikatakan murah lagi oleh karena itu Pemerintah selaku penyelenggara pendidikan nasional harus mampu memberikan pendidikan yang berbasis masyarakat luas karena baik atau buruknya pendidikan akan berdampak langsung bagi baik atau buruknya suatu Negara ini. Selain itu juga Pendidikan marupakan hak semua warga Negara. (Ali/Tekhno)
Tag: jurnal FK UB vol 3
Terkait:
-
Biaya meningkat, kualitas menurun.
Jumat, 16 Okt '09 16:59 -
Perdagangan Pendidikan Singkirkan Rakyat Miskin
Jumat, 16 Okt '09 16:55 -
Pendidikan Berbasis Internasional sebagai Perubahan Paradigma Pendidikan
Jumat, 16 Okt '09 16:54
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Penting
-
Rizki: Bagus
-
Fandy Lasinrang: Penting
-
FF Haq: Perlu
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat