Berduri, Tapi Diminati (02) 0
Selasa, 13 Okt '09 06:06
Seduhan kopi itu masih panas di cangkir, sewaktu pagi di dapur, kala si bocah sedang merapikan sepatu di halaman. Si bocah mengarah ke kepulan asap yang seputih rambut itu, kepada ibunya, berpamitan, sembari tas yang baru dibelikan ia jinjing tinggi-tinggi. Penuh gembira. Kepada bapaknya, ia cium tangan berkeriput itu.
Si bocah. Itulah segelintir etika yang muncul dari pucuk desa. Yang tenggelam dengan rapi. Keharmonisan dalam masyarakat yang telah luntur sekarang. Tak membekas. Tak berpangkal. Dan tak berujung. Pendidikan yang tak lagi rindu akan "kebijaksanaan", seperti yang digaungkan petinggi Yunani Kuno saat mengajar anak kerajaan, arti sebuah kehidupan. Menciptakan tatanan "adem ayem-tentrem kertaraharja". Layaknya desa yang mengenal lampu "teplok", dinding bambu, tanah yang "ramah lingkungan", suara kerbau di tengah sawah, gotong royong yang selalu diukir... Itulah angan-angan seorang teman, saat duduk bersila di kedai kopi; membahasakan Karl Marx di tanah Jawa, sewaktu ia terpesona dengan gagasan besarnya: sosialisme.
Bisa jadi andaian itu salah. Ia sedang bermimpi seperti Karl Marx; tentang sosialisme yang selalu diburu orang. Ketika pemikiran itu diproduksi, fasisme yang justru lahir, saudara sekandung otoriterianisme, kerabat dekatnya (neo) liberalisme, yang bertetangga dengan nasionalisme dkk, dan sekarang sedang meremas kita: si manusia.
Bisa jadi andaian itu ada benarnya juga. Terlepas dari cara pandang orang tentang "kehidupan purba" itu, "gemah ripah loh jinawe"; seperti yang sering diumbar Soekarno dan Soeharto saat menanam kekuasaan, selalu dijadikan rujukan orang melukiskan kehidupan di negeri ini; negara kita, Indonesia, kaya raya. Gambaran itu sempat membelalakkan mata kita, kehijaun Indonesia dalam secarik peta. Itulah mengapa negara ini dipertahankan, meski satu-dua pulau dikeruk dan dijual ke negeri tetangga; atas nama kesatuan, turunan dari kata "dipaksa menyatu", gara-gara penjajah hanya mencicipi rempah-rempah.
Mempertahankan kesatuan tidak cukup jika sekedar merdeka. Nama pahlawan perlu dikenalkan ke anak bangsa. Dari siapa "Mereka" ke siapa "Kita". Siapa "Kawan" siapa "Lawan". Agar anak bangsa tahu, siapa pendiri bangsa, pencetus bendera merah putih, dan siapakah si 'pencicip rempah' itu, adegan imperialisme yang patut dimusnahkan. Dan...sampailah nama kita melekat di KTP, dengan sebutan penduduk Indonesia.
Dengan sebutan itu, kita juga akhirnya memakai bahasa yang disebut Indonesia, yang kita kenal dari bangku sekolah. Buku pelajaran pertama Anda pastinya berbau sejarah Indonesia, lengkap dengan mata pelajaran kewarganegaraan, agar tidak lupa dari 'siapa' negara ini didirikan. Dengan pendidikan, apapun bisa dibentuk. Menjadi seorang nasionaliskah-semirip patriotis itu, menjadi komuniskah-yang diharamkan sampai sekarang ini, menjadi beragamakah-yang menjadi syarat penduduk Indonesia (Sila Pertama Pancasila).
Dari sanalah pendidikan terus terurai. Kita dulu tak menanam sebiji pun keinginan hidup di negeri ini. Sesekali bertepuk tangan kala tokoh-tokoh besar bermunculan. Ciptakan suasa keterasingan diri dari negara-bangsa. Kita si buruh-buruh terpelajar. Menciptakan mereka. Bangsa. Negara. Dipaksa kerja melalui pendidikan. Di suruh mengunduh cita-cita di atas sana. Entah cita-cita yang mana. Mungkin cita-cita mereka, yang terasa duri bagi kita. Mereka yang akhirnya kaya. Kita yang jatuh sengsara. Pendidikan yang runyam. Pendidikan yang terus kita minati...
...si bocah akhirnya berangkat ke sekolah. Berbaris di lapangan depan kelas. Rapi. Seperti tentara. Memberi hormat kepada bendera merah putih, sambil melantunkan lagu Indonesia Raya. Instruksi menghayati para pahlawan dimulai tak lama kemudian. Semua terdiam, termasuk si bocah, yang masih ingusan itu. Entah siapa pahlawan dalam benak si bocah, ia hanya teringat dengan tas yang dibelikan bapaknya di pasar loakan (klintingan), yang seharga tiga piring nasi saat itu. Baginya, tak penting siapa pahlawan itu. Karena dari sawah ia dilahirkan, dan dari sawah pula ia akan berpulang....[]
Tag: rangkaian tulisan menjelang Hari Kekerasan Pendidikan
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Penting
-
Arimacs Wilander: Bagus
-
Eb.: Responsif
-
Rizki: Bagus
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat