Soal BHP, Mahasiswa apatis dan jurnalis bebas demo 3
Senin, 5 Okt '09 23:41
Saat itu Jember sedang mendung, saya lupa waktu dan harinya. Hujan semalam tidak menyurutkan beberapa mahasiswa untuk melakukan aksi. Aksi yang bertujuan penolakan terhadap undang-undang badan hukum pendidikan (UU BHP) ini, sudah sejak beberapa hari sebelumnya diwacanakan. Aksi yang berlangsung mulai dari fakultas ekonomi unej, lalu lanjut ke sastra, fisip dan seluruh fakultas ini berlangsung tertib tanpa tindakan anarkhis.
Aksi yang dilakukan oleh front mahasiswa Unej (FMU) ini dilakukan atas keprihatinan mahasiswa Unej terhadap pengesahan UU BHP. Mereka menilai bahwa UU BHP akan semakin memberatkan mahasiswa dalam pembiayaan. Karena menurut pasal 41 ayat 4 dari UU BHP, mahasiswa harus ikut menanggung sepertiga beban biaya operasional pada BHP. Hal tersebut bertentangan dengan undang undang dasar 45 pasal 28c dan pasal 32 ayat1, 2, dan 3 . karena disitu jelas dikatakan bahwa pemerintah wajib membiayai pendidikan setiap warga negaranya.
Saya dan beberapa teman kemudian berpikir untuk membuat aksi bersama. Untuk menetang hal ini. Namun tidak sedikit pula yang apatis dan bilang "ngapain ikut demo? Kita ini jurnalis!!!!". Awalnya saya setuju-setuju saja, toh itu hak dia untuk berpendapat. Namun kemudian saya mereflesikan kata-kata itu, memangnya kenapa kalo kita jurnalis? Tidak boleh ikut demo? Apa memang ada larangan sepeti itu? Okelah sebagai jurnalis kita bergerak pada tataran isu dan pembuatan opini publik.
Tapi apakah itu saja peran kita sebagai persma? Lalu bagaimana jika kita menulis tentang UU BHP, reportase soal BHP, dan advokasi soal BHP lewat poster namun tidak ada hasil? Apa yang sebaiknya kita lakukan? Sebelumnya saya minta maaf jika nantinya tulisan ini sedikit menyindir atau membuat sakit hati. Tapi jujur ini suara hati saya seorang mahasiswa yang cuma bisa menulis, berwacana, berteori tanpa bisa melakukan aksi nyata. Dalam perspektif saya ini adalah suatu hal yang sungguh memalukan.
Kemudian apa yang harus dilakukan? Apakah kemudian saya harus ikut menjadi apatis seperti sebagian teman-teman yang lain? Seperti saat saya menunggu aksi berlangsung ada beberapa mahasiswa yang berceletuk "nyaopo demo, iso opo rah wong-wong iku?" sambil mendengarkan musik di ponsel tipe terbaru mereka. Apakah seapatis itukah mereka terhadap demonstrasi?
Saya sangat kecewa sekali, kemarahan dalam hati kemudian saya ungkapkan kepada teman-teman saya yang tadi "ngakunya" peduli terhadap BHP namun tidak ikut melakukan aksi. Beragam tanggapan saya dapatkan, ada yang marah, ada yang cuek, ada yang mengejek bahkan ada yang menghina. Ah apakah sampai sini saja kepedulian mereka atau kepedulian itu hanya sekedar pura-pura. Saya tidak tahu, yang jelas saya menolak BHP dan ini cara saya untuk mengekspresikannya.
Hari sudah beranjak siang dan massa yang terkumpul tidak lebih dari 100 orang. The show must go on, mereka kemudian melakukan aksinya didepan gedung rektorat Unej. Orasi-orasi yang disertai umpatan kasar menodai niat tulus dari aksi ini. Beberapa wartawan senior yang meliput menertawakan sikap mahasiswa ini sebagai dagelan. "persis kaya di sinetron" katanya. Sekali lagi kekecewaan menyergap hati saya.
