Pertarungan Abadi; Si Kaya dan Si Miskin (01) 2

Jumat, 9 Okt '09 21:42

Mungkin Anda sudah bosan mendengar permasalahan yang ada dalam pendidikan di negeri ini. Barangkali Anda suka dengan permasalahan itu. Tentu juga Anda sering bengong saat ditanya problem solving-nya—jika ada. Anda pun—saya pastikan—terkadang tertawa saat mengamati ketakbecusan pemerintah menjalankan roda pendidikan. Dan—yang ini sudah pasti—Anda butuh organisme bernama pendidikan ini. Tak bisa dilepas. Tak bisa melepaskan. Kecanduan.

Sindrom kecanduan ini—lagi-lagi barangkali juga—yang telah membuat semua orang ketakutan akan kebodohan, kegilaan; seikat persepsi minor, yang diam-diam kita juga melanggengkan salah satu dari garis pemisah yang tegas; beradab atau tidak. Tapi entah, tidak ada yang berani mengklarifikasi, sesampainya kita berada di gugusan yang dinamai "peradaban", titik 'kompleks' antara penghancuran dan pembentukan; bertenaga positif. Kalaupun ada yang memberi penjelasan tentang asal-usul kita yang sudah berada di garis "peradaban" sejak zaman 'super purba', pernyataan itu pasti jatuhnya pada kesalahan.

Itulah kita yang "beradab" saat ini sedang menulis, membaca, mendengar, mengamati, merenungi arti sebuah hidup; tentang pertarungan untuk bisa survive. Saat masih balita, orang tua Anda pasti tak ingin Anda kelak menjadi pengemis, gelandangan, orang miskin, yang diposisikan sama dengan orang gila; sama halnya dengan Anda yang sekarang sedang dalam rangka menjadi pengangguran terdidik—mengenyam bangku pendidikan hanya sekedar ingin membuktikan bahwa sekarang menjadi pengangguran pun sulit.

Anda pasti akan terjerat temali kehidupan. Tak penting Anda tetap optimis atau tidak. Yang ada dalam kamus pendidikan kita hanyalah kalimat "sekolahlah nak setinggi mungkin, gapai cita-citamu di langit itu". Kalimat tersebut tersemat rapi dalam kepala orang pendahulu kita. Kita pun ternyata berpikir persis seperti mereka. Mbah kita, yang tak pernah sekolah, juga berpikiran seperti itu. Bahkan, jika Anda menyempatkan diri melamar seorang gadis, pertanyaan pertama dari calon mertua adalah "setinggi apa pendidikanmu, dan berapa penghasilanmu untuk menghidupi anakku...".

Di Islam, terukir kalimat "kemiskinan mendekati kekafiran". Di negara kita, Indonesia, terukir rapi bahwa semakin tinggi pendidikan Anda, semakin banyak pula keuntungan materiil yang akan Anda dapatkan (pen—bisa di-cross-check dalam penggajian PNS dengan sistem penggolongan menurut derajat pendidikan). MUI di Madura pun, si empunya agama di sana, sempat "mengharamkan memberi uang sepeserpun kepada pengemis". Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, mengeluarkan pernyataan dalam bentuk iklan layanan masyarakat yang terpajang di tepi jalan daerah Wonokromo; Stop pemberian sumbangan di jalanan! Pemberian Anda justru menjerumuskan mereka. Kalau Anda memilah hasil survei penyebab kemiskinan, orang tak berpendidikan (berpendidikan rendah) mendapatkan angka terbanyak.

Itulah penafsiran para manusia, seperti kita, yang telah membuat jembatan bernama pendidikan; diposisikan antara kemiskinan dan kesejahteraan. Pemerintah tergerak hatinya. Undang-Undang Guru dan Dosen dijubahi profesionalisme dengan memproduksi pendidik secara masal agar bersertifikat. Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan dipertahankan pemerintah agar pendidikan sama persis layaknya industri; yang mengangkat martabat anak orang kaya sekaligus memasung anak orang miskin—efek domino yang berujung "penindasan". Sekolah gratis digalakkan meski tak menyeluruh dan virus pungutan liar masih belum terobati. Dana BOS dan dana untuk pembangunan fisik pendidikan yang berfungsi memperbaiki kesalahan pemerintah yang akut itu kena sunat prosedur birokrasi. Pendidikan dini yang semestinya berhukum wajib menjadi mubah. Dan...hukum hanya mengenal orang 'atas'. Kalau begitu, semua permasalahan dalam pendidikan ini bersumber dari model pendidikan yang dilahirkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Tahun 2003. UUSPN Tahun 2003 lahir karena amanah UUD Tahun 1945. Ternyata semua peraturan hukum itu bermasalah sebab ketika dipraktekkan juga bermasalah—das sein tidak pas dengan das solen-nya. Termasuk kita yang saat ini sedang mempermasalahkannya...[]


Tag: Menjelang Hari Kekerasan Pendidikan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

JoyceKontraRevolusi 1 suka | 0
Jadi teringat lagi (dan selalu lagi) pada analisis Bourdieu. Bahwa sekolah merupakan sarana seleksi sosial terdini, untuk menjaga spesies manusia borjuis, dan memberi preferensi semu yang bernama "persamaan kesempatan" bagi kelompok masyarakat kebanyakan...

Arya Dwipangga 1 suka | 0
Saya juga teringat dengan kata Ibu-ku kemarin, saat Idul Fitri. Ibu bilang, "Ini (menunjuk adikku) dan mas-nya (baca: aku) yang nanti ngopeni (merawat) orang tuanya." Ternyata, kesimpulanku, anak adalah investasi keluarga. Pantas, dalam tradisi Jawa, "banyak anak banyak rejeki", memang dipatuhi benar, meski KB juga masih dipertahankan. Sekolah adalah perihal yang paling diutamakan dalam lingkungan keluarga, yang terdekat dengan kita, yang berujung pada tombak; Aku yang kaya, atau Kamu yang miskin.

Silahkan login untuk memberikan pendapat