Ritual Hubungan Seksual di Makam Pangeran Demak ; Mitos yang Diselewengkan 5
Rabu, 14 Okt '09 18:04
Ritual memohon berkah maupun mencari "pesugihan" melalui arwah leluhur sering dilakukan sebagian masyarakat jawa dengan cara bersemedi di makam para leluhur, tetapi di Gunung Kemukus ritual mencari berkah dilaksanakan dengan cara yang unik yaitu melakukan hubungan seksual di luar nikah dengan pasangan orang lain (selingkuh).
Meilan adalah tokoh fiksi dalam novel ritual gunung kemukus, seorang wartawati dari majalah traveling terkemuka di jakarta yang selama satu minggu melakukan reportase di Gunung Kemukus, sebuah tempat yang terletak di pinggir waduk Kedungombo itu diberi nama demikian, gunung adalah istilah, penanda bahwa tempat tersebut memiliki geografis yang cukup tinggi dan kemukus yang berarti kabut yang terlihat seperti asap (kukus), "disebut kemukus karena dahulu bila pagi hari bukit ini diselimuti kabut yang seperti asap putih mas" tutur seorang warga kepada reporter Keadilan. Dalam novel "Ritual Gunung Kemukus", tokoh utama Meilan terkejut melihat bagaimana ritual memohon berkah dalam prosesi ziarah, suatu budaya yang lahir dari hasil akulturasi antara kebudayaan Hindu dan Islam, dilakukan dengan ritual yang tidak lazim, yaitu melakukan hubungan suami istri diluar pernikahan, bahkan dalam tahap tertentu hubungan seksual ini dilakukan secara massal di tempat yang dikeramatkan. Tokoh Meilan memang tokoh rekaan, novel ritual gunung kemukus juga merupakan novel fiksi. Tetapi ritual yang dilihat Meilan memang benar adanya, di makam keramat seorang pemuka dari Demak tersebut ada ritual unik yang harus dilakukan sebagai syarat bila ingin memohon berkah dan peruntungan.
Bila pada suatu waktu anda berkunjung ke Gunung Kemukus, anda akan melihat puluhan bahkan ratusan warung dan lapak yang menjual makanan dan minuman ringan juga menyediakan jasa penginapan ala kadarnya untuk menunjang ritual unik tersebut, "ya kami warga sekitar sini mas yang membuka warung dan kamar untuk para peziarah, yang mau ritual itu", ungkap salah seorang pemilik warung di kawasan Gunung Kemukus. Pada malam tertentu bahkan dapat ditemui banyak wanita pekerja seks komersial (PSK) dari berbagai daerah yang turut meramaikan suasana warung di sekitar kawasan tersebut, hal ini diakui pula oleh pemilik warung bahwa para PSK juga datang untuk memanfaatkan ritual "Ngalab Berkah" di Gunung Kemukus. Ritual unik di tempat ini ternyata juga mengundang para wanita pekerja seks komersial untuk ikut mencari berkah, mencari sedikit penghasilan tambahan.
Ritual "Ngalab Berkah" ala Gunung Kemukus
Gunung kemukus sebenarnya lebih tepat disebut sebuah bukit yang tingginya sekitar 250 meter dari permukaan laut, yang terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, sekitar 25 km dari Kota Solo. Bukit ini berada di pinggir Waduk Kedung Ombo, untuk mencapai ke lokasi tersebut kita harus melewati jembatan yang hanya bisa dilewati pada musim kemarau saja karena bila musim penghujan, jembatan akan tergenang air waduk sehingga tidak bisa dipergunakan untuk menyeberang, untuk itu pada musim penghujan pengunjung mempergunakan jasa penyeberangan perahu atau dengan sampan yang memang di sediakan warga sekitar selama musim penghujan untuk menyeberang ke lokasi tersebut. Gunung kemukus sesungguhnya adalah komplek pemakaman seorang keturunan ningrat jawa dan penyiar agama islam, dimana keturunan raja atau bangsawan jawa biasa disemayamkan di tempat yang memiliki geografis yang tinggi. Hal ini adalah buah dari sistem feodal yang meyakini raja adalah utusan Tuhan dan perlu ditempatkan lebih tinggi daripada rakyatnya, hal ini juga sebagai simbol bahwa semakin tinggi makamnya maka semakin ia didekatkan dengan Tuhan yang Maha Esa. Komplek pemakaman Gunung Kemukus ini dipercaya penduduk sekitar sebagai makam pasangan pangeran Samudro dan nyai Ontrowulan. Pangeran Samudro adalah seorang keturunan majapahit yang merupakan putra tertua dari istri resmi Prabu Brawijaya VII dan nyai Ontrowulan adalah selir dari Prabu Brawijaya VII. Dalam komplek makam ini juga terdapat mata air yang disebut "sendang Ontrowulan", tempat ini dipercaya sebagai lokasi terbunuhnya pasangan ini.
Seperi layaknya komplek pemakaman keturunan raja jawa pada umumnya, komplek makam ini juga sering dikunjungi para peziarah yang datang dengan berbagai motif dan tujuan, ada yang sekedar napak tilas, ada yang memang berziarah, dan ada juga yang khusus datang ke tempat ini untuk mohon berkah, berdoa, dan mengadu terhadap segala permasalahan dengan melakukan ritual tertentu, seperti ritual semedi yang sering dilakukan masyarakat jawa di tempat-tempat yang dianggap keramat seperti makam leluhur. Sebagian masyarakat jawa percaya bahwa arwah leluhur dapat menjadi medium yang cukup ampuh sebagai penyampai pesan kepada Tuhan. Ritual tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh jalan keluar dari segala permasalahan dan memperoleh kelancaran serta kemudahan dalam menjalankan hidup, bahkan tak jarang yang melakukan ritual khusus untuk pesugihan yaitu agar menjadi kaya.
Di Gunung kemukus dalam mencari berkah maupun pesugihan atau masyarakat setempat mengistilahkan ritual "Ngalab Berkah" tidak dengan cara semedi, tetapi dengan cara yang bisa dibilang nyeleneh dan unik yaitu dengan adanya ritual seks, dimana menurut mayarakat, ritual seks itu harus dilakukan pada hari Kamis Paing (malam Jumat Pon), selama tujuh kali berturut-turut, dengan pasangan tetap yang bukan suami isteri (pasangan selingkuh), di alam terbuka. Sebelumnya, peziarah harus mandi di Sendang Ontrowulan, lalu berziarah ke makam Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan di puncak bukit. Kalau seluruh ritual yang akan memakan waktu delapan bulan ini terlaksana dengan baik, maka si peziarah akan bisa meraih sukses berupa kekayaan materi. Reporter Keadilan berhasil menemui seorang lelaki yang mengaku sering menjadi perantara para wanita yang ingin melakukan ritual seks, ia yang tidak bisa kami sebutkan namanya mengatakan bahwa ia dapat membukakan jalan kepada kesuksesan, "benar mas, saya sering melayani perempuan yang mau Ngalab Berkah, tapi ini murni lho mas, saya sebelum menjadi perantara harus melakukan beberapa syarat terlebih dahulu", katanya menegaskan. "banyak yang berhasil lho mas, setelah melakukan ritual seksual ini, banyak yang usahanya sukses, banyak dari jawa barat mas" lanjutnya kemudian. Lelaki tersebut juga mengatakan bahwa yang sering datang ke Gunung Kemukus untuk ritual "Ngalab Berkah" kebanyakan pedagang kecil yang usahanya tidak begitu sukses. Ia juga bercerita bahwa tata cara ritual seks ini bermacam versi juga, seperti yang ia dengar secara turun temurun dari orang tuanya dahulu bahwa agar lebih sempurna dan ampuh ritual seksual dilakukan secara bersama-sama atau massal di bawah pohon beringin keramat yang terletak di belakang bangunan makam Pangeran Samudro.
Ritual seksual ini dilakukan bukan tanpa alasan, mitos mengenai ritual seksual berasal dari legenda yang berkembang secara lisan turun temurun yang berkaitan dengan Pangeran Samudro. Ada beberapa versi mengenai legenda ini namun yang menjadi legitimasi atas ritual seksual adalah versi dari masyarakat dan peziarah yaitu bahwa bahwa Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan adalah anak, dan selir Prabu Hudhara (Brawijaya VII, 1498-1518), raja terakhir Majapahit (Mojokerto, Jawa Timur). Setelah runtuhnya Majapahit, mereka berdua ikut berpindah ke Demak Bintoro di Jawa Tengah. Anak dan ibu tiri dari Majapahit ini, kemudian terlibat dalam afair asmara, terusir dari Demak, dan pihak yang tidak menyukainya, terus mengejar pasangan ini. Di Gunung Kemukus, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan terkejar, dibunuh, lalu dimakamkan di satu liang lahat. Konon, ketika pasukan pengejar datang, mereka berdua sedang melakukan hubungan seks di alam terbuka. Kemudian dari atas makam mereka berdua muncullah asap (kukus), hingga bukit kecil ini disebut Kemukus. Di tempat terbununhnya pasangan ini juga timbul mataair yang sekarang disebut sebagai Sendang Ontrowulan. Sesaat setelah tewasnya pasangan ini, terdengar suara: "Barangsiapa bisa melanjutkan hubungan seks yang terputus ini, segala keinginannya akan terkabulkan!"
Pemujaan terhadap seksualitas dalam ritual seks di Gunung Kemukus mengingatkan kita akan pemujaan seksualitas masyarakat Jawa pra-Islam, di Jawa, banyak peninggalan kebudayaan Hindu mengungkapkan pemujaan terhadap simbol-simbol seksual seperti lingga dan yoni yang merupkan simbol kesuburan. Menurut konsep tradisional Jawa, seksualitas merupakan bagian dari keperkasaan dan kekuasaan, sehingga ada anggapan bahwa hubungan seksual dan alat kelamin merupakan simbol pusaka yang dikeramatkan. Misalnya dalam kisah-kisah kuno dalam serat Centini banyak diceritakan hubungan seksual antara raja, penyiar agama, atau calon raja dengan seorang perempuan yang terjadi tanpa formalitas namun tidak ada yang berkeberatan terhadap hal itu. Di Candi Sukuh dan Cetho misalnya, ada pahatan alat kelamin laki-laki dan alat kelamin perempuan yang keduanya dianggap sebagai pusaka dan mempunyai kekuatan magis. Demikian pula menurut Purwadi M.Hum bahwa seorang raja yang memiliki potensi seksual yang besar, maka dipercaya kerajaannya akan menjadi makmur. Makin banyak anak keturunan raja itu, semakin makmur pula rakyatnya. Walaupun kebenarannya perlu disangsikan, namun anggapan tersebut nampaknya masih berlangsung hingga kini terbukti masih seringnya kita dengar istilah "banyak anak banyak rezeki"
Yang menarik apabila dibedah lagi melalui mitos unik ini, tidak hanya lelaki yang bisa melampiaskan hasrat seksualnya, namun perempuan juga bisa mencari pasangan di luar nikahnya secara bebas dengan tujuan mencari berkah. Pembalikan hirearki atas kuasa seksual patriarki dalam sistem feodal masyarakat jawa secara tersirat terjadi dalam ritual seksual di Gunung Kemukus. Melalui selubung mitos ini perempuan dapat menemukan aktualisasi nilai-nilai persamaan gender dalam hal seksualitas.
Legitimasi mitos atas motif ekonomi
Seiring perkembangan jaman tepatnya sekitar era tahun 80-an kawasan gunung Kemukus mulai ramai didatangi pengunjung, hal ini seperti disampaikan oleh juru kunci makam Pangeran Samudro, ia mengatakan, "lokasi makam ini baru mulai rame tahun 80-an, entah bagaimana pokoknya seingat saya periode itu mulai banyak dikunjungi peziarah maupun pencari berkah". Cerita mengenai mitos ritual seksual tampaknya menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas. Hal ini tetntu berdampak ekonomis bagi masyarakat sekitar lokasi makam tersebut, dimana masyarakat sekitar mulai dapat menjajakan makanan, minuman ringan, maupun alat-alat kelengkapan untuk ziarah seperti kembang tuju rupa, telur ayam kampung, dan lain sebagainya.