FMU kemudian menuntut agar rektor Unej keluar dan menemui mahasiswa untuk melakukan dialog. Hal yang kemudian tidak dapat dilakukan karena rektor kabarnya tidak berada ditempat. Sebagai perwakilan, pembantu rektor 3 (PR3) kemudian keluar menemui mahasiswa. Suasana makin memanas karena beberapa mahasiswa menolak melakukan dialog, mereka menuntut agar PR 3 untuk menandatangani petisi penolakan terhadap UU BHP.
PR 3 Unej Drs. Andang Subharijanto, Mhum kemudian berusaha menenangkan massa. Namun hal tersebut semakin memanaskan situasi, bahkan beberapa demonstran memaki dan mengumpat dengan kata-kata yang kasar. Suatu hal yang bisa dihindarkan jika mahasiswa yang ada bisa cukup "cerdas" dalam berpikir. Hal inilah yang menjadikan cacat luarbiasa aksi ini. Karena tujuan aksi yang sebenarnya mulia dirusak oleh mahasiswa uncivilized dalam berbicara. saat situasi sudah tidak dapat dikendalikan, koordinator lapangan FMU Catur Susilo kemudian menegur mahasiswa agar menjaga perilakunya.
Catur Susilo, kemudian menyodorkan sebuah surat yang berisi petisi penolakan UU BHP. Hal tersebut dengan tegas ditolak oleh PR 3, karena beliau menilai yang berhak dan mampu melakukan penolakan dan pencabutan UU BHP adalah pihak DPR. Selanjutnya ia menyarankan untuk melakukan judicial review di Mahkamah Konstitusi.
Massa yang kecewa karena tuntutanya ditolak kemudian melakukan aksi pembakaran jaket almamater. Mereka menilai Unej sebagai almamater mereka tidak mampu menjadi sebuah lembaga yang membela kepentingan civitas akademikanya. Pembakaran almamater disimbolkan sebagai kekecewaan dan kemuakan atas ketidakpedulian Unej dalam membela kepentingan mahasiswanya.
Selepas aksi kemudian saya diantarkan seorang sahabat dari LPM lain kembali ke Tegalboto. Home sweet home, sesegera mungkin saya menulis. Sebagai ekspresi kemuakan saya terhadap pemerintah, kepada mahasiswa apatis, mahasiswa yang sok peduli tadi, dan mahasiswa yang bahkan tidak tahu apa itu BHP.
Di Tegalboto saya kemudian mendengarkan diskusi tentang doa dan usaha. Katanya doa tanpa usaha sulit akan tercapai, seraya menunggu mukzizat yang akan turun. Apalah manusia yang seperti tadi? Doa tanpa usaha? Mukzizat? Bah hanya orang impoten saja yang melakukan itu. Keinginan harus diupayakan untuk dicapai, diperjuangkan, dibela kalau perlu sampai titik darah penghabisan.
Pemberlakuan UU BHP yang sudah jelas akan menyulitkan mahasiswa mutlak harus kita tolak. Apa yang musti kita lakukan kemudian? Menolak saja? That's all? Atau tiduran? Menulis sudah sering dilakukan, poster sudah banyak ditempel dan diskusi sudah bosan dilakukan. Lalu apa lagi? Pertanyaan yang kemudian saya kembalikan keteman-teman saya di Tegalboto. Namun hasilnya....?
Saya sendiri kadang merasa sangat asing di Tegalboto. Apakah UKM ini hanya pintar diwacana? Sekumpulan Macan diskusi? Mahluk ekslusif yang tau paradigma si anu, pemikiran si ini, teori si itu. Percuma ilmu tinggi karena akan menjadikan kita menara gading jika tidak bisa mengaplikasikanya untuk orang banyak. Contradictio in terminis!
