Mitos Uang 3
Sabtu, 10 Okt '09 23:47
Money makes the world go around,
the world go around, the world go around,
Money makes the world go around,
of that we both are sure.
(Raspberry) On being poor
(money money, cabaret)
Uang, duit, atau beragam istilah lainnya yang menggambarkan bahwa benda tersebut adalah sebuah alat tukar yang memiliki standar harga tertentu dalam aktivitas kehidupan ekonomi manusia. Adalah sebuah materi dimana nilai dari sebuah benda memiliki prestise tersendiri yang kemudian menjadi standar alat ukur terhadap nilai tersebut didalam kehidupan ekonomi. Yang menjadi permasalahan sekarang apakah uang sebagai standar ukur terhadap nilai hanya berlaku dalam aktifitas ekonomi, atau justru memiliki sebuah impact terhadap kehidupan manusia dalam skup-skup yang lain?.
Ada beragam pertanyaan didalam benak setiap manusia, apakah ia yang mengatur setiap uang atau ia yang diatur oleh uang?. Bahkan pertanyaan mendasar tersebutpun belum mampu untuk dijawab oleh beberapa orang. Lalu, apakah setiap manusia dapat hidup lepas dari keterikatannya terhadap uang yang juga memiliki standar nilai kekayaan, yang dikemudian hari menjadi tolok ukur tersendiri didalam kualitas kehidupan individu sosialnya.
Uang dan perkembangannya
Jauh sebelum kita mengenal apa itu uang di era modern seperti ini. Uang telah melewati banyak tahapan yang akhirnya membentuk status uang dan bentuknya seperti hari ini. Semuanya mengacu pada kemampuan manusia dalam mempermudah akses untukmendapatkan kebutuhannya.
Dalam memenuhi kebutuhannya, manusia selalu bertumpu pada kemampuan individualnya. Manusia memenuhi semua kebutuhannya dengan cara berburu jika mereka merasa lapar. Pada masa itu manusia hanya memanfaatkan apa yang diperolehnya untuk memenuhi kebutuhannya. Sampai akhirnya perkembangan pola pikir manusia berhasil mengakhiri masa tersebut.
Akibat dari sifat manusia yang selalu berkumpul pada suatu tempat secara sporadic, kebutuhan yang harus dicukupipun semakin berkembang. Hingga akhirnya apa yang mereka hasilkan secara mandiri tidak lagi dapat mencukupi kebutuhan mereka. Hal inilah kemudian yang memaksakan manusia untuk melakukan pertukaran barang dengan kelompok manusia lainnya, atau yang lebih dikenal dengan istilah "barter".
Dalam perkembangannya system barter ternyata tidak menjadi jawaban atas persoalan bagaimana manusia dapat memenuhi kebutuhannya. Ada beberapa masalah yang menjadi penghambat yaitu, kesulitan mencari tahu siapa yang memiliki barang yang mereka butuhkan sehingga siap ditukar, dan kesulitan dalam menentukan nilai yang harus dipakai terhadap sebuah barang untuk ditukarkan dengan barang lainnya. Maka dimulailah tahapan baru untuk menegasikan nilai tukar menjadi standar nilai atau harga.
Babak awal uang sebagai alat tukarpun dimulai. Bermula dari bangsa romawi kuno yang menegasikan garam dari bumbu dapur menjadi alat tukar dan alat pembayaran upah. Dalam bahasa latin lebih dikenal dengan sebutan salarium. Pada perkembangannya kemudian kata salarium di adopsi kedalam bahasa Inggris menjadi salary yang artinya sama yaitu "upah".
Ternyata dalam perkembangannya terjadi sebuah masalah, yaitu bagaimana cara menguraikan alat tukar agar lebih mudah dibawa. Maka bangsa babilonia mencoba mengubah uang dengan menggunakan logam, dengan alasan mudah dibawa, gampang dipecah dan tahan lama. Yang kemudian dikenal dengan sebutan uang logam atau coin.
Seiring dengan perkembangan ekonomi, banyak hal yang sudah tidak bisa ditukar dengan uang logam. Bangsa Inggris akhirnya membentuk system keuangan baru dengan menggunakan uang kertas. Harga uang kertas menyimbolkan banyak emas yang disimpankan dipandai emas. Uang kertas tersebut sewaktu-waktu dapat ditukar kembali dengan jumlah emas yang tertera di uang kertas tersebut.
Uang dan pranata sosial
Setiap fase perkembangan uang secara tidak langsung menyebabkan perubahan dalam perkembangan kebutuhan manusia. Mulai dari bagaimana cara manusia memenuhi kebutuhannya dengan menggunakan uang sebagai alat tukar sampai bagaimana manusia didikte oleh kekuatan uang yang mengikat kebutuhan manusia akan status dan eksistensinya dalam kehidupan. Sampai akhirnya uang membunuh setiap individu dengan efek nilai yang tak lagi terjangkau.
Setiap manusia membutuhkan uang dalam mempermudah pertukaran. Juga dalam memberi standar harga dalam proses ekonomi. Hal-hal tersebut tidak dapat dinisbikan dari aktivitas social. Ada sebuah masalah yang kemudian menjadi pembahasan umum, yaitu bagaimana kemudian kehidupan manusia di standarkan dengan uang seperti barang-barang yang diperdagangkan dalam supermarket.
