Sensualitas atau Seksualitas? Memaknai simbolisasi tubuh pada Media 1
Senin, 5 Okt '09 23:35
"To believe in sex's reality and in the possibility of speaking sex without mediation is a delusion - the delusion of every discourse that believes in transparency ; it is also that of functional, scientific, and all other discourses with claims to the truth".
Jean Baudrillard - Seduction
Sang ratu ngebor sedang pusing. Konon karena show di kedutaan besar Indonesia di Malaysia akan dicekal. Alasannya karena Inul dianggap akan memperagakan kegiatan asusila melalui goyang ngebornya. Goyangan yang dituduh sebagai bentuk rangsangan dan masuk dalam bentuk pornoaksi. Namun benarkah demikian? Sensasi yang sama pernah terjadi saat Playboy Indonesia pertama kali terbit. Atau jika anda masih ingat saat Sophia Latjuba tampil seronok tanpa sehelai pakaian pun. Masyarakat Indonesia kala itu mulai ribut. Saat itulah wacana tentang hal porno mulai meledak bagai petasan.
Porno secara etimologi berasal dari bahasa yunani yang berarti "prostitusi pada tingkat yang paling rendah". Sedang dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti cabul. Pornografi sendiri berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitan nafsu berahi, bahan yang dirancang dengan sengaja dan semata-mata untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks.
Segala kegiatan wanita yang dianggap menjurus kearah pornoaksi, akhirnya melahirkan pengekangan. Hal itu kemudian melahirkan rancangan undang-undang pornografi dan porno aksi yang merumahkan kegiatan para wanita. Hal inilah yang dianggap melahirkan diskriminasi gender. Perempuan kerapkali dianggap sebagai objek penyebar dan pelaku kegiatan porno. Sensualitas tubuh yang memang menjadi berkat/kutukan wanita selalu saja menjadi kambing hitam. Maka, marilah kita telusuri jejak representasi tubuh dalam tulisan ini.
Take me out dan kesempurnaan "tubuh"
Ada sebuah acara menarik di salah satu stasiun televisi (TV) swasta. Acara yang bertajuk "take me out", acara semacam biro jodoh untuk perempuan/laki-laki mapan mencari pasangan yang ideal. Sebuah acara yang menarik buat saya, bukan tentang kemasan dan idenya. Tetapi lebih pada perempuan-perempuan yang tampil sensual, menarik dan menonjolkan citra sexy dalam setiap penampilannya.
Terdapat kesamaan antara take me out dan acara goyang ngebor Inul Daratista. Yaitu sama-sama menampilkan perempuan sebagai objek utama acaranya. Eksploitasi terhadap sensualitas penampilan tubuh wanita menjadi daya tarik utama dari kedua acara ini. Peran tubuh perempuan menjadi sebuah komoditas atau dalam bahasa Yasraf A.P "Libidonomics".
Michel Foucoult kemudian mencibir segala kebobrokan moralitas ini dalam Madness and Civilization. Ia berucap "Morality permitted itself to be administered like trade or economy". Saat ini masyarakat hanya dibiasakan dengan persoalan-persoalan estetik yang lebih kompleks dan sublim daripada harus membahas perdagangan "tetek" dan "titit". Kapitalisasi tubuh dan hasrat gaya hidup (seperti dalam kasus Take me Out dan Inul Daratista) telah menenggelamkan moralitas dan norma dalam media. Tak percaya? Masihkah anda melihat acara-acara tersebut jika di balut dalam pakaian super tertutup, tidak modis, semi religius dan resmi?
Berbeda dengan Foucoult, kritikus media Noam Chomsky pernah berucap "The role of the media in contemporary politics, forces us to ask what kind of a world and what kind of a society we want to live in". Ia menduduh masyarakat modern hanya reprsentasi dari keinginan-keinginan banal terhadap budaya konsumtif. Media -dalam hal ini televisi- menjadi kanal gaya hidup yang memberikan pencitraan kesempurnaan tubuh, penampilan dan wajah. Televisi lewat iklan-iklan yang diciptakannya telah membentuk opini atas kesempurnaan tubuh. Meminjam istilah Ziauddin Sardar dalam membongkar kuasa media, (televisi/media) iklan hadir untuk melahirkan hasrat.
Menurut saya sendiri, media adalah kuasa laki-laki terhadap keinginan mereka akan pencitraan wanita. Banyak sekali acara-acara televisi yang mencitrakan perempuan sebagai mahluk yang harus cantik, berkulit putih, berambut hitam panjang, sophisticated, smart, dan anggun. Piere Bordieu menyebutnya sebagai symbolic exploitation. Ia menjelaskan "Symbolic exploitation represents a generalized semiotic mechanism through which social actors receive a status wage for their identification with normative value systems".
Juliet Mitchell kemudian mendeskripsikan hal tersebut dalam wacana feminisme vis a vis patriarki. Ia kemudian mengadopsinya dalam term psikoanalisis yaitu "the law of the father" yang masuk dalam kebudayaan lewat bahasa atau proses simbolik lainnya. Simbolisasi seks melalui tubuh sensual wanita selalu menjadi bahan pertentangan. Namun jarang sekali terjadi polemik saat tubuh pria berotot dipampang dijalanan. Diamond dan Quinby dalam Feminism & Foucault:Reflections on Resistance mencurigai adanya relasi antara tubuh dan seksualitas sebagai pusat kekuasaan. Mereka berkata "Both identify the body as the site of power, that is, as the locus of domination through which docility is accomplished and subjectivity constituted".