Tulisan ini adalah sebuah kekecewan saya terhadap teman-teman sekalian. Maaf sebelumnya. Tapi di tegalboto tercinta, saya dididik untuk jujur dan terus terang. Maka inilah saya, tentu anda sekalian akan merasa terpanggil untuk menjawab ocehan ini. Koreksi saya, hina saya, maki saya, dan kritik saya. Hal itu (mungkin) akan menjadikan saya lebih baik. Au revoir
Tag: Pendidikan, BHP, ppmi
Terkait:
-
Setelah UU BHP Tidak Ada Lagi
Minggu, 25 Apr '10 04:52 -
256MB DDR PC2700 CL2.5
Minggu, 31 Jan '10 23:23 -
Keluarkan Jurus Sebelas Jarimu! (03-habis)
Jumat, 16 Okt '09 21:36
Komentar:
Sebelumnya kita sudah menulis, menulis tentang BHP. Hampir semua LPM menyinggung BHMN dan BHP dalam buletin yang diterbitkan mulai tahun 2006? Majalah Prima lah yang saat itu menjadi sumber paling lengkap. Kecewa, sebab apa yang sudah ditulis oleh Persma jember ternyata tidak "dimanfaatkan" oleh--terutama kawan2 dari ekstra. Di saat2 frustasi lantaran UU BHP digedok "diam-diam," belum ada tanda2 dari ekstra, waktu mendesak, akhirnya orang-orang dari LPM lah yang harus mengkosolidasikan penyikapan BHP.
Diam-diam, saya jadi bertanya, pada diri sendiri, apakah terbitan2 Persma Jember soal BHP waktu itu belum cukup, atau gak mutu? Sehingga "bola-bola liar" yang bergelinding, tidak membuat aktifis bereaksi, (sebenarnya saya agak malu menggunakan istilah aktifis).
Tidak ada pilihan. Undangan ke seluruh elemen mahasiswa pun segera disebar. Tebak berapa elemen/kepala yang hadir? sekret Prima memang penuh, haha, tapi sekret itu hanya sebesar dua kali kamar mandi kampus. Pembicaraan tetap digelar, mulai 0 sekali, ada sesi pengenalan BHP pula. Miris pokoknya. Diputuskan untuk gelar aksi, pernyataan sikap mulai disusun, judulnya, "Tolak BHP dan Tolak BHP dan Tolak BHP." Sangat emosional, menggambarkan isi, yang juga sangat emosional. Pembakaran almamater itu juga sudah mendapat restu dari yang lain, meski awalnya ada yang g sepakat.
Aksi pun digelar. Jujur, pesan yang ingin dibawa ketika itu sederhana, diantaranya sebagai "pemberitauan" untuk mahasiswa2 yang lain bahwa ada BHP, yang sudah digedok, terus mau apa? selain itu juga sebagai pelajaran untuk Unej yang tidak pernah serius mengkaji BHP. baru pada saat aksi PR III berjanji akan mengkaji BHP, itu pun gak jelas kelanjutaannya.
Rahasia umum, jumlah massa sedikit, sementara aksi harus diupayakan masuk media, yah, apa lagi, aksi harus dibiki agak anarkis (lagi, dalam konteks ini, saya sering tidak srek menggunkan istilah anarkis). Justru media yang seharusnya dituduh anarkis karena masih pegang prinsip "kejadian buruk adalah berita baik," hampir dalam seluruh tipologi pemberitaaan. karakter media macam itu yang lebih banyak menyempurnakan aksi jalan tambah ngawur.
Setelah aksi, diadakan evaluasi di depan gerbang ekonomi. Saya tidak pernah lupa "rasanya' siang itu. Di antara mahasiswa yang berseliweran, dan tidak peduli apa yang sedang terjadi, dengan macam poster yang pasti dianggap g penting, kwan2 yang mengikuti evaluasi pasti sudah dianggap gila, karena masih demo di jaman yang mereka anggap modern dan gaul? Masa bodoh! mereka lah yang sesungguhnya gila karena gagal merawat kesadaran.
Evaluasi memutuskan untuk digelar konsolidasi, dan rencana aksi dengan massa yang lebih besar. Karena asumsinya, dari aksi pertama (barangkali) ada satu atau dua elemen/mahasiwa yang putuskan bergabung pada aksi lanjutan.
Undangan mulai disebar lagi, disebar lagi, disebar lagi, tapi yang datang, bahkan g cukup kalau diajak maen basket. Diskusi BHP, untuk support aksi memang bebrapa kali berhasil digelar, macet juga, gak banyak membantu.
Daripada "mahasiswa apatis dan jurnalis-jurnalis bebas demo" itu, saya lebih mengenal putus asa. Ah, Catur dan Taman (PU Prima) pasti lebih paham soal ini.
Ini juga soal pertemuan2 yang tidak terkonsolidasi dengan rapi.
Silahkan login untuk memberikan pendapat