DIalektika diri, sebuah refleski pergerakan 7

Senin, 5 Okt '09 23:39

           Manusia adalah mahluk paling sempurna. Sejak penciptaannya jutaan tahun lalu perkembangan evolusi pemikiran dan fisik manusia sudah mencapai tahap yang mengagumkan. Charles Darwin dalam teorinya mengatakan bahwa hanya mahluk hidup terkuatlah yang akan bertahan hidup. Mereka yang lemah akan punah secara perlahan. Dominasi manusia atas mahluk hidup lain tidak lepas dari kemampuannya untuk berpikir. Pemikiran manusia terbentuk tidak serta merta terjadi secara instan. Ia mengalami tahapan-tahapan yang panjang. Dimulai dari rasa ingin tahu, rasa kagum, meragukan, mencari tahu kemudian mengerti. Hal itulah yang kemudian disebut sebagai sumber pengetahuan (Suparlan Suhartono Ph,D;2008).

Lanjut lagi menurut Suparlan Suhartono Ph,D dalam filsafat ilmu pengetahuan (2008). Sumber pengetahuan ada 4 hal yaitu; agama, kesaksian manusia lain, pengalaman inderawi dan yang terakhir adalah pemahaman lingkungan menggunakan akal. Keempat sumber pengetahuan tadi yang kemudian menghantarkan manusia menjadi mahluk superior melebihi hewan. Lalu mengapa kemudian pada perkembangannya banyak manusia yang tidak memanfaatkan pemikirannya secara maksimal? Apakah kenyamanan hidup dan perkembangan teknologi yang ada, membuat manusia menjadi manja dan malas?

            Pikiran yang tidak dimaksimalkan hanya akan membuat otak menjadi usang dan tidak berfungsi dengan baik. Rene Decartes kemudian berkata "cogito ergo sum" aku berpikir maka aku ada. Eksistensi manusia diukur dari pemikirannya, pandangan tentang realitas sosial disekitarnya, dan kemampuan untuk bisa memahami fenomena tersebut. Maka tak salah lagi proses berpikir yang dilandasi oleh pengetahuan haruslah mutlak dimiliki. Karena jangan sampai menjadi manusia yang hanya bisa "lontong diketok-ketok, isone ngomong tok" (lontong dipotong-potong bisanya hanya bicara. red).

            Albert Einstein menekankan pentingnya pemahaman keilmuan yang dilandasi oleh iman. Karena menurutnya ilmu tanpa iman bagai orang buta berjalan. Ia tidak akan memiliki pegangan yang kuat. Sejalan dengan pemikiran itu pemahaman atas realitas yang terjadi di Pers Mahasiswa perlu kita cermati secara cerdas. Sebagai pegiat Pers Mahasiswa Jurnalistik seharusnya keberlangsungan eksistensi diukur karya penerbitan. Namun karya tersebut hendaknya tidak asal terbit melainkan melalui proses berpikir yang cerdas, dialog panjang, diskusi dan membaca literatur-literatur dengan seksama. Jangan sampai karya yang diterbitkan bersifat opini tak berdasar atau dalam bahasa Muhammad Rosyidin "asumtif" belaka.

            Karya tulis yang tak berdasar fakta dan pemikiran yang jelas, merupakan suatu hal yang haram hukumnya. Selain tidak bisa dipertanggungjawabkan, isinya bisa saja menyesatkan. Karya tadi bisa disebut dengan karya sok tahu, menggurui dan sok pintar. Akibat yang paling fatal adalah jatuhnya kredibilitas Pers Mahasiswa tersebut. Bukan tidak mungkin kemudian persma yang tidak mampu menuliskan realitas secara benar dan argumentatif akan hancur dan tidak lagi dipercaya. Ukuran keberhasilan pers adalah mampu menyajikan realitas secara apa adanya, tidak berpihak dan mampu memberikan sebuah diskursus.

Disinilah pentingnya membaca dan proses diskusi keilmuan. Membaca merupakan proses penalaran terhadap teks yang kemudian diinternalisasi menjadi pemahaman terhadap pemikiran pengarang. Diskusi adalah ajang atau alat awal untuk menguji keabsahan dan validitas teori yang kita terima dari buku yang dibaca. Karena saat kita berdiskusi akan sering kita temui pemahaman, teori, dan paradigma baru yang menghancurkan pemahaman sebelumnya. Namun hal tersebut harus diperkuat argumen yang rasional dan empiris.

            Subjektifitas hendaknya diminimalisir semaksimal mungkin. Karena hal tersebut akan membuat kita menjadi tidak adil. Van Peursen menekankan bahwa subektivitas yang bersifat emosional seperti: cinta, benci, marah dan prasangka akan membuat pemikiran menjadi tidak objektif (Susunan Ilmu Pengetahuan;1985). Padahal objektifitas merupakan harga mati dalam dunia pers, idealnya begitu. Namun setidaknya kita bisa berpegang pada asas cover both side dalam menulis. Sehingga kemungkinan tulisan bersifat opini asumtif bisa ditekan. Secara intern seorang wartawan haruslah membiasakan diri dengan reasoning, berargumentasi dengan dirinya sendiri dan berpegang teguh pada nalar (A.M Dewabrata ; 2004).