Ini yang mendasari prasangka Akhol Firdaus terhadap Feminisme. Ia berkata dalam Kritik atas Feminisme : Sebuah Usaha Menuju Post-Feminisme. Feminisme menghantar pada "pendisiplinan" tubuh, yaitu mekanisme reproduksi stigma yang menyuguhkan kesadaran pikir dan laku. Satu hal lagi, bahwa tubuh tidak pernah menjadi lokus kuasa wacana yang beroperasi di masyarakat, ia hanya media bagi usaha membius ambang batas kesadaran masyarakat dalam pola pikir, tata laku, dan sikap mental.
Seharusnya kita bisa sedikit bijak memaknai tubuh sebagai hal personal dalam kehidupan manusia. Saat ia keluar dari area privat maka mau tidak mau si empunya tubuh harus rela menjadi bagian dari kapitalisme. Tubuh menjadi komoditas, sebuah alat perdagangan hasrat. Ia memberikan kepuasan visual, fantasi dan finansial bagi segala subjek yang ada didekatnya. Dan akhirnya tubuh tak lebih dari seonggok daging yang menggiurkan. Maka nikmatilah imaji tubuh ini!
Sensualitas Seks
Sebelum abad 17 seksualitas bukanlah hal yang tabu. Seksualitas bebas berontak dijalanan berarak-arak seperti sebuah festival. Seks adalah sebuah kebutuhan dasar dan kenikmatan dalam saat yang bersamaan. Namun kemudian lahirlah apa yang disebut Michel Foucoult sebagai "malam-malam monoton kaum borjuasi victorian". Adalah Ratu Victoria yang kemudian merumahtanggakan seksualitas. Mengekang segala sensualitasnya dalam ruang pribadi. Seksualitas menjadi hal tabu yang ditekan dan direpresi secara sistematis dalam aturan-aturan tertulis.
Dalam Histoire de la Sexualité, Michel Foucault mengkritik "domestifikasi" seksualitas. Menurutnya, tanpa mengatakannya pun (seks), kesantunan modern (yang banal) telah berhasilmelarang orang untuk membicarakan seks dengan sepangkat larangan yang saling mengacu: berbagai sikap membisu, yang menjadi berdiam diri terus-menerus akhirnya melembagakan kebungkaman. Dalam wujud penjara senyap yang bernama Sensor.
Beratus tahun kemudian munculah Anable Chong. Dengan semangat feminis yang unik, ia "menggoyang" kejantanan laki-laki. Perlawanan kaum wanita dengan hal yang paling disukai laki-laki, yaitu Seks! Ia melawan pembungkaman seksualitas dengan seksualitas itu sendiri. Ada dua hal yang ia lawan saat itu. Yang pertama adalah kemunafikan dan kepalsuan masyarakat (society) atas norma yang mentabukan seks. Ia menganggap bahwa seksualitas merupakan kebutuhan dasar, seperti juga makan dan minum. Maka tidak perlu ada alasan untuk merendahkan keberadaan seks sebagai konsumsi privat.
Perlawanan kedua adalah perlawanan terhadap patriarki dan dominasi laki-laki atas seksualitas. Wacana dan idiom yang mencitrakan laki-laki sebagai mahluk tangguh diranjang, tak terkalahkan, pihak dominan, dan tahan banting telah dipatahkan Anable Chong. Ia sendirian menaklukan lebih dari seratus laki-laki dengan kelaminnya. Kuat bertahan dari puluhan kali ejakulasi dan orgasme. Citra keperkasaan seks laki-laki runtuh dihadapannya. Thorstein Veblen dalam The Theory of the Leisure Class menyebut fenomena ini sebagai 'conspicuous consumption'. Ia berujar "She attempts to 'emulate' the other's own desires.This 'emulation' is mediated by a relational 'individious comparison', a desire to capture the other's desire, to achieve attention, respect...prestige".
Adalah Hugh Hefner sang bos Playboy yang mungkin bisa menandingi semangat "sensualitas" Anable Chong. Lelaki gaek yang sudah uzur ini selalu berganti pacar tiap tahunnya. Perempuan-perempuan muda, pirang, cantik, seksi dan yang jelas lebih dari satu. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Hefner ini? Ia mendobrak segala norma dan tatanan sosial dalam masyarakat. Ia tercatat sebagai laki-laki lajang, yang tidak menikah namun memiliki banyak pacar. Pacar yang selalu berusia jauh muda. Seperti pepatah "tua-tua keladi, makin tua makin menjadi".
Akhirnya sensualitas seks menghasilkan imaji tabu dalam pikiran kita. Imaji liar yang menjanjikan kenikmatan banal dan kepuasaan sesaat. Maka seperti biasa, ledakan hasrat itu, tuangkan dalam desah orgasme tabu pemikiran kita. Pahami kengerian seks yang terlembaga dalam media. Menjual sensualitas seks dalam barisan huruf dalam novel stensil, gambar molek tubuh wanita, atau sekedar film "handphone made". Dan saat kalian sadar, matikan film bokep di depan layar anda, kemudian lawan iblis kecil diantara selangkangan anda!!
Tag: jember, dhani, wacana, sekualitas
Terkait:
-
Kabar dari Plantarum
Jumat, 23 Jul '10 00:52 -
Kongres PPMI IX Mataram, dalam sebuah monolog.
Jumat, 9 Okt '09 16:09 -
Kultus Idola, mengupas pribadi yang memperngaruhi jutaan manusia
Senin, 5 Okt '09 23:44
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Biasa
-
Rizki: Bagus
-
JoyceKontraRevolusi: Bagus
Komentar:
kayak MUI aja kamu...
Silahkan login untuk memberikan pendapat