sekedar menyapa, hai.. 3
Kamis, 15 Okt '09 20:16
Sekedar Menyapa, Hai...
Membaca fenomena tentang pers mahasiswa [Persma] masa lalu memang menarik, tepatnya heroik. Lihat saja dari generasi ke generasi masa; masa penjajahan, masa Soekarno, atau masa orde baru. Dari beberapa referensi yang sangat terbatas Persma selalu ditulis pada saat kejayaannya: sebagai pers alternatif, menumbangkan kesewenangan, dan sebagainya.
Kini di tengah kepongahan gerakan mahasiswa berebut eksistensi untuk diakui [selayaknya zaman ‘penampakan’ ini], Persma [baca: PPMI] justru tak nampak meski masih: setengah mati atau mati-matian. Tak ada yang perlu dibanggakan dari ke-ada-annya kini kecuali bangsa ini masih berdiri. Persma punya tanggungjawab mengawal perubahan dan menjaga tradisi kepada ahli warisnya. Dua tugas yang tak mudah. Keduanya terasa sulit jika tanpa kematangan pola; pola ideologis dan pola kaderisasi.
“Di negara-negara maju pers mahasiswa adalah benar-benar menjadi community press,” kata Nugroho Notosusanto setelah menjadi delegasi konferensi Pers Mahasiswa Asia I di Manila 1957. Masalahnya kapan sih Indonesia benar-benar menjadi negara maju, sebagaimana dimaksud; Keseimbangan lembaga negara jelas, transparansi tanpa konspirasi, dan pilar keempat demokrasi independensinya terjamin dan menjamin dirinya. Dalam sejarahnya, Persma selalu hadir disaat ketidak-seimbangan sistem itu. Tidak ada yang mempermasalahkan lagi soal amatirisme atau profesionalisme, gerakan aksi atau hanya informasi. Indonesia, memang Indonesia dengan segala keunikkannya. Pertanyaannya kini; sudahkah Indonesia seperti itu? Dan saatnya Persma menjadi community press?
Singkatnya, Persma punya cerita. 17 tahun yang lalu, 15 Oktober 1992, dengan membaca fenomena panitia ad hoc [bentukan tahun 1991] menemukan titik terang dalam perjalanan panjangnya; membentuk wadah Perhimpunan Penerbitan Mahasiswa Indonesia. Kata sepakat pun ditetapkan dalam sebuah forum yang dihadiri 72 aktivis Persma dari 37 Perguruan Tinggi ini. Langkah awal dari perjuangan PPMI dengan tanggungjawab yang berat “melawan arus”.
Kemudian, pada kongres II PPMI secara tegas tidak mengakui lembaga SIUPP dan STT. Istilah penerbitan diganti pers; menjadi Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia. Jelas menentang aturan tentang penerbitan khusus. Sejak itu suara persma kian lantang. Pergolakan Persma selalu hadir hingga pada seruan ’98.
Hempasan angin reformasi, yang katanya membawa perubahan itu, justru membakar rumahnya sendiri. Terbakar romantika aksi. Lupa bahwa esok masih ada hari dan zaman berganti generasi. Setelah ‘kebakaran’ itu, kini bara yang membakar itu redup. Hanya tersisa di antara puing-puing zaman. Kecil tapi takkan padam, dan suatu saat akan membakar lagi. Sepertinya tak pernah padam selama masih ada kesewenangan dan ketidakadilan.
Sebuah antiklimaks pecah di Mataram, dari sini PPMI kian temaram. PPMI perlu menjawab tantangan zaman. Berikutnya kongres di Malang menjawab problem stagnansi dan degradasi itu. Hasilnya merekomendasikan kota dan daerah untuk berbenah. Reorientasi dan reaktualisasi untuk mengawal perubahan dan menjaga tradisi idealisme dengan pola kaderisasi. Secara perlahan PPMI menghimpun diri. Tanpa disadari cerita ini sampai pada hari ini, 15 Oktober 2009.
Membaca fenomena hari ini, berarti bangun dari mimpi. Hari ini, pasca Pemilu 2009, apa yang terjadi? Apakah keseimbangan kehidupan berdemokrasi di negara ini sudah terjadi? Apakah lembaga negara sudah sesuai fungsinya? apakah media menunjukkan independesinya? Apakah rakyat telah merasakan alam reformasi? Benarkah kesewenangan dan ketidakadilan sudah tidak ada lagi? Benarkah kemiskinan dan kesenjangan telah sirna di negeri ini? Dan apa yang dilakukan pemerintah selama ini? Apa perlu bersuara, “Ah repotnya...”
