Persma Jember Ngupil Lagi 6
Sabtu, 10 Okt '09 19:35
Ngupil, Ngerumpi filsafat baru saja selesai digelar di Sekret Ideas Fakultas Sastra Universitas Jember (FS-Unej). Sekret Ideas masih terlihat berantakan. Sisa kopi dan bungkus rokok juga masih terlihat berserakan.
Inilah Ngupil pertama yang digelar setelah bertahun-tahun. Kehadiran kembali forum diskusi filsafat ini oleh sejumlah pesera dipandang sebagai pemenuhan rasa haus terhadap wacana filsafat yang memang sudah jarang sekali bisa ditemukan di Jember.
Karena masih berupa awalan, Ngupil kali ini hanya membicarakan hal-hal mendasar dalam filsafat, seperti apa itu filsafat, untuk apa berfilsafat, obyek kajian filsafat dan terutama —masih fungsional atau tidaknya filsafat sebagai sebuah perangkat untuk melihat sesuatu secara kritis.
Menurut Shihabul Irfan, biasanya dipanggil Mas Ipang, ada beberapa hal yang menjadi keharusan bagi siapapun yang hendak mempelajar filsafat. Pertama menghidari ejakulasi dini. Artinya kegagalan memahami filsafat sering kali disebabkan karena terlalu tergesa-gesa melompat menuju fase filsafat yang lebih jauh. Bukan berarti melakukan upaya pembatasan atau menghalang-halangi, namun sebagai permakluman bersama bahwa konsepsi filsafat —utamanya filsafat barat—selalu mendapat berkah dari konsepsi filsafat sebelumnya.
Kedua, tidak membentengi diri terlebih dahulu dari konsepsi-konsepsi filsafat, seperti menuduh filsafat sebagai sesuatu yang “berat,” berbahaya, dan sebagainya. Dengan begitu tiap konsepsi filsafat akan dipahami lebih cepat dan gamblang.
Ketiga, ungkap Mas Ipang, dan sekaligus menjadi harga mati jika hendak serius mempelajari filsafat, baik sebagai disiplin ilmu, cara pandang maupun jalan hidup adalah tentang konsistensi yang harus dijaga sekuat mungkin.
Ngupil bukan bukan hanya dihadiri oleh para pegiat Persma di Jember. Beberapa “Pengupil” di luar Persma juga turut serta dalam Ngupil sesi pertama tadi.
Rencananya Ngupil akan kembali digelar minggu depan, dan seterusnya, setiap sabtu sore, namun di tempat yang berbeda.
“Meskipun Ngupil dikerangkai secara sistematis, berdasarkan fase-fase filsafat modern yang ketat, akan tetapi obyek kajian masing-masing konsepsi filsafat harus menggunakan sesuatu yang sederhana dan diupayakan menyentuh ranah-ranah lokalitas,” kata Mas Ipang pada akhir diskusi.
Ilustrasi dari sini
Tag: Ngupil, Filsafat, Diskusi
Terkait:
-
Berfilsafat Lalu Menulis
Sabtu, 10 Okt '09 21:10 -
Diskusi disana-sini.
Senin, 15 Mar '10 10:51 -
Repotnya Ditinggal Gus Dur [2]
Minggu, 10 Jan '10 03:37
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
JoyceKontraRevolusi: Bagus
-
Rizki: Bagus
-
Como Bacomboy: Bagus
-
si berang-berang: Penting
-
Kemuning: Perlu
-
FF Haq: Bagus
-
Wahyu Eko P: Perlu

Komentar:
Iya, itu, saya akui, format diskusi filsafat!
Sejauh ini kwan2 di Jember masih menggunkan format dari Komunitas Pinggir Surabaya. Dengan pola yang runtut dan sistematis. Kawan2 sebenarnya khawatir juga dengan format tesebut karena terkesan akademis dan agak kaku. Makanya disiasati dengan obyek kajian yang sederhana dan menyentuh lokalitas.
Bagi hasil colongan juga ya..
Aku pikir, membahas filsafat bisa pula dari kajian atas suatu fenomena. Ambil contoh, waktu kami membahas gender dulu.
Diskusi awal berangkat dari pembahasan soal kasus maraknya penentangan pornografi. Dari sana, merembetlah pembicaraan ke pembahasan soal teori2 seksualitas dari Aristotle hingga Foucault dan Judith Butler...kesimpulannya, Timur itu lebih saru dibanding Barat, hehehehehe....
jujur, saya pilih yang pertama.
apapun kurikulum dan metodenya,
ttp smgt!!
slmt belajar.
Silahkan login untuk memberikan pendapat