Berfilsafat Lalu Menulis 3
Sabtu, 10 Okt '09 21:10
Saat santai mendengarkan Winamp untuk meramaikan kantor redaksi Ecpose yang sedang sepi, atau sengaja dibikin sepi? saya iseng membuka-buka file komputer LPM ini. Saya katakan sepi karena memang tak ada awak lembaga yang nongol batang hidungnya, untuk sekedar menghirup aroma sekretariat tercinta. Sempat terpikir, mungkin mereka lagi sibuk dengan urusan masing-masing sehingga tidak sah saya vonis demikian. Tapi sebagai seorang Ecposer yang paham dengan karekter dan proses yang wajib dilalui seorang awak Ecpose di sini, sangat miris. Ah, tak pernah saya sesensitif hari ini, tapi yang membuat saya begini ya kondisi yang demikian.
O iya saya lanjutkan. Tidak direncanakan saya membuka lagi salah satu file format doc di partisi F hardisk komputer. Sebenarnya sudah lama file itu sengaja bercokol, juga sudah saya baca berulang-ulang. Kalau tidak salah sejak 3 Maret 2009 lalu file ini sudah ada. Isinya perbincangan mas Eric (Alumni Ecpose) dan Dono, Reny, juga Nody (Pengurus Ecpose pada saat itu) yang mengajak Mas Eric untuk mengisi materi up grading pengurus LPME Ecpose. Up grading terlaksana malah pada tengah periode kepengurusan. Hmmm, tidak terima dengan pernyataan saya? Kita selesaikan di lain waktu dan lain tempat ya! He..
Sangat lucu perbindangan di Facebook itu tapi sarat kritik. Mas Eric sempat menolak permintaan kawan-kawan untuk menjadi pemateri up grading. Alasannya dia bingung mau memberikan materi apa. Tentang menulis jawab kawan-kawan, diperjelas masalah Ansos dan keorganisasian. Permintaan tersebut disambut tawa dalam perbicangan di FB itu, katanya up grading yang mengalami penurunan. Tapi menurut saya itu permintaan polos dan jujur dari kawan-kawan melihat kondisi awak lembaga saat itu.
Di satu sisi pula kawan-kawan benar melontarkan permintaan demikian, karena kondisi yang memang agak memaksa. Diajak diskusi malas, disuruh mbudal reportase gak ada yang tergerak, dihimbau baca buku tak ada yang bersemangat. Satu penyadaran yang saya kira benar dari mas Eric adalah akar permasalahan pada hakikat menulis. Yang sebenarnya membuat orang alergi menulis.
Kalau saya urai lebih jauh perbincangan di FB itu, hakikat dari menulis adalah bicara filsafat. Untuk menumbuhkan kesadaran menulis tentunya orang harus disadarkan dulu hakikatnya. Kesadaran menulis membutuhkan perangkat berfikir yang kokoh, atau logika berfikir yang kaya. Sehingga "pena" yang digunakan untuk menulis menjadi benar-benar kuat. Kalau diperbincangan FB itu diumpamakan dengan Marx atau psikoanalisis Freud yang sudah ditarik ke ranah sosial oleh Marcuse. De el el...
Ketika kesadaran Persma tentang hakikat menulis tersebut sudah kokoh, maka Ansos akan terasa mudah, menulis lebih berisi, militan, tajam, analitis, aksektis di bidanganya dan sebagainya, karena penulisnya juga berisi. Tulisan Persma kebanyakan dihujat karena cenderung spekulatif dan bersarang penyakit subyektif laten. Lho, faktanya demikian kok, tak usah berapologi lagi deh. Atau mungkin banyak yang malas menulis karena takut tulisan tak berisi. Wah, malas menulis itu lebih parah lagi.
Tulisan ini saya kaitkan pula dengan hasil "Ngupil" atau Ngerumpi Filsafat yang diadakan PPMI Kota Jember tiap sabtu sore. Dari Ngupil tadi (10/10) beberapa catatan berhasil saya kantongi, tak tahu untuk apa. Syukur-syukur bisa jadi tulisan. Ketakutannya filsafat kemudian menjadi hal yang remeh-temeh, atau bahasanya Kang Ipang, karena kajian filsafat, dewasa ini hampir diambil alih oleh macam ilmu pengetahuan yang jauh lebih spesifik daripada sebelumnya seperti sosiologi, linguistik, antronomi dan lain-lain. Pada akhirnya kita hanya mengenal filsafat secuil dua cuil, sepotong-sepotong. Pemahaman tetang hakikat tidak tuntas, menyebabkan pincang nalar (logika berpikir). Sebenarnya banyak lagi catatan lain, yang jelas, saya takut ini terjadi pada Persma.
Dari sini kita telah tahu pentingnya menjaga budaya ktritis lewat penyadaran hakikat itu. Tak perlu alergi untuk bicara filsafat atau Ngupil di mana saja. Ingat, Persma memiliki senjata ampuh yaitu nalar. O iya, terakhir, saya mengambil kasus LPME Ecpose tempat saya berproses bukan bermaksud apa-apa. Hasil pantauan saya ketika berkeliling ke kota-kota kasusnya serupa dengan Persma yang lain. Ini penyakit kebanyakan Persma. Salam persma!
Tag: Persma, Ngupil, Filsafat, Menulis, Ecpose
Terkait:
-
Mengingat Gie dan sekedar catatan tentang Persma
Senin, 2 Mei '11 15:54 -
KAPAN KAMU MENULIS?
Sabtu, 20 Feb '10 22:41 -
Persma Jember Ngupil Lagi
Sabtu, 10 Okt '09 19:35
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Penting
-
Rizki: Penting
-
si berang-berang: Penting
-
Wahyu Eko P: Penting
-
arman dhani bustomi: Perlu
-
Die Key belajar nulis: Penting
Komentar:
tetapi formula apa biar pegiat persma bisa rajin menulis...
Silahkan login untuk memberikan pendapat