Kapitalisasi Tubuh (Perempuan) 4

Minggu, 4 Okt '09 01:39

Bersama Artitik Dyah Ikhsanti, Jumat malam, digelar sebuah diskusi di Sekretariat LPME Ecpose Fakultas Ekonomi Universitas Jember (Unej). Tema yang diangkat adalah "Tentang Tubuh dan Pasar." Meski hanya belasan kepala yang hadir, tukar menukar ide dan pendapat tetap mewarnai diskusi malam itu.

Diskusi dimulai pukul 19.30 WIB, lebih sedikit. Padahal di undangan tertera tegas pukul 19.00 WIB. Entahlah. Barangkali karena jam kami tidak sama. Seringkali tidak sama.

Mbak Diah, begitu kami menyapa, mulai membuka diskusi.

Tebak, selain pakain, sepatu, celana (dalam), pelembab, dan parfum yang sesekali kita semprotkan, apa lagi yang sedang beroperasi pada tubuh? Jawabannya adalah pasar! Turut beroperasinya mekanisme pasar pada tubuh selama ini lebih kentara terjadi pada tubuh perempuan. Lantas, kenapa harus pada tubuh perempuan? Apakah karena tubuh perempuan lebih mulus daripada laki-laki, sehingga lebih laku di "pasaran?" Jawaban pertama, karena perempuan dianggap sebagai makhluk nomor dua. Hhmmm, yang ketiga tetap setan.

"Dalam hal ini, perempuan dijadikan obyek," ungkap Mbak Dyah. "Lihat saja iklan yang mampang di layar televisi anda atau di koran, yang dominan jadi bintang iklan berasal dari kaum Hawa."

Di lain sisi, tubuh juga bisa dijadikan perangkat untuk ungkapan kesesalan, tidak menerima apa yang mereka inginkan. Seperti yang dilakukan Madona era 80-an. Madona kesal pada penguasa yang membatasinya, juga teman sejenisnya untuk berekpresi. Ia berontak dengan berpenampilan seksi di depan publik, sampai-sampai, hampir seluruh penduduk Eropa waktu itu meniru apa yang Ia lakukan. Sebuah ungkapan, yang juga membawa konsekuensi besar bagi zamannya.

Di Indonesia lain lagi ceritanya, dari aktris Agnes Monica sampai Tiga Diva (Titi DJ, Krisdayanti, Utek ) sulit sekali menemukan gerakan yang berbau kebebasan perempuan. "Sikap dan laku" tubuh mereka hanya mengikuti aturan main pasar. Pada titik inilah tubuh berhasil diringkus oleh kuasa pasar. Bagi Agnes dan Tiga Diva, hal itu merupakan sebuah keuntungan tak ada duanya. Persoalan masyarakat luas, yang terkecoh dan  berpotensi mengikuti berbagai penampilan dan gaya hidup yang mereka anut (tanpa peduli dengan substansi), bagi mereka adalah hal lain. Masyarakat dipaksa untuk memahami sesuatu cukup dari citra (an) visual. Senada dengan Faucault, yang meyakini betapa tubuh (perempuan) sering kali dimanfaatkan untuk menghipnotis pasar agar suatu produk yang ditawarkan mendapat lebih banyak pembeli.

Di samping banyak membicarakan kebebasan perempuan atas cengkraman pasar, Mbak berkerudung kelahiran Merauke, 16 April 1986 ini juga menyinggung fungsi dasar manusia menutupi tubuhnya dengan pakaian. "Sebenarnya meski kita tak pakai baju, tiada masalah," kata Mbak Dyah. Sontak sebagian peserta menganga memperhatikan, "Alamak, wah, jangan dibayangkan ya," canda Mbak Dyah seraya tersenyum simpul.

Alasan kuat kenapa Mbk Diah berujar begitu, ternyata bukan soal tabu, bukan juga karena sifat malu. Nyatanya pakaian ada karena masyarakat, demikan juga rasa tabu dibentuk oleh masyarakat. Maka masyarakatlah yang perlu diluruskan pemahamannya tentang pakaian. Sebab kini, masyarakat- individu yang ada di dalamnya, memaknai pakaian lebih dari upaya menutupi tubuh -pakaian dijadikan cara mempercantik diri secara berlebihan. Individu yang demikian seakan melupakan fungsi pakaian sesungguhnya.

Jika hari ini kita berasumsi bahwa tubuh perempuan dan pasar sesungguhnya adalah dua entitas yang memiliki ruang dan batas tersendiri, maka besok pagi, ketika melihat televisi, asumsi tersebut dengan sendirinya akan patah. Karena ruang dan batas dua entitas tersebut, entah sejak kapan, saling memasuki satu sama lain. Jangan coba katakan lagi bahwa tubuh perempuan adalah ruang privat, sebaliknya, pasar bukan semata-mata ruang komunal tempat interaksi ekonomi berlangsung. Ketika melihat ragam fenomena, tepat di depan mata kita, pasar dan tubuh perempuan telah mengalami reposisi; tubuh perempuan menjelma ruang publik, dan pasar bergerak menjadi ruang sangat pribadi. Dalam "libidoeconomics," demikianlah relasi dua entitas tersebut.

Sekali lagi, kenapa harus tubuh perempuan? Jawaban kedua, karena diskusi jumat malam itu tidak membicarakan tentang tubuh laki-laki, Haha. Ketiga, karena kita (tiba-tiba) lupa menghayati satu baris Gazal Rumi, bahwa "tanpa jiwa, kita hanyalah sebuah tubuh!" Untuk itu perempuan semestinya harus merebut kembali jiwa- yang dipenjara oleh pasar -di dalam tubuhnya sendiri [Hari Wibowo, Oo Zaki]


Tag: kapitalisasi, Iklan, Perempuan, Tubuh

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

ndableg tenan 0 0
Eh, Faucault itu siapa ya? sjk kapn Madonna jadi Madona? hihihi
Left 0 0
wiii....ilustrasinya handal x) *tumbs up*
Tatu 0 0
istighfirlii...
Semburat Jingga 0 0
Tulisan ini yang membuat aku selalu ingat sore itu, ketika Mas Zaki, Mas Rizky dan Mas Qomar datang dan mengabarkan "masih ada sudut ruang dan waktu untuk bahagia".....

Silahkan login untuk memberikan pendapat