Ritual seksual juga kemudian mengundang para pekerja seks komersiil maupun lelaki iseng untuk ikut menjajakan tubunya, karena syarat ritual seksual adalah berpasangan dengan perempuan atau laki-laki yang bukan pasangan siuami istri, maka lahan baru ini dimanfaatkan pula oleh mereka yang berprofesi sebagai pekerja seks komersiil baik laki-laki maupun perempuan. Pembiaran masyarakat atas praktek pelacuran terselubung ini, di sisi lain tentu bertentangan dengan norma umum masyarakat Indonesia yang berlatar belakang religius, namun di sisi lain dari segi ekonomi, perputaran uang dari kondisi ini sangat besar. Secara kasar dapat kita hitung, setiap pengunjung yang masuk dikenai retribusi sebesar Rp.4000,- kemudian jasa parkir, kemudian dari hasil perdagangan. Tercatat pada malam 1 suro tahun 2008 tepatnya 28 Desember 2008 pengunjung mencapai 10.000 orang, bisa dibayangkan seberapa besar perputaran uamng yang terjadi.
Kini fenomena yang terjadi di sekitar dan sekeliling lokasi makam, berdiri warung-warung, bangunan bambu semi permanen yang menyediakan kamar untuk peziarah yang akan melakukan ritual seksual, karena seiring ramainya pengunjung, untuk melakukan ritual seksual tidak lagi di tempat terbuka, tetapi di kamar-kamar ala kadarnya yang telah disediakan para pemilik warung maupun warga sekitar. Para pemilik warung pun rata-rata menyediakan wanita pekerja seks komersiil setiap saat, hal ini diakui salah seorang pengunjung yang berhasil kami dapat keterangannya, "itu dulu mas, klo pada "itu" di bawah pohon sana, sekarang cukup datang ke warung sudah banyak kamar". "kalu dulu pasangan harus cari sekarang pasangan tinggal milih disini juga banyak", lanjutnya sambil menenggak segelas minuman keras di meja.
Motif ekonomi semakin menguatkan mitos ritual seksual di tempat ini, bahkan kini air sendang yang telah kering di pasang pompa air untuk mengisi kembali airnya, mitos ini terjaga tidak lagi karena nilai-nilai filosofisnya, mitos ini kini terjaga dan menjadi legitimasi atas motif ekonomi. Tesis Roland Barthes atas mitos tampaknya benar, mitos adalah penanda dari suatu perilaku, penanda suatu peristiwa, mitos tidaklah gaib, mitos adalah sebuah simbol dari perilaku manusia, perilaku manusia atas motif.
Oleh : Ikhwan Sapta Nugraha
Reportase bersama : Achmad Rasul (alm.), Eka Mustika, Khrisna Hanantyo Aji.
(akan dimuat di majalah Keadilan 2009)
Tag: seksualitas, mitos, gunung, kemukus, ritual, demak
Terkait:
-
Letakkan disini, biarkan dia menggantung, mengambang, 7cm didepan keningmu.
Rabu, 10 Mar '10 21:26 -
Bermain dengan Film Studies: Asumsi Soal Miyabi hingga “Curhat Massal” lewat Pornografi
Minggu, 8 Nov '09 16:53 -
Mitos Uang
Sabtu, 10 Okt '09 23:47
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Bagus
-
JoyceKontraRevolusi: Bagus
-
Rizki: Bagus
-
Irwan Bajang: Bagus
Komentar:
cuma yang saya lihat sekarang kok tulisannya (sekali lagi tampilannya, bukan konten) meluber kemana-mana...
sebagai pelaku pendapat kamu gmana?
kamu merasa ada diskriminasi sebagai babi?
@dhani saja cukup
Ya ampyun Dhani...
Janganlah sesama babi saling mendiskriminasi...
ikhwan:
Hmm, jadi teringat Miyabi...mitos besar yang diratapi karena tak jadi mampir ke negeri ini.
@yandri : yah Miyabi jadi ngetop di kalangan para kiai setelah gembar-gembor mau datang.. yang jadi pertanyaan, berapakah Film miyabi yang di tonton MUI??hehe
@genjik: wah tenang saja bung, nanti tak bikinin gerakan 1juta mendukung legalisasi babi ngepet!
Silahkan login untuk memberikan pendapat