Tanya, Siapa yang Paling Berpeluang Merebut Sembilan Elemen Jurnalisme 1
Senin, 5 Okt '09 16:12
Sembilan elemen jurnalisme seperti yang diungkap Kovach dan Rosenstiel adalah semacam pegangan bagi wartawan (jurnalis). Apa yang seharusnya dilakukan wartawan dan apa yang diharapkan publik. Ada nilai dalam sembilan elemen jurnalisme mengkoridori laku dan moral wartawan sebagai pemberi informasi, fakta, dan data sebenarnya (bukan yang ideal). Seperti kita tahu, sembilan elemen jurnalisme meliputi; wajib menyampaikan kebenaran, loyalitas kepada masyarakat, disiplin verifikasi, independensi terhadap sumber berita, pemantau kekuasaan, menyediakan forum kritik maupun dukungan masyarakat, berusaha keras membuat hal yang penting, menarik dan relevan, kompherensif dan proporsional, serta diperbolehkan mengikuti nurani mereka.
Pada bagian pembuka sembilan elemen jurnalisme Kovach dan Rosenstiel, pers adalah pembentuk opini publik dan ruang dialektis dengan pembacanya. Dari sini lahirlah yang namanya kebebasan publik lalu menelorkan istilah demokrasi. Kovach dan Rosensteil mencontohkan masyarakat polandia pada masa pemerintahan komunis, yang demokrasinya lahir dari kebebasan opini publik itu. Dapat dipastikan pembentukan opini publik yang sehat dan cerdas -lahir demokrasi- hasil dari laku dan moral wartawan yang seharusnya menurut Kovach dan Rosenstiel.
Pers Umum dan Pers Mahasiswa Kekinian
Pers dapat kita devinisikan secara sederhana sebagai usaha pengumpulan dan penyiaran berita untuk dikonsumsi oleh publik dalam bentuk media. Lebih jauh kemudian khalayak cenderung mendiferensiasikan pers menjadi beberapa istilah. Menurut saya itu berangkat dari sifat, bentuk, karakter, dan politik (ideologi) yang melekat pada istilah pers itu sendiri. Misal, pers umum, pers perjuangan, pers kampus, atau pers mahasiswa (Persma). Walapun pada dasarnya mereka yang dibedakan itu tetap saja pers. Dan faktanya, saya anggap pembedaan itu benar adanya melihat kondisi yang terjadi saat ini (kekinian).
Batasan dialektis dalam tulisan ini hanya pada pers umum dan persma. Untuk mendudukkan kembali "simbolisme" persma sebagai ruang "mitologis". Agar tulisan ini mejadi pewacanaan atas pertanyaan apakah ada atau perlukah peran politis persma sebagai gerakan yang historis?
Pers umum dari beberapa perdebatan dipahami sebagai perusahaan penebitan dan percetakan. Perusahaan tentunya bekerja memberikan informasi kepada pembaca mengharapkan imbalan (profit) dari hasil kerjanya. Tentu untuk bertahan hidup dengan iklan dan hasil penjualan media. Usaha yang dilakukan mengikuti keinginan atau apa yang disukai pembaca, mengikuti keinginan pasar. Perusahaan pers tidak ingin kehilangan pembacanya karena tidak disukai. Dan wartawan sebagai pencari berita menjadikan pers umum sebagai mata pencaharian (profesi).
Sejak dibukanya keran kebebasan pers pada era reformasi di Indonesia, banyak bermunculan pers umum. Saking banyaknya, persaingan antar pers umum mau tidak mau, diinginkan atau tidak mereka harus bekerja lebih giat lagi. Ketakutan minggatnya pembaca sebagai konsumen penyebab penurunan relasi iklan sebagai pemberi uang, memaksa beberapa pers umum berlaku "nakal." Fakta dilapangan terjadi demikian, logika pasar yang berlaku. Kebenaran dan esensi pers sebagai penyaji berita faktual terpercaya diciderai. Terlebih nasib politik media hanya ditentukan oleh pemilik perusahaan pers itu (pers umum). Wartawan hanya mencari berita yang diinginkan penentu politik media tersebut.
Persma diklaim oleh pegiatnya sebagai dua kata yang berbeda namun satu pemaknaan. Kata pers didefinisikan sebagai pemberi informasi kepada pembaca. Sedangkan mahasiswa adalah "ras" yang berbeda dengan manusia lain dari segi umur, imajinasi, intelektual, dan kebebasan berfikir, serta mampu menelorkan pemikiran alternatif. Itulah kenapa oleh para pegiatnya dikatakan sebagai definisi yang berat, unik, dan sangat idealis.
Kembali pada pasca reformasi (1998), Persma menuduh dirinya sendiri telah kehilangan arah seperti terungkap dalam pelbagai diskusi internalnya. Esensi dua kata yang berat, unik, dan sangat idealis itu sudah hilang melihat kondisi kekinian. Persma hari ini tumpul, seperti umpatan aktifisnya yang dengan sadar mereka katakan sendiri.
Fakta yang terlihat detik ini: militansi, ketangguhan, dan aksektisnya, bahkan ranah teknis seperti pengetahuan jurnalistik mengalami penurunan drastis. Banyak persma saat ini masih dinanti pembacanya sebagai pers alternatif karena diuntungkan dan bersembunyi dibalik nama besar (romantisme). Definisi pers dan mahasiswa tidak kentara sama sekali. Terbukti dari produk (media) yang dihasilkan beberapa Persma jauh dari definisi pers mahasiswa.
Yang paling berpeluang atas sembilan elemen jurnalisme
Jika dikaitkan dengan sembilan elemen jurnalisme Kovach dan Rosenstiel dari segi esensi dan motif dari apa yang dikerjakan, sepertinya persma yang lebih berpeluang. Pers (dan) mahasiswa sebagai pemberi informasi yang membentuk opini publik dengan pemberitaan alternatif, imajinatif, intelektual, unik dan sangat idealis. Seperti saya ungkap sebelumnnya, pers umum berpeluang tipis dan keberhasilan merebut sembilan elemen jurnalisme hanya pembacanya yang bisa menilai. Namun melihat kondisi persma hari ini yang mengalami penumpulan esensi maupun pendangkalan pengetahuan jurnalistik saya ragu persma dapat merebut sembilan elemen jurnalisme itu.
Saya berpikir lagi, kedua-duanya (pers umum dan persma) berpeluang merebut sembilan elemen jurnalisme ketika mereka sadar dengan tanggung jawab sebagai seorang jurnalis. Dengan masing-masing bumbu motifasi yang melekat. Bagaimana dengan anda?
Tag: Pers, Persma, Jusrnalisme, Mahasiswa
Terkait:
-
Kolaborasi Ramaikan Persma.com Yuk!
Jumat, 19 Agu '11 15:37 -
Tantangan Eksistensial Pers Mahasiswa
Kamis, 10 Feb '11 14:34 -
Nikmatnya Jika Sedang Ereksi
Kamis, 8 Jul '10 04:17
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat