GERAKAN PERDAGANGAN ALTERNATIF 7
Selasa, 6 Okt '09 11:55
Jumat malam 21 Agustus 2009 bertempat di Sekertariat LPM Prima Fisip Unej kami memulai diskusi seperti biasanya. Malam ini terasa sangat spesial, mungkin karena malam ini tarawih pertama di bulan puasa dilaksanakan. Pukul 08.30 diskusi dimulai, dengan pembicara Mas Chandra, beliau Dosen Sejarah Fak.Sastra Unej. Tema kali ini adalah "Fair Trade sebagai Gerakan Perdagangan Alternatif". Dengan meneguk sebotol minuman berkarbonasi Mas Chandra membuka diskusi malam itu.
Perdagangan merupakan salah bentuk interaksi antara produsen dengan konsumen. Seringkali konsumen merasa harga yang dikeluarkan oleh produsen untuk sebuah produk terlalu tinggi sementara produsen merasa biaya-biaya produksi yang tinggi untuk sebuah produk membuat produk tersebut layak bernilai tinggi. Aturan-aturan perdagangan yang sengaja dimonopoli dan dimanipulasi untuk kepentingan pihak-pihak tertentu membuat sistem perdagangan ini berat sebelah. Dari sini muncullah Fair Trade, sebuah gerakan perdagangan yang adil dimana dialog, transparasi, dan sikap saling menghargai dari kedua belah pihak.
Fair trade sebenarnya bukan hal baru bagi Indonesia. Dimulai sejak tahun 1980-an dengan perdagangan kerajinan tangan. Fair trade muncul sebagai sebuah gerakan tandingan bagi Free Trade (Pasar Bebas). Free Trade (Pasar Bebas) dalam penerapannya selalu memburu laba atau profit dengan menghalalkan segala cara tidak peduli dengan kesejahteraan banyak orang. Dalam prakteknya Free Trade menjelma menjadi bentuk korporasi raksasa atau investor negara-negara kaya yang menjajah negara dunia ketiga. Kehadirannya kerap mengatas namakan pembangunan sehingga mendapat restu dari pemerintah maupun tokoh-tokoh masyarakat. Negara kerap dijungkirbalikkan demi mendapat profit. Seperti yang terjadi di tanah Papua dimana sumber daya alamnya dieksploitasi habis-habisan, pengrusakan lingkungan dan pemiskinan rakyat sehingga banyak muncul gerakan separatis memisahkan diri dari NKRI sebagai bentuk pembebasan dari korporasi yang bergandengan mesra dengan pemerintah.
Kalau dilihat dari arti sebenarnya Fair Trade menurut definisi World Fair Trade Organization (WFTO) dapat dibagi menjadi dua yakni ; Pertama sebagai sebuah gerakan. Fair Trade adalah gerakan Internasional yang berada di di payung WFTO. WFTO bertugas merumuskan aturan main dan kriteria yang harus dipenuhi anggota maupun orang atau organisasi yang bergabung dalam gerakan Fair Trade. Kegiatan organisasi lebih banyak difokuskan pada kegiatan advokasi kebijakan, terutama kebijakan perdagangan Internasional/World Trade Organization (WTO). Kedua sebagai model/kegiatan bisnis menyangkut persoalan anggota untuk mewujudkan prinsip-prinsip Fair Trade. Contoh prinsip Fair Trade ; dalam kegiatan bisnis harus ada unsur memerangi kemiskinan ; pembayaran layak dan lancar ; tidak memperkerjakan tenaga kerja dibawah umur ; kesetaraan gender ; tidak merusak lingkungan ; ada unsur partnership yang saling membesarkan. Jadi yang menjadi perhatian para pelaku Fair Trade dalam kegiatan bisnis lebih mengacu pada norma-norma kemanusiaan.
Sebagai gerakan perdagangan alternatif Fair Trade hadir untuk menjunjung tinggi kesetaraan kesejahteraan. Efisiensi kerja yang tidak mengeksploitasi sumber daya alam dan lingkungan juga merupakan bagian dari Fair Trade. Kesejahteraan para pekerja juga diperhatikan ketika Fair Trade diterapkan. Tapi ketika produk yang dihasilkan oleh produsen yang menerapkan sistem Fair Trade dijual ke konsumen dalam jumlah besar kemudian dijual lagi oleh konsumen dengan harga tinggi, apakah ini juga termasuk Fair Trade.....?