Fenomena apa yang terjadi pada hari ini? Persma perlu melihat diri hari ini dan menatap esok hari dengan bekal kesadaran historis dan kepekaan gejala. Perlu kejujuran membaca kondisi hari, bahwa sepenuhnya back to campus sudah tidak tepat lagi. Saatnya Persma membuka diri dan membangun relasi dengan di luar dirinya, bukan bertaruh independensi tapi menjalin jaringan diri, memperkuat akar-akar kultural maupun struktural yang belum dijalin rapi.
Apakah persma hari ini masih ingat salah satu deklarasinya “Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) merupakan elemen kekuatasn alternatif yang lahir dari pers mahasiswa dan atau lembaga pers mahasiswa di Indonesia untuk menghimpun potensi yang dimiliki dengan didasari komitmen moral, kerakyatan dan intelektualitas.
PPMI adalah wadah yang berbasis pada pers mahasiswa dan atau lembaga pers mahasiswa di Indonesia menegaskan kembali bahwa PPMI tidak berorientasi kerja elitis dan bersifat mandiri sebagai basis tumbuhnya sikap idealisme dan kepedulian sosial.
Dengan keprihatinan bahwa kondisi sosial masyarakat saat ini mengalami degradasi struktural maupun sosial moral maka PPMI meyakini bahwa fenomena sosial yang ada merupakan agenda permasalahan yang integral dalam pers mahasiswa sebagai manifestasi fungsi pers mahasiswa. Untuk itu diperlukan pers yang sanggup mengkonsolidasikan kekuatan internal organisasinya, serta mempertegas sikap terhadap kondisi sosial masyarakat yang berkembang.
Berkaitan dengan ini maka PPMI menyerukan kepada pers mahasiswa dan lembaga pers mahasiswa untuk berani dan terus menerus menginformasikan persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat secara nyata dan utuh sebagai keberpihakan yang riil terhadap komitmen moral dan kerakyatan.” [Deklarasi Tegalboto, 17 Desember 1995].
Perlu adanya pembacaan fenomena dan gejala terhadap kondisi kekinian. Meski selama ini pembacaan itu tak pernah selesai [diselesaikan]. Selalu berujung pada kenihilan. Memang, PPMI bukan pemerintah yang punya otoritas dan legitimasi yang mampu membuat rakyatnya suka atau terpaksa. Tapi PPMI adalah makhluk biasa yang jika tidak disukai akan dilempar ke tong sampah atau jika itu masih terhormat, terlebih terbiarkan-diacuhkan terserah berserak. Persma tak kuasa atas dirinya, apalagi bagi khalayak, tapi begitulah Persma dengan segala ronanya. PPMI bukan apa-apa tanpa Persma. Dan sepertinya, Persma bukan siapa-siapa di Negeri ini. Hanyalah sekelompok anak muda yang berstatus mahasiswa dengan ideologi yang absurd dan utopis. Mungkin itu sebabnya, seorang teman bilang pengurus edan atau tak waras, yang salah satunya, bertindak nekat. Ya, diakui atau tidak realita yang akan berbicara. Tetapi realita tidak sendiri, ada suatu relasi ‘yang lain’ yang menentukan keberadaannya. Persma-kah itu?
Kiranya kita perlu bicara bahwa saatnya Persma menyapa.
Salam Pers Mahasiswa!
Tag: Persma
Terkait:
-
Media Persma dalam era Kekinian
Minggu, 12 Feb '12 20:00 -
Aku, Persma, dan Tulisanku
Rabu, 31 Agu '11 19:17 -
Kolaborasi Ramaikan Persma.com Yuk!
Jumat, 19 Agu '11 15:37
Komentar:
Pembacaaan kritis tentang ke mana gerakan Persma harus dilabuhkan memang merupakan salah satu pertanyaan kunci untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi di dalam tubuh Persma sendiri.
"Persma punya cerita." Cerita tersebut bukan untuk diselesaikan, tapi jelas untuk diteruskan. Harga mati.
Lanjutkan semua cerita yang sudah bermula, kawan2 Persma!!!
Semua harus dipercepat dan harus disegerakan!
Silahkan login untuk memberikan pendapat