Setiap kebutuhan manusia menjadi saling terkait dengan harga-harga yang kemudian menentukan bagaimana status manusia dihadapan manusia lainnya. Menurut revrisond baswir, bukan fungsi uang yang beralih, melainkan karena pengolahan uang melalui system yang kapitalistik, maka dengan sendirinya uang berubah menjadi sebuah komoditi. Hal tersebutlah yang kemudian menjadikan kehidupan manusia seperti barang dagangan.
Fungsi uang yang bernegasi dari alat ukur barang dagangan menjadi alat ukur social yang berdampak pada terjadinya pengkelasan dalam kehidupan social dan keterbatasan interaksi manusia yang satu dengan manusia lainnya. Sehingga banyak hal yang kemudian diukur dengan uang. Mulai dari kebutuhan akan hiburan sampai pendidikan dan kesehatan yang merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap manusia.
Sedikit mengutip dari bukunya john Eatwell, Murray Mullgate dan Peter Newman dengan judul "the new palgwave: a dictionary of economics" bahwa: "Money is a social relation. Like the meaning of a word, or the proper form of a ritual, it exists as a part of a system of behaviour shared by a group of people". Ia menjelaskan bagaimana uang memiliki sebuah kekuatan yang mampu mengatur sekaligus memaksa manusia untuk menyembah keberadaan uang.
Padahal, apabila kita sedikit melongok pada realitas. Uang hanyalah sebagian kecil dari factor eksternal manusia dalam membangun sebuah hubungan social. Tapi justru malah berbalik menjadi sebuah dominasi abstrak yang tak terlihat dalam kehidupan manusia.
Kondisi yang lebih parah lagi dapat dirasakan, bagaimana kuasa terhadap uang dapat mempengaruhi lebih dari sekedar kehidupan ekonomi, tapi juga merambah kedalam relung-relung kehidupan agama. Sampai akhirnya setiap orang berjibaku untuk memilih mau naik haji atau umroh dengan jasa yang mahal atau yang paling murah. Sesuai dengan gengsi dan prestis yang ditawarkan. Ironis memang ketika seharusnya agama bisa menjadi tembok penghalang dari kuasa uang yang berlebih.
Sedemikian hebatnya kuasa uang terhadap kehidupan sosial di masyarakat kita hingga Damarjari Sufajar menganalogikan uang sebagai peluru emas yang dalam filsafat jawa dapat membunuh orang sakti jawa. "orang jawa itu sakti, yang bisa membunuh hanya peluru emas, di jaman sekarang peluru emas itu ya uang", katanya.
Beralihnya fungsi uang sudah seperti sebuah mitos yang sakral bahkan mungkin sudah menjadi teori ekonomi baru di masyarakat. Paradigma berpikir kita sudah teracuni dengan hegemoni uang tersebut. Dengan pemikiran seperti itu tidak menutup kemungkinan bahwa kehidupan komunal masyarakat indonesia yang selama ini terbangun, sedikit demi sedikit akan terhapus karena masyarakat akan berlomba-lomba mendapatkan uang sebagai hal pokok untuk bertahan hidup.
Epilog
Ada satu analisis menarik yang perlu kita kaji bersama adalah bahwa sebenarnya transformasi fungsi uang tersebut merupakan buah hasil dari sistem ekonomi yang kita sebut kapitalisme, karena dalam sistem ini uang sebagi instrumen yang menjadi simbol utama berapa banyak kapital yang kemudian dikuasai, Seperti yang dikatakan Refrison baswir, "secara substansial bukan uang itu sendiri yang beralih fungsi tapi karena uang sebagai alat tukar di dalam system yang berwatak kapitalistik dan dengan sendirinya kapitalisme menguangkan capital maka kemudian apapun dilakukan dalam proses akumulasi capital termasuk dg mengomoditikan uang itu sendiri, tapi bukan uang itu sendiri yang beralih fungsi itu hanya implikasi dari dasar pokok kapitalisme, kalau saya melihatnya seperti itu."
Sekali lagi manusia terjebak dalam sebuah lubang hitam dari sebuah sistem yang kemudian kita anggap sebagai fenomena biasa yang harus terjadi. Padahal sebenarnya ada penyebab utama yang harus ditelaah lagi mengenai peralihan fungsi uang tersebut. Kita tinggal memilih, untuk terus terjebak dalam kuasa uang dan sistem kapitalistik atau akan mencoba keluar meluruskan kembali fungsi uang sebagai faktor sekunder dalam membangun kehidupan dan mengalahkan dominasi kapitalisme.
Syahrul Ramadhan dan Ikhwan S.N.
(dimuat dalam majalah Keadilan 2009)
Terkait:
-
Ritual Hubungan Seksual di Makam Pangeran Demak ; Mitos yang Diselewengkan
Rabu, 14 Okt '09 18:04
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Penting
-
Rizki: Penting
-
Como Bacomboy: Bagus
-
si berang-berang: Perlu
Komentar:
Betul memang telaahmu kuwi....
Baidewei, aku pengen tuku external hardisk bro, silihi duit ya! (ironic mode
aq pingin tuku pit motor (kene silihi duit..)
btw yang menarik sebernarnya aq pingin tau komentar temen dr fak.ekonomi mengenai pandangan tulisan ini..
mas fandi mau comment?
Silahkan login untuk memberikan pendapat