Pertanyaan ini muncul ketika diskusi jumat malam sedang berlangsung. Mas Chandra menjawab ; Kita semua ini sedang dicengkram kuat "Kapitalisme", Fair Trade hanya merupakan salah satu bentuk "penghalusan" dari Free Trade. Secara langsung tujuan utama perdagangan adalah uang. Mas Chandra memaparkan bahwa mekanisme pasar tidak bisa lepas dari Invisble Hand (tangan tak tampak). Kita sudah masuk dalam "Sirkuit Produksi Kapitalisme", walaupun Fair Trade diterapkan, ketika masuk dalam sirkuit ini tentu bukan lagi Fair Trade namanya. Memamah ulang semua sistem perdagangan perlu dilakukan, segala bentuk ideologi atau juga sistem dari luar harus dipahami, dimengerti dan disesuaikan dengan kondisi yang terjadi sekarang ini. Segala bentuk yang berbau luar dan asing selama ini langsung ditelan mentah-mentah tanpa digigit, dikunyah terlebih dahulu. Jalan terbaik harus didapat melalui pemikiran dan proses hingga terwujud kondisi yang benar-benar adil. Entah, mungkin karena terlalu asyik berdiskusi hingga waktu menunjukkan pukul 2 pagi, diskusi akhirnya ditutup dengan bunyi kentongan dan meriam bambu yang menandakan waktu sahur telah tiba.[Rizki Akbari S]
Bahan Bacaan :
1. ORGANIS, I. Gst. Kt. Agung Alit. Fair Trade dan Free Trade.
2. World Fair Trade Organization.com.
Tag: Fair trade, Free trade, Perdagangan
Komentar:
secara epistemologi kapitalisme di lawan karena ternyata menghadirkan ketimpangan internal-eksternal.
nah bicara gerakan alternatif maka hal yg paling mendasar kita bicara mode of production (cara produksi). fair trade di katakan kapitasime aku pikir itu tidak penting. yg penting adalah fair trade hendak mengorientasikan rakyat untuk menuju titik produktifitasnya (mode of productio).
aku tdak sepakat dengan pandangan "mekanisme pasar tidak bisa lepas dari Invisble Hand (tangan tak tampak)". begini dalam perjalanannya invisibel hand itu tidak ada. Invisible hand yg di maksud Smith adalah biar pasar yang mengatur dirinya sendiri, namun dalam perjalannya ternyata mekanisme pasar yg seperti itu tidak berlangsung lama dan menjurus ke pasar monopolistik. pada titik ini lah campurtangan Negara hadir mengintervensi pasar dan kemudian kita mngenal istilah kapitalisme negara.....
Diawali dari krisis perumahan yang hebat akhir tahun lalu, kapitalisme sebenarnya kembali direfleksi ulang, bahkan dihujat sebagai biang kerok dari sektor finansial yang menukik tak terkendali, "krisis tak tampak, tapi sangat terasa." bangunan ekonomi goyang dan guncang. Investor pilu. Perusahaan2 raksasa nyaris rubuh. Tangan negara kemudian datang membwa dana talangan (yang juga sempat beberapa kali bermasalah). Orang2 jadi mulai bertanya lagi, mana tangan tak tampak dan tetesan2 itu? Amrik--terutama, tidak punya pilihan lain kecuali mengintervensi pasar.
Mas Erik (Ecpoce), baru2 ini menggambarkan krisis itu dengan bahasa yang mudah dimengerti, "Kita memang berada di tengah gerak sektor finansial dunia yang, dalam bahasa Bjorn Elmbrant, disebut sebagai ”jemaah tanpa pemimpin yang berderap sempoyongan sampai akhirnya limbung tersandung kaki-sendiri”: a leader-less collective staggering about and tripping over its own feet."
Sementara di luar keberutalan kapitalisme sekaligus sumbangsihnya untuk perekonomian dunia, kita, di dunia ketiga terus "menanti" alternatif. Sesuatu yang mungkin lebih baik. Entah apa.
Dan fair trade, saya kira hanyalah alternatif, bukan "sesuatu" yang kita nanti setengah bermimpi itu.
jika bisa dimaksimalkan maka..
bisa lah kita gesek si freetrade tadi
Saya rasa pernyataan ini terlalu naif dan bisa saja menunjukkan bahwa betapa akut ketakutan kita terhadap Kapitalisme, hingga memunculkan sebuah kepesimisan semacam ini.
Saya rasa nggak semua sistem yang bersinggungan dnegan uang akan berujung pada apa yang banyak orang sebut kapitalisme, seperti pernyataan di atas. Fair Trade, kalau diasumsikan sebagai sebuah gerakan murni menolak segala macam gaya ekonomi berbuntut uang, tentu saja adalah sebuah utopia yang akut, kita tidak bisa membayangkan bahwa Fair Trade adalah sosialsi komunal primitif dengan menukarkan barang dan barang
Fair Trade adalah misi ekonomi baru, dengan menkankan pada penemuan metode produksi sendiri masyarakat, dan membangun sebuah jaringan kerja bersama untuk menyalurkan barang itu. dengan keuntungan yang sesuai dengan proses kerja, penyaluran (secara hatinurani) sebuah usaha yang asing bagi manusia modern, tapi layak dicoba. Fair Trade sudah berkembang lama, sayang di antara kita tidak popular...
Silahkan login untuk memberikan pendapat