            Raphael Samuel dalam The SDP and New Political Class mengkritik media yang hanya bisa menjual mimpi semu, kehidupan fantasi dan informasi rekaan yang merupakan harapan kaum borjuis. Koran kemudian menjadi sebuah salesman kaum borjuis dalam membentuk kesadaran kolektif masa untuk terus konsumtif dan berpikir tumpul. Tentunya sebagai persma yang sudah 14 tahun berdiri kita tidak mau jatuh akibat tulisan "remeh" dan tidak berbobot bukan? Sebagai persma kita harus dapat mengangkat berita bermutu, harus mengangkat persoalan masyarakat, menyiratkan aspirasi rakyat, dan harus memanusiakan manusia. Itulah yang ditekankan oleh Jakob Oetama Pemimpin Redaksi Kompas. Tentu anda semua heran melihat saya mengambil contoh yang terlalu jauh, standar yang terlalu tinggi atau apalah. Namun pada kenyataannya hal tersebut merupakan kondisi yang idealnya harus dicapai bukan?

            Maka dengan ini cobalah kita mulai reorientasi nilai keberadaan kita dalam rumah bernama PPMI ini. Jangan sampai pencapaian gemilang selama 14 tahun harus hancur oleh kita. Sudah saatnya kita bangkit berdiri memulai perubahan yang nyata. Cobalah dari hal yang kecil, mulai saat ini dan yang paling penting mulai dari diri sendiri. Karena jika kita hanya bisa memerintah tanpa memberi contoh, sama saja dengan membunuh kepercayaan atas kemampuan diri.

            Sedikit banyak tulisan ini merupakan refleksi kekecewaan penulis terhadap diri sendiri, yang tidak mampu memberikan hal baik pada Pers Mahasiswa. Dimana telah membantu saya menjadi sedikit bermanfaat seperti saat ini. Kecuali untuk membawa perubahan terbaik untuk Pers Mahasiswa, tidak ada tendensi apapun dalam tulisan ini. Jika anda merasa tersinggung, tercubit dan tersindir dengan tulisan ini. Maka sungguh, sungguh saya tidak peduli dan tidak akan minta maaf. Silakan balas dengan karya, sindir dengan karya dan terakhir : jawab dengan karya.

 

 


Tag: jember, ppmi, pergerakan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Rizki 1 suka | 0
[Karya tulis yang tak berdasar fakta dan pemikiran yang jelas, merupakan suatu hal yang haram hukumnya. Selain tidak bisa dipertanggungjawabkan, isinya bisa saja menyesatkan. Karya tadi bisa disebut dengan karya sok tahu, menggurui dan sok pintar. Akibat yang paling fatal adalah jatuhnya kredibilitas Pers Mahasiswa tersebut. Bukan tidak mungkin kemudian persma yang tidak mampu menuliskan realitas secara benar dan argumentatif akan hancur dan tidak lagi dipercaya. Ukuran keberhasilan pers adalah mampu menyajikan realitas secara apa adanya, tidak berpihak dan mampu memberikan sebuah diskursus]
Sepakat : )
Oo Zaki 0 0
Rizki: Kayak anggota dewan aja Ki..
Saya memberikan tanda petik pada "memberikan sebuah diskursus." Harus persma jauh melompati itu menuju "mampu merebut diskursus.," bukan hanya memberi. Gimana? : )
Rizki 0 0
Oo Zaki: Sekarang teman2 banyak yang merebut itu kawan zaki, lebih merebut ijazah dan gelar : D
Oo Zaki 0 0
Rizki: Yup. Tapi baru sepiring diskursus, ayo tambahkan lagi..: )
si berang-berang 0 0
gak lah,
sudah terlalu lama kita mencoba "merebut"...
saatnya kita memberi.
karena diskursus bukan adalah (dalam bahasa Habermas), komunikasi antar-anggota masyarakat yang berdasarkan pada solidaritas demi dunia-kehidupan..
jadi, saatnya memberi, bangun, dan kerjakan!
tapi jangan lupa,
d discourse is always interpretation of d world, not d world itself..
kekekekeke.....
Arista Punggawae 0 0
Tujuan utama menulis bukan untuk mempengaruhi khalayak pembaca tetapi sebenarnya untuk mengungkapa trealita yang ada.
si berang-berang 0 0
emang bisa realita diungkap? deja vu donk??
trus kalo realitanya sudah terungkap gimana?
pensiunkah kita??

Silahkan login untuk memberikan pendapat