Agent of Change? Telah Pensiun 1
Senin, 5 Okt '09 22:12
"Perjuangan kita menjadi semacam perjuangan yang emosional dan sloganistis!"
(Ahmad Wahib)
Sabtu tanggal 2 Mei 2009, sembilan orang mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) melakukan mogok makan. Mereka adalah aktifis (jika boleh saya menyebutnya demikian) dari sebuah organisasi ekstra kampus UB. Mereka melakukan aksi tersebut bukan untuk gaya-gayaan, setidaknya itulah yang mereka anggap bisa dilakukan untuk menyatakan kepedulian terhadap kondisi pendidikan di Indonesia.
Mungkin mereka adalah sedikit dari kebanyakan mahasiswa di Indonesia yang kebetulan masih peduli dengan pendidikan bangsa ini. Pernyataan saya sebelumnya ini subjektif, premis nya ngawur, postulatnya tidak jelas dan yang pasti lemah di pembuktian. Mengapa demikian? Karena memang hal itu adalah sebuah kesimpulan awal saya atas diskusi yang telah diadakan oleh Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) tentang pendidikan. Diskusi yang tepat dilakukan pada hari yang sama dengan mahasiswa UB melakukan aksi mogok makan.
Malam itu dingin sekali, bahkan dengan 2 jaket yang saya pakai tidak mampu meretas hawa dingin yang ada. Adalah Qomar, kawan saya dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang menggagas acara diskusi itu. Saat itu ada 12 orang mahasiswa termasuk saya yang datang berdiskusi. Mereka datang dari berbagai LPM di Jember. Seperti LPM UMJ dari Universitas Muhammadiyah Jember (UMJ), LPM Prima dari FISIP Unej, LPM Plantarum Faperta Unej, LPM IDEAS Fakultas Sastra Unej dan UKPKM Tegalboto Unej.
Bertempat di warung kopi di dekat gedung DPRD Jember, kami berkumpul membicarakan tentang Hari Pendidikan Nasional. Kebetulan yang sedang sial menjadi moderator pada saat itu adalah saya. Pembicaraan saya mulai dari apa arti penting pendidikan bagi kita. Apa yang kemudian mendorong seorang individu itu untuk menuntut ilmu? Melalui itu kami mencoba merekonstruksi tujuan dan cita-cita filosofis dari pendidikan.
Bukanlah pekerjaan mudah untuk melakukan itu semua. Karena latar belakang kami sangat berbeda. Mulai dari pola pikir, lingkungan, didikan orang tua dan tentunya teman nongkrong kami sekalian. Menyatukan beberapa pemikiran dalam satu tema, mencari intisari pemahaman bersama dan membuat sebuah strategi pemecahaan permasalahan bersama. Senang rasanya duduk ngopi bersama jiwa-jiwa muda yang masih ada sedikit jiwa kritis.
Saat itu kami duduk diatas matras bekas poster caleg, ditemani sepiring mi goreng dan segelas kopi. Teman-teman yang lain rupanya mengekor, memesan masing masing kopi dan teh hangat. Bukanya apa-apa, saya selalu yakin tak baik berpikir saat perut kosong, maka dimulailah diskusi malam itu dengan perut berisi.
Seorang teman memulai dengan agitasi awal, dengan mempertanyakan posisi mahasiswa terhadap permasalahan sosial yang ada. Permasalahan seperti Badan Hukum Pendidikan, kenaikan harga BBM, politik uang, terorisme, kemiskinan dan mutu pendidikan Indonesia. Dialektia mulai memanas, para peserta diskusi ada yang menjawab sibuk pacaran, ada yang menjawab sudah gak zamannya lagi mahasiswa turun ke jalan, ada yang menjawab kurang paham permasalahan, dan yang menyedihkan ada yang menganggap hal itu tidak penting.
Sebuah keadaan yang miris, malam itu saya teringat dua tokoh mahasiswa yang pernah mengguncang Indonesia dengan pemikirannya yang gemilang. Adalah Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie yang sampai akhir hayatnya lebih memilih busuk dan diasingkan dunia. Diasingkan bukan tanpa alasan, mereka adalah replika mahasiswa yang berperang melawan kemunafikan, memburu kebenaran, berpihak pada hati nurani dan mempertanyakan kekuasaan! Bukan sekedar perlawanan buta tanpa tendeng aling-aling. Perlawanan yang lahir dari pergulatan membaca ratusan buku, ratusan forum diskusi dan ratusan karya tulis.
Sebuah inspirasi yang saya harapkan bisa menular pada jiwa muda nan kreatif yang membaca tulisan ini. Diskusi malam itu berakhir dengan kemarahan. Memang itulah tujuan saya, bukan kemarahan yang meledak-ledak. Tetapi lebih pada bentuk kemarahan pada keadaan, kemarahan pada ketidakmampuan diri, dan kemarahan pada keapatisan diri yang tidak mau peduli! Saya mengaharapkan sebuah ledakan kemarahan yang kreatif! Kemarahan yang mampu membakar jiwa-jiwa muda tadi untuk lebih banyak membaca, lebih banyak diskusi, lebih banyak peduli dan lebih banyak bertindak untuk sekitarnya.
Sekali lagi hanya untuk mengingat dan mengenang. Adalah Raden Mas Tirto Adhi Soeryo yang semasa hidupnya adalah seorang jurnalis yang jungkir balik membela kepentingan rakyat Hindia (Indonesia pra kemerdekaan.red). Menuliskan begitu rupa kritik kepada Gubernur Jendral saat itu demi membela kepentingan rakyat Indonesia yang tertindas. Ia menyuarakan para liyan yang ditindas, memperdengarkan penindasan, dan merongrong tirani. Melalui Medan Prijaji ia keras bersuara dan dengan lantang menolak ditundukan dengan kekuasaan.
Lalu siapkah anda sekalian para sahabat-sahabat baruku? Siapkah menjual sekeping jiwa muda anda dijalan perjuangan? Bukan harga yang murah, karena kesulitan akan menghadang anda. Kesulitan seperti telat lulus kuliah, menjadi kaum minoritas, ga laku pacaran, ga gaul, dianggap aneh dan tentu saja harus siap susah. Bukan menakut-nakuti hanya sekedar menteror nurani anda. Jadilah mahasiswa yang baik, pergi kuliah, ke perpustakaan, pacaran, gaul, dan berdandanlah! Karena semua tetek bengek status mahasiswa sebagai Agent of Change itu cuma omong kosong! Agent of Change sudah lama pensiun![]
Tag: Pendidikan, BHP, Arman dhani, Tegalboto, jember
Terkait:
-
Launching Majalah Mahasiswa UKPKM Tegalboto
Senin, 5 Okt '09 22:29 -
Setelah UU BHP Tidak Ada Lagi
Minggu, 25 Apr '10 04:52 -
Triumvirate
Rabu, 10 Mar '10 17:17
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Perlu
-
Rizki: Perlu
-
Fandy Lasinrang: Perlu
-
FF Haq: Bagus
-
Wahyu Eko P: Bagus
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat